
- Judul Asli : Fityatun Amanu bi Rabbihim
- Penulis : Dr. A’idh Al-Qarni, M.A
- ISBN : 978-979-039-108-6
- Tebal Buku : 344 halaman
- Penerbit : AQWAM
Peresensi : Putri Oktavia
Dilihat dari judulnya saja kita sudah tau bahwa buku ini mengajak para pemuda untuk melakukan hal-hal produktif dan manfaat saat masih muda. Masa muda adalah masa yang sangat bernilai bahkan tidak tergantikan juga tidak akan berulang. Segala potensi, visi, dan misi juga bakat masih menggebu-gebunya ingin direalisasikan. Dalam perjalanan masa muda inilah seseorang mulai mengalami kejadian, pengalaman, proses berpikir, kematangan emosional, mulai mengerti, dan perduli dengan hal-hal kecil dan tanggung jawab.
Ada yang mengatakan berpikir di pagi hari, bekerja di siang hari, serta istirahatlah di sore dan malam hari. Maksud dari perkataan ini adalah berpikirlah ketika kita masih muda, belum banyak tanggungan dan lebih bisa fokus terhadap yang diinginkan. Lalu bekerja di siang hari, yakni mulailah merealisasikan segala cita-cita yang diharapkan, bekerjalah sesuai bidang yang digeluti dengan semaksimal mungkin. Ketika kita telah melalui semua rentan waktu tersebut istirahatlah dan tidurlah sepuasnya di hari tua. Tanpa ada pikiran karna penyesalan tidak memanfaatkan masa muda dengan baik.
Di dalam buku ini kita diberikan nasihat-nasihat yang sangat kental bercampur dengan nuansa Islam. Dibubuhi dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan kata-kata penyemangat yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Banyak menyinggung soal pola tingkah pemuda sekarang yang sudah melenceng dari agama dan hidup dengan baik untuk dirinya. Pemuda diajak untuk tetap bepegang teguh pada agama, agar dalam menapaki setiap lorong kehidupan dapat diberi petunjuk oleh Allah subḥānahu wa ta’āla.
Pada bagian waspadai rintangan-rintanganmu, penulis kelahiran tahun 1379 H/1960 M ini menggambarkan tipe cobaan seperti apa yang dialami generasi muda saat ini. Seperti lemahnya hubungan dengan Sang maha pencipta, syirik karena takut dan lemahnya tawakkal, tidak ada perhatian dalam memahami agama, lemah cita-cita, inferiority complex (nggak pe-de), kurang sabar menahan godaan, pengaruh hiburan modern pada kerja dan kesungguhan, ciut nyali merasa gagal, putus asa, dan sebagainya.
Diingatkan juga kepada orang-orang terkhusus pemuda untuk tidak membuang waktu karena hiburan dan menunda pekerjaan. Tertulis; yang bisa membunuh kita salah satunya adalah perbuatan menunda-nunda. Orang-orang bijak berkata, barang siapa yang menanam benin “nanti” akan tumbuh sebuah tanaman yang bernama “mudah-mudahan” yang memiliki buah namanya “seandainya” yang rasanya adalah “kegagalan dan penyelesaian.” Tentunya ini sangat menyentil pembacanya, begitu laju bumi ini berotasi setiap hari. Tidak ada yang tau kejadian baik atau buruk dalam sedetik yang akan datang.
Jika kalian masih ingat dengan kisah pemuda kahfi di dalam buku ini pada halaman 137 dipaparkan dengan jelas dan singkat. Tentang tujuh pemuda yag mendapat petunjuk dari Rabb dan hidayah beserta keimanan yang sangat manis. Para pemuda ini menentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan kaumnya yang menyembah patung-patung, mendekatkan diri pada batu-batu yang tidak ada manfaatnya kecuali Allah sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mereka pergi ke sebuah gua yang ketika mereka mendiami di dalamnya serasa lebih luas dan nyaman dari sebuah istana yang sangat megah. Begitulah indahnya kalau bibit keimanan telah dituai di dalam hati, Allah akan melapangkan hatinya.
Jadi pemuda kahfi dijadikan sebagai salah satu roll mode para pemuda untuk bahagia di dunia juga diakhirat. Bagaimanapun juga, pilihlah panutan sesuka hati. Yang terpenting hal-hal positif yang pernah dilakukannya dapat menular dan kita konsepkan dalam kehidupan. Jangan lupakan Allah sebagai Zat Yang Maha Melindungi. Mintalah kepada-Nya dan senantiasa selalu lakukan hal-hal baik agar kita selalu dalam lingkupan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.
Editor: Khairatun Hisan

