Apa Salah Merindukanmu Ibu?

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Ditanti Chica Novri
- Advertisement - jd

Penulis: Kana Rizky Ramadhani

Siapa sangka, pada Minggu 26 Januari 2020 lalu, tepat di pukul 11.30 WIB semua berubah. Sebuah kejadian yang sama sekali tak terbayangkan membuat diriku harus kehilangan seorang yang selama ini menjadi orang yang kusayang di dunia ini. Tiba-tiba saat itu, aku mengalami kecelakaan dan sedang berboncengan dengan ibuku.

Kecelakaan yang terjadi kepadaku itu membuat jiwa ibuku tak lagi berada di dalam raganya. Sakit yang kurasakan ketika itu bukanlah sakit pada diriku yang terkena banyak luka. Sakit yang kurasakan saat memikirkan, “Ibuku mengapa engkau pergi secara tiba-tiba dan seperti ini?.”

Tak terhitung lagi pengorbanan yang engkau berikan. Begitu banyak kasih sayang tulusmu, begitu banyak pula canda tawa, nasihat yang engkau berikan kepadaku demi menghiburku di kala aku bersedih. Hanya kepada seorang ibulah tempat kita mengadu. Segala hal cerita, bahkan ibuku terkenal dengan seorang yang sering memberikan nasihat.

Namun. Siapa sangka, rencana Allah berbeda dengan yang kita inginkan. Bagaimana bisa, ia mengatur rencana sedemikian rupa hingga sedetik ke depan pun kita tak mengetahuinya. Padahal ibuku tidak ada riwayat sakit, apapun itu. Dia sehat, bahkan kami berbicara santai di perjalanan. Tapi begitulah Allah ketika dia sudah berhendak, semua akan terjadi. Termasuk kepergiannya.

“Kami sayang sama ibu,” hatiku yang ikut merintih bersedih.

Ternyata, Allah lebih paham rencana untuk mendewasakan diriku. Allah lebih sayang dengan ibu. Allah akan mendidik ku menjadi wanita yang lebih kuat dari ini. Meski tangisku runtuh hingga tiada henti lagi air mata yang jatuh, sepertinya hatiku sudah benar-benar remuk hingga tak lagi berbentuk.

Baca juga: Pemkab Labuhanbatu Jalin MoU dengan UIN SU

Semua terjadi begitu saja. Bahkan diriku menyangka hal itu adalah mimpi. Namun kenyataannya adalah aku terbangun dalam setiap detik tragedi. Aku yakin, setiap ibu mempunyai pengorbanan yang luar biasa bagi anak-anaknya, termasuk ibuku. Dia akan berkorban apapun demi melihat anaknya bahagia, sehat, bahkan harus merelakan hartanya demi anaknya sukses di masanya.

Siapa yang hatinya tak hancur, raganya hingga jiwanya lebur jika seorang yang aman kau banggakan, yang amat kau sayangi, yang menjadi tempatmu memahamkan arti untuk menjadi wanita yang kuat. Pergi, Tak searah lagi.

Ibu, aku tau, semua yang engkau lakukan itu semua demi kita, keluarga. Meski aku merasakan sesak yang mendalam, sesal yang begitu dasar, tapi aku masih belum bisa membahagiakanmu ibu. Ini masih jauh dari kata membalas semua yang telah engkau berikan kepada ku. Yang biasa aku lakukan selama ini hanya membantu pekerjaan rumahmu, yang tak bisa dinilai sebanding dengan apa yang engkau berikan kepada kami selama ini, anak-anakmu.

Meski aku sebagai anak pertama yang sering mengeluh, tapi ibu, dirimu paham caranya menenangkan hati anak gadismu ini. Sekarang, aku merasakan betapa artinya pertanyaan pergi berjauhan denganmu. Hatiku bertanya-tanya, “Mengapa dulu aku tak melakukan semua yang engkau perintahkan. Meskipun hanya untuk mengikutimu berbelanja, membersihkan rumah, dan melakukan hal-hal kecil yang sudah membuat dirimu bahagia,” Aku merasa salah bu.

Terlalu banyak kenangan dari kata-kata mu yang sampai saat ini masih terdengung di telinga ku bu. Terlalu banyak canda tawa yang pernah menghiasi rumah kecil kita. Terlalu banyak rindu yang sampai saat ini aku ingin akhiri dengan berpelukan denganmu. Lalu meminta maaf atau menangis di pangkuanmu.

Aku ingat satu pesanmu,”Agar semua anak-anakku bisa sekolah sampai ke jenjang yang tinggi.” Kalimat sederhana yang membuat seisi rumah paham untuk terus berusaha mewujudkan keinginanmu itu. Makna yang membuat dirimu bekerja keras lebih dari biasanya.

Ingin aku berbakti lagi pada mu, tapi kehendak sudah tercatat di garis kehidupan ini. Aku menangis menuliskan ini, sakit sedalam-dalamnya sakit. Karena kehilangan pengabdian terbesarku untuk membahagianmu.

Tak bisa kubayangkan di malam berikutnya tanpa adanya tawamu bu. Tanpa adanya panggilan halus yang sering membuatku rindu, semakin merindu. Jika ada waktu lain yang bisa membuat kita bisa berbagi cerita dengan bangga, tempat itu hanya ada di dalam doa-doaku bu.

Baca juga: Mendikbud Ingin Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Pengantar di Asia Tenggara

Ibu juga tau, aku ini anak yang periang. Setiap hari aku akan menceritakan hal-hal apa saja yang kulewati kepadamu. Apa aja. Dan engkau menjadi rumah yang bisa membuat suasana menjadi penuh tawa dan canda. Selalu kuingat bagaimana senyum itu terukir dalam garis-garis kulitmu.

Dan pesan lain yang kuingat, “Kak kalau ada masalah jangan pernah lari dari masalah itu. Hadapi dengan rasa penuh tanggung jawab.” Mengingat itu, aku ingin sekali lagi mendengarnya bu. Tapi dengan dirimu tetap di samping ku dengan selalu menguatkan ku. Aku janji akan melaksanakan apa yang engkau pesankan buk. Bantu aku untuk berdiri kembali ketika kaki ku terlalu kaku untuk melangkah. Dimana pun engkau, tetap perhatikan aku dan juga adik-adik.

Meski terkadang aku merasa seperti, “Apakah aku anak yang paling jahat dengan orang tuaku, sehingga ibuku harus diambil.” Tapi itu malah membuat penyesalan semakin memperburuk keadaanku. Justru aku harus bangkit, bangkit dari takdir yang akan mengubah sebagian besar hidupku ini. Dan esok bu, aku janji akan terus tersenyum. Doakan aku dari sana bu, ada adik-adik yang ingin kubahagiakan, dan juga ayah. Jangan takut, sekarang kami sudah mulai baik. Semoga kita bisa bertemu kembali ya bu. Kana sayang ibu.

Editor : Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles