Baiknya Hati

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi hati. (Foto/Ilustrasi/Pexels/Kaboompics.com)
- Advertisement - jd

Penulis: Ditanty Chicha Novri

“Siapa yang menginginkan husnul khatimah di penghujung umurnya, hendaklah ia berprasangka baik kepada manusia”- Imam Syafi’i

Dari kita siapa yang tak ingin meninggal dalam keadaan husnulkhatimah? Meninggal dalam keadaan yang paling baik. Imam syafii pun sudah berkata bahwa kunci nya adalah berprasangka baik. Prasangka itu letaknya tersembunyi yakni dari dalam hati. Dan kita tahu bahwa hati adalah bagian paling penting dalam tubuh manusia.

Katanya, Jika kau punya hati yang baik maka baiklah seluruh dirimu. Pun begitu juga sebaliknya, jika hatimu buruk maka buruklah seluruh dirimu. Begitu besarnya peranan hati hingga menilai penuh atas diri, masyaallah!

Baca juga: Apa Benar Hanya Kita Kehidupan Satu-Satunya?

Dari quotes di atas juga kita bisa belajar bahwa menata hati itu sangat penting. Untuk tetap berbaik sangka pada seseorang ataupun atas takdir yang sudah Allah berikan untuk kita. Kita manusia adalah tempatnya salah dan khilaf yang berulang kali berujung pada kebiasaan. Maksiat yang begitu sering kita lakukan baik dalam keadaan sadar ataupun tidak.

Apa yang dimaksud dengan baiknya hati?

Dalam hal ini ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan para ulama yakni:

  1. Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah dan siksa-Nya.
  2. Yang dimaksud baiknya hati adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat takarub pada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari rida Allah.
  3. Yang dimaksud adalah rasa cinta pada Allah, juga cinta pada wali Allah serta mencintai ketaatan.

Ketiga makna tersebut semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. (Dari Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69).

Baca juga: Derajatmu Dilihat Dari Tingkat Takwa dan Iman

Lantas, cara menerapkan baiknya hati?

Yakni dengan menguatkan rasa takut hanya pada Allah Swt, menumbuhkan takwa, dan menumbuhkan benih-benih ketakutan akan siksa-Nya. Karena itu, jangan sampai kita sendiri yang merusak hati dengan maksiat-maksiat yang kita rutinkan setiap hari. Naudzubillahiminzaalik!

Tetaplah kita berprasangka baik dalam hati yang baik, semoga Allah selalu menjaga hati kita ya. Pun juga jangan lupa berdoa. Sebab, yang sering Nabi –sallallahu alaihi wasallam– minta dalam doanya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdoa, “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Baca juga: 5 Februari, Pihak UPZ Umumkan Kelulusan Penerima Beasiswa

Tingkatan seorang nabi yakni Kekasih Allah yang sudah pasti akan ditempatkan di tempat terbaik dalam syurga-Nya Allah pun, senantiasa berdoa agar hatinya dijaga oleh Allah. Pun sebaliknya kita harus begitu, berdoa, bertawakal, senantiasa meminta agar Allah jaga hati kita dari berbuat maksiat.

Agar hati selalu bersih, upayakanlah senantiasa berbuat baik agar Allah meridai. Jika Allah sudah rida maka apapun akan Allah berikan untuk kita. Jikalau kita sudah mendapat rasa sayang dari Allah, maka sungguh ibarat sang kekasih hati, apapun yang kita inginkan pasti akan diberi bukan? Nah, begitupun dengan sayangnya Allah, jika Allah sudah sayang maka apapun akan Allah berikan yang terbaik untuk hambanya.

Dan juga jangan lupa, selain memperbaiki hati terutama perbaikilah hubungan kita dengan Allah melalui salat, sebab itu juga langkah untuk memperbaiki hati kita. Serta luruskan niat karena Allah, semata-mata karena Allah dan hanya untuk Allah. Di akhir, selamat menjaga hati! hati-hati menjaga hati, karena hati itu penting. Selamat berbenah!

Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles