
- Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
- Penulis : Tere-Liye
- Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit : 2016
- Tebal : 299 halaman
Peresensi : Devi junita sari
Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya. Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.
Pagi ini ayah dimakamkan. Aku tidak pernah melihat keramaian seperti ini sebelumnya di kota, mengalahkan kejuaraan nasional renang, festival kembang api, bahkan tur sang Kapten dulu puluh tahun silam. Dam adalah seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana dan bersahaja. Ia dibesarkan oleh dongeng-dongeng ayahnya. Ayahnya terkenal terlalu jujur. Dan dongeng-dongeng itu bercerita tentang perjalanan ayah mencari makna bahagia yang ada di dunia ini.
Terdapat banyak tokoh-tokoh dalam novel ini salah satu adalah Dam, dia adalah tokoh utama dalam novel tersebut. Dam adalah seorang laki-laki yang dibesarkan oleh keluarga yang sederhana dan keluarga kecil. Dam tumbuh dewasa dengan dongeng-dongeng tentang perjalanan hidup sang ayah yang menarik. Dam adalah tipe orang yang pantang menyerah dan sangat menghargai setiap detik kehidupannya. Dia adalah anak tunggal yang sangat mencintai ibunya. Dam kini berusia 40 tahun dan telah memiliki keluarga kecil sendiri dengan seorang istri dan dua anak yang sangat dicintai.
Novel yang memiliki tebal 299 halaman menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Hingga bertumbuh dengan cara berpikir yang berbeda dibanding anak lain. Inilah kisah tentang hakikat kebahagian sejati. Dongeng-dongeng tersebut diceritakan oleh ayahnya sendiri, namun dongeng-dongeng kini telah membuat dia telah membenci ayahnya sendiri.
Novel ini sangat layak untuk dibaca semua orang, baik dalam kalangan penikmat novel atau bukan. Karena di dalam novel ini memaparkan bagaimana kita harus menuntut ilmu, bersikap baik kepada kedua orang tua dan berbuat baik yang kita kenal maupun tidak kenal, kita harus menghargai semua orang. Pada awal itu, cerita novel ini biasa-biasa saja, namun seiring dengan berjalannya cerita, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Novel yang begitu mengharukan.
Kelebihan dari novel ini Ayahku (Bukan) Pembohong yaitu isinya membuat kita perlu memperbanyak kecintaan kita pada keluarga dan terutama pada ayah. Dan juga terdapat kata motivasi-motivasi dan inspirasi yang akan membuat pembacanya termotivasi dan terinspirasi.
Untuk membuat hati kita lapang dan dalam, tidak cukup dengan membaca novel, membaca buku-buku, mendengar petuah, nasehat. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam adalah hal yang begitu menyenangkan. Ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup dan melewati hari-hari berjalan bersama keluarga tercinta.
Editor: Amelia Pratiwi

