
- Judul Film: Kim Ji Young: Born 1982
- Genre: Drama
- Durasi: 118 menit
- Tanggal Rilis: 20 November 2019
- Sutradara: Kim Do Young
- Produser: Mo Il Young, Jwak Hee Jin, dan Park Ji Young
- Penulis Naskah: Yoo Young A dan Kim Do Young
- Produksi: Lotte Cultureworks
- Berdasarkan: Novel “Kim Ji Young: Born 1982” oleh Cho Nam Joo
Peresensi: Tara Naura
Film yang terinspirasi dari kisah pribadi penulis novel, Cho Nam Joo, mengisahkan tentang Kim Ji Young (Jung Yu Mi), seorang wanita yang kehilangan jati dirinya sejak menjadi seorang ibu. Konflik yang diangkat dalam film sangatlah sesuai dengan realita masyarakat kita yang kebanyakan masih menganut budaya yang konservatif.
Tokoh Ji Young diperlihatkan benar-benar kehilangan semangat, jenuh dan lelah sebagai seorang wanita, ibu rumah tangga sekaligus menantu. Begitu banyak tekanan yang dialaminya, entah dari masyarakat ataupun keluarganya sendiri hingga ia mengalami sakit mental.
Dari alur cerita yang maju-mundur, kita bisa melihat tekanan-tekanan apa saja yang di alami Ji Young. Dimulai dari saat remaja ia menjadi korban pelecehan, namun ayahnya malah menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga diri, lalu ia yang tidak bisa mengejar mimpinya karena ia perempuan, mertuanya maupun keluarganya yang konservatif, dsb.
Ji Young yang tertekan pun mulai mengalami masalah kesehatan mental. Ia beberapa kali terlihat seperti bukan sosok dirinya. Terkadang ia menjadi sosok ibunya, kakaknya atau neneknya. Hal ini awalnya dirahasiakan oleh suaminya, Jung Dae Hyun (Gong Yoo) namun lama kelamaan, akhirnya keluarga Ji Young pun tahu akan hal ini. Ibu Ji Young yang mengetahui hal ini merasa sangat marah pada Dae Hyun dan keluarganya.
https://www.youtube.com/watch?v=uUqsGBspxU4&t=1s
Dae Hyun sebagai seorang suami digambarkan dengan sosok yang bisa dikatakan cinta keluarga. Ia memberi pelukan kepada istrinya saat pulang kerja, memandikan anaknya dan membantu Ji Young mengerjakan pekerjaan rumah, meski ibunya Dae Hyun marah akan hal ini. Namun sebagai seorang anak, ia tak berani untuk membela Ji Young dihadapan ibunya. Inilah yang membuat penonton cukup geram.
Kita bisa merasakan sebagai sosok Ji Young yang serba salah. Ia ingin melakukan hal yang diinginkannya, yaitu bekerja sesuai impiannya namun mertuanya melarang dan juga bila ia bekerja pun gajinya tidak akan cukup untuk menyewa pengasuh anak. Disini kita bisa mengetahui bahwa ketidaksetaraan perihal gaji pun kerap terjadi.
Film ini dikemas dengan sederhana tapi sukses memberikan pesan kepada penonton dengan tajam dan membekas. Pesan tentang ketidaksetaraan gender yang tergambar jelas, diskriminasi, toxic masculinity, kesehatan mental, standar ganda dan lainnya.
Secara keseluruhan, film ini mengajarkan kita, terutama perempuan untuk berani buka suara atas hal yang tak adil. Perempuan seringkali di salahkan atas kasus pelecehan seksual ataupun lainnya yang berbasis gender dalam masyarakat. Inilah yang membuat para korban kebanyakan merasa takut untuk melapor atau buka suara, mereka takut mempermalukan dirinya sendiri dan keluarga. Padahal, seharusnya merekalah yang dilindungi, bukan sebaliknya.
Note: Film ini wajib ditonton karena relate dengan masyarakat, budaya dan isu sosial dalam kehidupan kita.
Editor: Ade Suryanti

