
- Judul : Sabtu Bersama Bapak
- Sutradara : Monty Tiwa
- Tanggal Rilis : 5 Juli 2016
- Genre : Drama
- Durasi : 1 Jam 51 Menit
- Penulis : Adhitya Mulya
- Produksi : Max Pictures
Peresensi: Muhammad Alvridho Prayoga
“Mungkin bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, bapak ingin kalian tumbuh dengan bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin dapat mengajarkan kalian”
Film Sabtu Bersama Bapak mengisahkan kehidupan keluarga Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) dan istrinya, Itje (Ira Wibowo). Kebahagiaan keluarga kecil itu terusik ketika Gunawan divonis menderita kanker dan hidupnya tinggal satu tahun saja.
Ketika vonis itu dijatuhkan, dua putra mereka masih kecil. Satya berusia 8 tahun dan Cakra masih 5 tahun. Khawatir tidak bisa membimbing kedua putranya hingga dewasa, Gunawan kemudian merekam pesan-pesannya untuk mereka dalam video.
Setelah Gunawan meninggal, Itje membuat tradisi baru, Sabtu bersama Bapak. Ia mengajak Satya dan Cakra menonton video pesan sang ayah setiap hari Sabtu. Rekaman dari sang ayah menjadi panduan buat Satya dan Cakra. Setiap hari Sabtu, dua anak ini menerima pesan dari sang ayah sembari ditemani oleh sang ibunda. Hingga akhirnya dua anak tersebut sudah menjadi dewasa.
Selebihnya ada kisah Satya yang diperankan oleh Arifin Putra berkutat pada kehidupannya dengan Acha yang menjadi sosok istri. Ditambah kisah Cakra (Dewa Mahendra) yang jenaka dikelilingi teman-teman kantornya dalam mencari jodoh.
Kalimat-kalimat petuah serta pesan kehidupan Adhitya Mulya dalam novel sudah mumpuni untuk membuat film Sabtu Bersama Bapak menjadi drama yang menyentuh perasaan penonton. Namun, semua itu musti diracik dengan baik oleh sang sutradara. Itulah peran Monty Tiwa mentransformasikan dalam bentuk visual. Agar tak menjadi cibiran bagi penikmat novel yang mencoba melihat versi layar lebarnya.
Satya dan Rissa sebagai suami-istri yang harmonis tak lepas dari problematika yang ada. Pesan Sang Bapak menjadi acuan Satya. Namun, bukan berarti tak akan ada masalah. Keduanya musti saling kompromi untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri. Adegan demi adegan Satya dan Rissa apik dan begitu natural untuk penggambaran kehidupan suami-istri.
Tak musti selalu serius dan mendayu-dayu, kisah jenaka dituangkan dalam diri Cakra yang mencari jodoh. Bersama teman-teman kantornya, adegan-adegan kelucuan mengundang tawa segar dan menghibur. Tapi itu pun tak musti selalu komedi yang muncul setiap saat. Pada akhirnya Cakra tampil dalam sosok dewasa ketika bersama dengan tokoh karakter Ayu.
Film ini sangat layak ditonton dan menginspirasi bagi siapapun yang melihatnya. Bagaimana tidak orang tua yang di vonis kematian itu datang berupaya memikirkan caranya agak sosok bapak selalu hadir dalam keseharian hidupnya.
Editor: Nurul Liza Nasution

