
Peresensi: Mahmudi
Darno mengendarai sepeda motornya menuju rumah Mbah Karsono di Dusun Rojoalas untuk melakukan pendataan. Tujuannya agar Mbah Karsono memiliki KTP dan bisa mendapatkan Kartu Sehat Manula. Jadi, kalau suatu saat Mbah Karsono mau berobat, biayanya ditanggung pemerintah.
Nah, masalah muncul saat hendak mengisi kolom agama. Raut muka Darno tampak bingung saat Mbah Karsono menyebut agamanya Kejawen. Di blangko formulir yang ia bawa, hanya tersedia enam kolom agama. Ia pun menawari Mbah Karsono untuk memilih opsi yang lain, toh ini hanya untuk persyaratan. Tapi Mbah tetap enggan sambil menunjuk jarinya ke atas mengucapkan “Manunggaling Kawula Gusti”.
“Begini saja mbah, kalau saya tulis Islam saja bagaimana?” bujuk Darno.
“Weh, ya ojo. Aku kan ndak tau salat”.
“Waduh, kok sama seperti saya,” jawab Darno.
Bahkan, hingga dibujuk Nunung dan Pak RT si Mbah tetap menolak.
“Piye Pak RT?” tanya Nunung.
“Lha, kok nanya balik. Bagaimana mas?” pak RT bertanya ke Darno.
“Pripun iki mbah?” Darno kembali bertanya kepada Mbah Karsono.
Nunung pun akhirnya meminta pendapat Pak Karso (Ketua Badan Musyawarah Warga), hingga Mbak Sumirah, Mbokde Narti, Joni, Susi Parabola, Mbak Sri Krebo sampai seluruh warga dikumpulkan.
Singkat cerita, Mbah Karsono tidak jadi buat KTP. Alasannya, warga menghormati kepercayaan Kejawen Mbah Karsono. Warga dan Mbah Karsono tidak mau gara-gara KTP, kepercayaan pun tergadaikan. Bila Mbah Karsono sakit, warga rela menanggung biayanya.
Itulah ringkasan film pendek berjudul KTP, kocak sekaligus penuh kritik. Film berdurasi 15 menit produksi Asa Film ini mendapat Juara I Kategori Umum Festival Video Edukasi (FVE) 2016.
Film KTP mengkritik birokrasi pelayanan publik yang masih pilih kasih kepada penganut penghayat kepercayaan seperti Mbah Karsono. Sebelum adanya Keputusan MK pada 7 November 2017 kaum penghayat masih kerap mengalami keterbatasan akses dalam pelayanan publik karena terbentur urusan administrasi. KTP menjadi syarat bagi warga miskin untuk mendapatkan pelayanan. Tetapi, pembuatan KTP itu sendiri juga menjadi sumber masalah. Dilematis.
Oh iya, di awal film juga ada adegan Nunung mengembalikan palu dan arit milik Mbah Karsono. Menurut penulis, ini adalah cara film KTP menggambarkan fobia orang Indonesia kepada ideologi komunisme yang dianggap tidak punya agama. Orang yang menganut kepercayaan selain enam agama mayoritas di Indonesia sering dituduh antek-antek PKI. Menurut saya lho ya.
Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

