Buffalo Boys: Koboi Cita Rasa Lokal

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: IMDb
  • Judul : Buffalo Boys
  • Rating : 7.7
  • Genre : Fantasy, Action
  • Sutradara : Mike Wiluan
  • Rilis : 19 July 2018
  • Pemeran : Ario Bayu, Pevita Pearce, Yoshi Sudaso, Tio Pakusadewo, Happy Salma, Zack Lee, Hannah Al Rasyid, Mikha Tambayong, Alex Abbad, Donny Alamsyah
  • Studio : Infinite Frameworks

Peresensi : Muamar Sidik Utomo

Sebuah film tentang kisah tiga pribumi, duokakak-beradik Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yosi Sudarso), serta paman mereka, Arana (Tio Pakusadewo) yang setelah beberapa dekade diasingkan di Wild West Amerika, mereka pulang ke Jawa untuk membalas dendam atas pembunuhan ayahnya, seorang sultan, yang dilakukan oleh Van Trach, Kompeni Belanda yang saat ini memerintah dengan sangat kejam di Pulau Jawa. Mereka bertemu dengan sekelompok penduduk desa yang melawan penguasa asing dan berusaha untuk membawa keadilan ke wilayah tersebut.

Film ini berada di ranah drama sejarah pada zaman penjajahan dengan penggabungan unsur fantasi, yang mengambil secuil kisah lampau bangsa kita yang tak tau kapan tepatnya. Itu berarti kita kembali diingatkan jika film ini merupakan perpaduan fakta dan fiksi yang kuat. Namun, segalanya tidak nyeleweng jauh pada kenyataan, tampilan yang tersaji justru benar-benar realistis. Film ini menawarkan sense bahwa masih ada pahlawan dan perlawanan demi kemerdekaan.

Kehadiran film aksi di Indonesia sering digabungkan dengan genre lain, seperti komedi dan drama, jarang sineas yang membuat film aksi campur dengan fantasi. Sineas asal Singapura, Mike Wiluan dan tim berani mengambil langkah yang unik tersebut. Tidak menjadikannya sebagai film sejarah yang berjalan menjemukan dengan plot yang mengalur lambat, Mike menamba kadar aksi dan laga dengan memasukkan sentuhan ‘western’ dengan cita rasa lokal.

Bufafalo Boys menampilkan visual yang memanjakan mata para penikmat film koboi. Nuansa abu-abu yang indah bikin film ini terasa film Hollywood yang sama sekali tidak menampilkan kesan murahan. Semua tervisualisasikan seolah nyatanya tanpa reka. Cara pengambilan gambar juga digarap rapi, adegan pertarungan di sini tidak dirangkai dengan asal-asalan dan penambahan efek suara ‘cheesy’ khas sekuen keroyokan dalam sinetron Indonesia dengan penataan musik latar yang apik sekaligus menambah kesan ‘epic’ dalam tiap pertarungannya.

Tidak hanya visual yang punya standar Internasional, sebagian besar elemen dalam film Buffalo Boys juga rasa global. Seperti koreografi pertarungan dirangkai halus, dilaksanakan oleh para ‘cast’ dan ‘stunt’, bersama kostum dan tata rias serta set pembangunan studio yang pas. Sehingga  membanggkitkan jiwa lokal ‘Buffalo Boys’ dengan menempatkan kualitas aspek teknis perfilman Indonesia pada titik tertinggi. Titik saat sineas-sineas Indonesia lain akan memahami bahwa pentingnya  aspek-aspek tersebut dalam memberikan ‘feel’, khususnya dalam film historis, bagi penontonnya.

Secara keseluruhan, Buffalao Boys menceritakan kisah universal tentang cinta, kehormatan, kebencian, balas dendam, dan harapan. Meski pada akirnya dijejali berbagai elemen klise dan tidak memberikan hal baru, “Buffalo Boys” tetap merupakan haturan para produser Indonesia yang dibutuhkan saat ini dengan sekuen klimaks yang sulit terlupakan. Sebuah film yang pantas menjadi pelopor dan legenda, akan dikenal layaknya cerita rakyat yang tidak pernah mati dituturkan dari generasi ke generasi.

Editor : Iin Prasetyo

- Advertisement -

Share article

Latest articles