Karya Anak Bangsa Bagi Negeri

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Cover buku
  • Judul : Nadiem Makarim; Cerita Masa Kecil, Jatuh Bangun Gojek, dan Pengabdian Bagi Negeri
  • Penulis : Ardi Armawan, Mugi Artiningsih, dan Fanny A. Prasetya
  • Penerbit : Andaliman Books
  • Tahun Terbit : 2020
  • Tebal Buku : 224 halaman
  • ISBN : 978-623-7345-13-8

Peresensi : Mahmudi

“Momentum adalah hal yang tidak kekal, selalu naik dan turun. Jika kamu tidak menangkap momentum itu di saat terbaiknya, kamu akan kehilangan momentum itu. Dan kehilangan momentum adalah sesuatu yang paling buruk,” (hlm.123).

Anak kelahiran 4 Juli 1984 ini memulai pendidikannya di SD Al-Izhar Pondok Labu. Di usianya yang masih belasan, Nadiem Makarim merantau ke berbagai negara untuk melanjutkan pendidikannya ke The Dalton School di Amerika Serikat, United World of College of South East Asia di Singapura, Brown University, London School of Economics and Political Sites, hingga Harvard Business School.

Dengan ijazah dari salah satu kampus Ivy League University, sebenarnya kesempatan kerja terbuka luas bagi dirinya di negeri Paman Sam. Namun karena orang tuanya yang begitu nasionalis, sejak kecil Nadiem Makarim dididik untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia.

Pada tahun 2006, Nadiem kembali ke Jakarta dan bekerja di McKinsey&Company Indonesia. Jakarta masih sama seperti ketika terakhir kali Nadiem mudik. Kemacetan masih belum teratasi. Hal ini semakin ia rasakan karena letak kantornya yang tepat berada di titik paling parah kemacetan kota metropolitan itu.

Nadiem mencoba mencari cara untuk mengatasi masalah kemacetan Jakarta dengan mencoba memanfaatkan ojek yang banyak ditemukan di lingkungan tempat tinggalnya. Pilihan Nadiem untuk menggunakan ojek ternyata tepat. Alat transportasi alternatif tersebut mampu menembus kemacetan ibu kota secara efektif.

Dari pengalamannya menggunakan ojek, Nadiem mulai mengetahui dunia per-ojek-an. Sepanjang perjalanan ke kantor, Nadiem kerap bertukar cerita dengan para tukang ojek langganannya.

Jadi, para pengemudi ojek menuturkan bahwa waktunya banyak terbuang untuk menunggu penumpang di pangkalan. Selain itu, ada juga aturan tidak tertulis yang berlaku bagi para pengemudi ojek, yaitu untuk bergiliran membawa penumpang. Padahal, di tempat lain, penumpang juga sedang mencari ojek, tetapi malas berjalan jauh ke pangkalan.

Nadiem berpikir bahwa idenya untuk menghubungkan pelanggan dan tukang ojek cukup potensial. Ia lalu mengungkapkan pemikirannya itu kepada dua teman baiknya, Michelangelo Moran dan Brian Cu.

Pada Oktober 2010, Gojek mulai beroperasi di sebuah garasi berukuran 5×7 meter. Belum secanggih sekarang, saat itu untuk memesan ojek harus melalui narahubung. Orang pertama yang berhasil direkrut Nadiem adalah Mulyono, salah satu tukang ojek yang sering memangkal di dekat rumahnya. Kemudian, Mulyono mengajak teman-temannya hingga saat itu ada 20 pengemudi yang bergabung menjadi mitra ojek.

Dalam waktu yang singkat, Gojek berhasil memikat hati masyarakat Jakarta. Tapi pada empat tahun pertamanya, Gojek masih tertatih-tatih. Terutama masalah pendanaan, para pemilik modal masih meragukan masa depan bisnis ini.

Nadiem berusaha menemukan solusi agar perusahaannya tetap berjalan dan harus merogoh kantongnya sendiri untuk menutupi biaya operasional. Saat keuangannya sendiri tidak mendukung, Nadiem terpaksa meminjam uang kepada keluarga dan temannya. Bahkan Nadiem dan beberapa petinggi Gojek lainnya harus bekerja paruh waktu di tempat lain dan hasilnya untuk mendanai Gojek.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Pepatah ini mungkin cukup menggambarkan Gojek pada saat itu. Salah satu tantangan yang harus dihadapi Gojek adalah hadirnya kompetitor Grab yang mulai menjajah pasar Tanah Air. Belum lagi masalah surat edaran yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan yang melarang ojek dan taksi daring beroperasi.

Hingga pada bulan November 2019, Gojek mencapai masa kejayaannya. Gojek menjadi startup Indonesia pertama yang mendapat predikat decacorn. Para investor dari dalam dan luar negeri mulai mempercayai Gojek. Layanan yang mereka tawarkan juga tak hanya sebatas mengantar penumpang. Saat ini Gojek memiliki setidaknya 30 fitur pemesanan yang sudah bisa dilakukan melalui aplikasi.

Pengangguran di Indonesia pada tahun 2019 turun hingga 5% dengan kehadiran Gojek. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, secara umum tahun 2018 mitra Gojek telah mengontribusikan Rp.44,2 triliun ke perekonomian Indonesia. Gojek kemudian melakukan ekspansi ke negara Vietnam, Singapura, Thailand, Filipina, hingga India.

Gojek bukan lagi sebuah perusahaan yang hanya menyambungkan pengemudi dan penumpang, melainkan sebuah super-app yang mewadahi banyak sekali layanan. Pencapaian Gojek yang fantastis dari tahun ke tahun tidak terlepas dari kerja keras Nadiem dan orang hebat di sekitarnya.

Pada 23 Oktober 2019, Nadiem Makarim ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Maka ia pun harus keluar dari Gojek dan membiarkan roda Gojek berjalan bersama para penerusnya.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement -

Share article

Latest articles