Antara Social Distancing dan Physical Distancing

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. Foto/Ilustrasi/Pixabay
- Advertisement - jd

Penulis: Afifah Lania Sihotang

Mulai Januari 2020, Corona Virus Disease 19 (Covid-19) mulai terdengar di Wuhan, China untuk pertama kalinya. Covid-19 bukanlah penyakit dari virus jenis baru namun, merupakan penyakit dari virus yang bermutasi yaitu Corona. Corona adalah virus yang menyebabkan infeksi pada pernapasan seperti SARS, MERS, dan Pneumonia. Covid-19 pertama kali dideteksi oleh dr. Li Wenliang pada Desember 2019 lalu. Bahkan, ia sudah mengingatkan pemerintah Wuhan tentang wabah Covid-19 ini. Sayang, niat baik untuk mengingatkan dianggap menyebarkan kebohongan dan sengaja membuat panik warga Wuhan saat itu. Diketahui, patient zero atau pasien nol yang pertama kali terinfeksi adalah seorang pria berusia 55 tahun asal Provinsi Hubei, China.

Peringatan dokter tidak diindahkan sampai di awal Januari, virus ini mulai menyebar begitu cepat, sampai-sampai Wuhan sendiri tak mampu mengatasinya karena, kurangnya tenaga medis dan sangat cepatnya penyebaran virus ini. Mulai bermunculanlah berbagai dugaan dari mana asal virus yang biasanya hanya ada di hewan ini, virus ini diduga berasal dari salah satu Pasar Hewan Ekstrim di Wuhan. Tak hanya itu, berbagai teori konspirasi mulai bermunculan seiring pesatnya pertambahan korban Covid-19, ada teori yang mengatakan penyakit ini disebabkan oleh kebocoran laboratorium yang sedang meneliti terkait Corona, ada juga mengatakan virus ini sengaja disebarkan di China untuk mengurangi populasi warga China yang terlalu banyak, dan teori-teori lainnya.

Karena penyebaran virus ini tidak bisa dibendung lagi, Pemerintah China bergerak cepat melakukan lockdown negara, agar virus ini tidak tersebar lebih luas. Nyatanya Covid-19 ini sudah menyebar ke hampir seluruh dunia. Tak sampai di situ, Pemerintah China juga bergerak cepat dengan membangun rumah sakit hanya dalam dua hari, tenaga medis di China juga berlomba-lomba menjadi relawan untuk memerangi virus ini. Dalam beberapa minggu setelah lockdown, pasien yang positif sudah mencapai ratusan ribu, penyebaran tidak bisa ditekan hingga oragnisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi dan mengimbau untuk mejaga jarak fisik dengan orang atau Social Distancing.

Social Distancing adalah upaya untuk penekanan penyebaran penyakit berbahaya ini dengan memutus mata rantai penularan, menekankan kepada seluruh dunia yang terjangkit Covid-19 menerapkan ini di negaranya, mengimbau warganya untuk menjaga jarak antar warga, tidak membuat suatu perkumpulan, dan berdiam diri di rumah. Namun, perintah ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus dipatuhi. Seperti Italia, pemerintahnya memerintahkan warga untukm melakukan Social Distancing tetapi, rakyatnya terlihat santai merespons perintah tersebut, masih berkumpul, berpesta, dan lainnya. Hal ini membuat pertumbuhan Covid-19 di Italia menyebar pesat, dalam sehari 700 pasien positif Covid-19 meninggal dunia.

Tidak hanya Itali yang mengganggap perintah ini remeh, di beberapa negara yang sudah terkena wabah Covid-19, termasuk Indonesia. Melihat hal ini, WHO mengeluarkan imbauan baru dengan mengganti Social Distancing menjadi Physical Distancing. Dilansir dari kompas.com, WHO secara resmi menganjurkan mengganti penggunaan frasa “Social Distancing” menjadi “Physical Distancing” per Jumat (20/3). Alasan penggunaan frasa ini adalah untuk mengklarifikasi bahwa ada perintah untuk berdiam diri di rumah demi mencegah Covid-19. Namun, bukan berarti memutus kontak dengan teman atau keluarga secara sosial.

Perubahan ini dianggap bisa lebih dimengerti oleh seluruh warga dunia, bahwa fisik kita dengan orang lain yang diperintahkan untuk tidak berdekatan, bukan memutus hubungan sosial. Mungkin saja, selama ini warga berpikir bahwa perintah meminta warga untuk memutus hungungan sosial, ‘bukan memutus kontak fisik sementara atau menjaga jarak’. Maka, masih banyak yang susah diberithu dan tetap nekad mengadakan perkumpulan.

Meskipun sampai saat ini penyebutan Social Distancing masih lebih populer. Namun, sebenarnya perintah yang sudah dikeluarkan WHO adalah  pemerintah Physical Distancing. Menjaga jarak fisik sementara antara orang satu dengan lainnya. Tidak mengadakan pertemuan-pertemuan besar, bahkan di Indonesia perintah Work From Home (WFH) sudah diberlakukan untuk menekan penyebaran virus Corona.

Di Indonesia, perintah Physical Distancing ini mulai dipantau dengan serius. Pemerintah sudah menyiapkan hukuman tegas bagi mereka yang masih tidak perduli terhadap perintah yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk kepentingan bangsa dan negara. Sebagai warga negara yang baik, penulis mengajak seluruh permbaca untuk mengindahkan perintah Physical Distancing ini hanya untuk sementara, sampai dunia kembali aman dan wabah Covid-19 berhasil ditekan dan menghilang. Jika tidak mengikuti perintah yang mudah ini, bisa-bisa Covid-19 tidak akan pernah hilang dari dunia. Bukan hanya Indonesia.

Editor: Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles