Ayah, Terima Kasih untuk Segalanya /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Mhd. Haris
- Advertisement - jd

Penulis: Amelia Pratiwi

Mereka bilang cinta pertama dari seorang anak perempuan adalah ayahnya. Mereka bilang kasih sayang paling tulus di dunia selain ibu adalah ayah. Dan mereka selalu bilang bahwa ayah adalah tempat paling indah dalam mengadu dan meminta. Ayah selalu tahu apa yang terbaik untuk anak gadisnya. Selalu tahu tentang apa yang dirasakan tanpa perlu diajak bicara, bahkan ayah selalu  menjadi orang nomor satu yang akan membela jika anak perempuannya terluka. Itu kata mereka.

Namaku Disya, aku anak kedua dari tiga bersaudara. aku gadis yang pendiam, terlalu pendiam dan tak mampu berbicara terlalu banyak. Bukan kaRena gugup atau hal apapun, aku hanya tak pernah diperbolehkan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapatku di dalam rumah. Ayah selalu melarang aku untuk bersuara tentang hal apapun. Hingga sekarang aku selalu berpikir, jika di dalam rumah sendiri saja pendapatku tak pernah di dengar dan dianggap, lantas buat apa aku bersuara di luar. Ayahku saja tak pernah mau mendengarkanku, bagaimana dengan mereka yang ada di luar sana.

Aku selalu berpikir mungkin, ayahku adalah manusia dari planet lain jika sedang bersamaku. Sifatnya berbeda, tak sehangat saat bersama adikku. Rena adikku, dia anak yang manja dan ibuku terlihat sangat menyayanginya. Ayahku? Tak perlu di pertanyakan, beliau begitu mencintai Rena melebihi apapun. Ibu selalu bilang bahwa ayah menyayangi aku dan Rena. Tapi aku tak pernah mendapatkan rasa sayang itu ketika Rena lahir di dunia. ayah tak pernah menanyakan hal apa yang aku suka dan tidak aku suka, aku tak pernah diperbolehkan untuk bersuara. Aku seperti hidup di dalam rumah yang tak berpenghuni.

“Ayah sudah bilang berkali-kali sama kamu. Jangan biarkan adikmu ikut organisasi apapun di sekolahnya. Kamu tidak denger apa yang Ayah bilang, HAH?” ayah begitu marah ketika tahu Rena belum juga pulang sekolah padahal ini sudah pukul 18:30 WIB.

Kali itu yang menjadi sasaran kemarahan ayah adalah bang Kevin, ayah selalu marah kepada bang Kevin jika sesuatu terjadi kepada Rena. Dan Kevin adalah sosok abang yang begitu baik. Dia selalu terlihat tabah dan mengalah jika ayah marah padahal itu bukan seratus persen salahnya.

“Rena terlalu keras kepala untuk dilarang Yah,” ucap bang Kevin.

“Kamu aja yang gak tegas. Yang males buat bilang hal tak baik untuk Rena. Rena itu penurut, Ayah tahu sekali dia bagaimana.” Kata ayah.

Suasana semakin panas ketika ayah tak ingin berhenti untuk menyalahkan Kevin atas kekhawatirannya mengenai Rena. Sampai akhirnya sosok yang sedang dibicarakan pulang dengan senyum yang begitu merekah bahagia.

Rena mengetuk pintu rumah dengan semangat. “Assalamualaikum semuaaa.” Gadis itu tampaknya masih tak sadar dengan keadaan rumah yang begitu kacau.

Ketika Rena ingin bersalaman dengan sang ayah, hati Rena di buat terluka ketika ayahnya sama sekali tak ingin menerima uluran tangannya. “Duduk kamu.” Perintah ayah.

Rena menghelai napas lelah, ia mulai sadar mengapa tatapan tajam Disya begitu menusuk ke arahnya. Ayahnya kembali marah, dan itu karena dirinya.

“Dari mana aja kamu Rena?” tanya ayah.

Rena memutar bola matanya malas, “Besok ada pensi di sekolah. Dan Rena jadi panitia di sana.”

“Ayah sudah pernah bilang sama kamu, buat apa kamu ikut kegiatan gak penting begitu. Itu cuma buang-buang waktu doang.” Mendengar ucapan sang ayah, membuat Rena merasa kesal.

“Ayah itu kenapa sih? Rena udah kelas 3 SMA dan Ayah masih saja ngelarang Rena mau berbuat apa saja. Kenapa sih, Yah?” ucap Rena sambil menatap sang ayah dengan kesal.

“Pokoknya kamu gak boleh ikut begituan.”

“Yah tapi, kenapa? Kasih tahu Rena dong alasannya kenapa.”

Ketika larangan dilakukan tanpa adanya alasan, itu sudah termaksud hal tanpa dasar. Bunda yang sedari tadi diam, kini angkat suara.

“sudah dong Ayah. Biarin Rena mandi terlebih dahulu, Kevin juga udah laper gitu. Kasian mereka.” Ucap bunda.

“Kamu diam saja, gak usah ikut campur.” Kata ayah.

Ketika Rena masih saja betah bertengkar dengan sang ayah, Disya menatap mereka kesal mendengar jawaban sang ayah. Dirinya sedang belajar untuk mendapatkan beasiswa keluar negeri tapi, suara pertengkaran itu begitu mengganggu. Apalagi ketika ayahnya mulai berkata kasar kepada sang bunda.

“Kalian berdua kalau mau ribut bisa gak suaranya di kecillin? Ngehargai aku sedikit saja bisa gak? Aku lagi belajar. Bang Kevin juga belum makan dari tadi, dan Ayah masih betah ribut sama Rena?” Disya sudah tak tahan lagi, dirinya benar-benar kesal.

Disya bukan bermaksud durhaka. Namun, ayahnya kali ini sudah sangat keterlaluan. Ini hanya permasalahan kecil yang gak seharusnya diributin sampai sebesar ini, berlebihan.

Mendengar ucapan kekesalan dari anak keduanya, membuat sang ayah terdiam. Menghelai napas, lalu menatap ke arah Rena sekali lagi sambil berucap, “ Ayah gak pernah setuju kamu ikut hal-hal gak berguna begitu. Tinggalin pensi kamu, atau kamu gak bisa pulang sekolah sama teman-teman kamu lagi.”

Rena melotot tak percaya, “Gak bisa Ayah. Rena gak bisa ninggalin pensi itu, Ayah gak boleh ngelarang Rena lagi!”

“Kamu pikir bagus anak perempuan belum pulang ketika azan magrib tiba? Kamu gak mikir Ayah di sini khawatir nungguin kamu, hah? Kamu gak boleh kelelahan Rena.” Ucap ayah.

Disya yang mendengar ucapan sang ayah kepada adiknya, Rena berdecih kesal. Ia tertawa sendiri, mengusap perlahan air mata yang mulai terjatuh. Dari dulu ayahnya tak pernah berkomentar tentang apapun yang ia lakukan. Disya tak pernah dimarahi atau dikhawatirkan ketika ia pulang larut malam sekali pun. Ayahnya seperti tak menganggapnya, dan tak di anggap benar-benar menyakitkan. Terlebih hal itu dilakukan oleh ayahmu sendiri.

(Bersambung ke bagian 2 di Edisi 18 April 2020)

Editor : Nurul Liza Nasution

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles