Belajar Tuli

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Tiara Wulandari
- Advertisement - jd

Penulis : Sri Julia Ningsih

Terkadang, kita perlu belajar tuli saat beberapa mulut orang lain menghantam dan menjatuhkan. Kita hanya punya dua tangan, tak akan mungkin bisa menutup ribuan mulut, benar? Tapi jangan lupa, kita masih punya telinga yang bisa kita sumbat agar tak terdengar lagi kata-kata sumbang yang terlontar dari mulut pencekik, mencekik batin, barangkali. Jika sudah melakukannya, maka teruslah begitu. Jika belum, ayo mulai untuk mencobanya.

“Sudahlah, hentikan saja pekerjaanmu, kamu juga takkan mampu mengerjakannya”

“Sudah deh, kamu menyerah saja, toh dia lebih pintar dari kamu”

“Halah, ini bukan bidangmu”

“Saya yakin kamu tak akan bisa mengerjakan ini”

“Kamu tak akan bisa mengerjakan ini”

“Kamu tak pantas disini, kamu pasti gagal”

“Kamu orang miskin, jangan punya mimpi ketinggian deh, makan aja susah, sok punya mimpi tinggi, sadar. Nanti jatuh, gila.”

Terkadang, kita memang butuh keadaan pura-pura tuli pada mereka yang terbiasa menjatuhkan. Ingat, kita hidup karena Allah, untuk Allah, dan akan kembali kepada Allah. Tak perlu menghiraukan kata-kata sumbang yang menyayat hati tersebut. Selagi yang kita lakukan itu baik untuk kita, diridai orang tua, baik di hadapan Allah, serta tak melanggar syariat, rasaku itu sudah cukup. Pasalnya, memang sebagian mulut kerjanya hanya bisa untuk menjatuhkan.

Baca juga: Sudahkah Kita Bersyukur atas Nikmat Allah?

Di dalam muara kehidupan, acapkali kita mendapati beberapa orang dalam karakter yang berbeda. Tak bisa dihindari, bahwa dalam kehidupan tidak semua orang menyukai kita. Benar? Boleh jadi orang-orang yang melontarkan kata-kata di atas merupakan orang-orang yang tidak menyukai kita. Tak apa, karena hidup kita bukan untuk membuat orang lain terkesan.

Terlepas dari itu semua, jangan lupa bahwa kita membutuhkan orang lain. Pasalnya, kita adalah makhluk sosial, yang artinya tidak bisa lepas dari seseorang dalam kehidupan. Boleh jadi, seseorang yang kalian hina hari ini, belum tentu orang yang benar-benar hina di mata manusia lain, apalagi di mata Tuhan.

Sedapat mungkin kita harus mumpuni diri sendiri, bahwa hidup perlu sesekali belajar tuli agar tidak terlalu banyak membenci. Tidak apa dibenci, asal jangan membenci. Hal itu yang selalu aku terapkan dalam hidup, sepanjang perjalananku. Ibu yang kemarin mengajarkan hal tersebut padaku di sore menjelang petang itu.

Baca juga: Lepas Rindu, PADI Adakan Kegiatan Riung Keluarga

“Bu, aku sudah melakukan yang terbaik. Tapi mengapa mereka tetap saja membenciku?” tuturku lirih.

“Nak, tidak apa dibenci asal jangan membenci,” jawab ibu singkat.

“Bu, tapi …,” tuturku.

“Nak, dengarkan ibu, tidak akan ada habisnya apabila kau selalu mengejar rida manusia. Tak akan habis nak. Yang perlu kau jalani dalam hidup ini adalah menggapai rida Illahi. Karena, kau tidak akan dihisab atas apa yang orang lain lakukan. Tapi jelas, kau akan dihisab atas apa-apa yang kau lakukan terhadap orang lain,” tuah ibu sambil memeluk tubuh mungilku.

Jangan berhenti karena keterbatasan, jangan menyerah karena keadaan, jangan berdiam karena ketidakmampuan. Bukankah Allah Maha Mendengar?

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles