Belajar untuk Menjadi Berkesan

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Buku berjudul “Hujan Matahari” (sumber: WordPress/segenggamcerita)
- Advertisement - jd

Judul Buku    : Hujan Matahari

Penulis          : Kurniawan Gunadi

Penerbit        : Canting Press

Tahun Terbit : 2014

Tebal Buku   : 218 halaman

“Yang tidak bisa aku lakukan adalah menjadi matahari dan hujan dalam satu waktu.”

(hlm 206)

Apa yang terlintas di benak kita jika mendengar kata hujan dan matahari? Mungkin sebagian akan menganggap bahwa itu adalah kedua hal yang berbeda. Tak salah memang. Namun, Mas Gun (sapaan penulis) meraciknya menjadi suatu hal yang menarik karena selalu dikaitkan dengan semesta. Apa makna hujan dan matahari bagi kehidupanmu?

Dalam buku yang berisikan kumpulan cerita dan prosa ini, Mas Gun selalu berusaha memberikan kita nasihat tentang hidup. Misalkan saja tentang hujan. Kita bisa menjadi hujan di kehidupan orang lain, hujan yang hanya bentuknya gerimis kecil, hujan sedang atau bahkan badai petir sekaligus. Namun, hujan pun tetap akan reda pada waktunya.

Baca juga: Addin Edisi 297: Amalan Penunda Kematian

Begitu juga dengan matahari, kita bisa meminta seseorang menjadi matahari dalam kehidupan kita. Mungkin untuk menghangatkan serta memberi kecerahan. Tapi itu cukup membuat kita terkesan, karena keberadaannya yang memberi manfaat. Mari menyimak sedikit demi sedikit pembelajaran yang diberikan semesta secara gratis bagi kita.

Mas Gun mengkiaskan bahasa semesta lewat tingkah laku manusia dalam bukunya. Sehingga membacanya seperti membaca pengalaman hidup yang semesta pun telah mengajarkannya. Hujan dan matahari menjadi perpaduan yang unik, saling melengkapi dan lahir sebagai tetes-tetes perenungan. Hujan dan matahari memaksa orang-orang berlindung di balik tempat-tempat teduh, kecuali orang-orang yang berani menghadapi dingin dan terik.

Buku ini dimulakan dengan bagian ‘Gerimis, Hujan kemudian Reda’. Bila difilosofikan dengan kehidupan, penulis memulainya dengan bagaimana kita memiliki masalah di masa lalu, keyakinan, kesepian, tujuan bahkan sampai tentang sosok bapak. Setiap masalah itu pasti datang silih berganti di kehidupan kita.

Baca juga: Introvert

Kemudian dilanjutkan dengan bagian ‘Hujan’. Bagian ini sedikit menarik karena Mas Gun mulai serius mengenalkan pembelajaran dalam hidup. Dimulai dari mengenalkan seperti apa harta yang baik, akhir kematian, mencari sahabat, sampai kepada soal cerita, ekspektasi dan realita. Semuanya dikemas dalam tulisan yang lagi-lagi memberikan kita pelajaran tentang hidup yang penuh dengan perenungan diri.

Mas Gun mengakhiri bagian bukunya dengan judul ‘Reda’. Bahwa semua gerimis yang baru saja mampir, hujan yang baru saja turun pasti akan reda. Sama halnya dengan masalah demi masalah yang ada, semuanya pasti akan terselesaikan. Meski ada proses panjangnya. Di bagian ‘Reda’, Mas Gun menggambarkan bahwa semua yang terjadi melahirkan hikmah di kehidupan. Bahwa setelah reda akan ada matahari yang bersinar.

Saya akan mengambil contoh dalam salah satu subbab yang berjudul ‘Bila Tidak Ada Pertemuan’. Mungkin kita selalu berpikir mengapa kita harus bertemu dengan seseorang? Mengapa kita tidak sengaja berpapasan? Sebenarnya apa yang sedang Tuhan rencanakan?  Apakah Dia mengirimkan seseorang untuk membuat kita jatuh cinta atau justru menyisakan memar parah? Biarkan semua itu menjadi rahasia semesta.

Isi yang dibeberkan sangat-sangat menarik serta tidak terkesan menggurui. Sebagian cerita yang disajikan dilihat dari sudut pandang Islam, serta membuat kita berkaca diri. Sebab di dalamnya selalu saja didapatkan pembelajaran tentang hidup. Buku dengan sampul bergaya brush ini hanya memiliki sedikit saja kekurangan yakni beberapa batasan cerita dan prosa yang tidak saling terhubung di setiap bagiannya. Namun meski begitu, pembaca dapat mulai menyelami buku ini dari bagian mana saja. Sesuka hati.

Baca juga: Pramoedya Ananta Toer

Hikmah apa yang bisa dipetik dari buku setebal 218 halaman ini? Yakni hikmah memberikan kesan bagi kehidupan orang lain. Mungkin kita tak bisa menjadi hujan dan matahari dalam waktu yang bersamaan. Namun ada satu cara agar hujan dan matahari bisa memberi kesan. Jika pada suatu sore, kita menjadi hujan gerimis yang tiba-tiba reda dan kita segera menjadi matahari yang bersinar terik, maka akan ada sebuah pelangi yang tertoreh indah di langit. Namun sayangnya tidak akan bisa bertahan lama.

Jadilah hujan yang datangnya memberikan pelajaran, pun perginya meninggalkan pelajaran.

Jadilah matahari yang sinarnya memberikan sebuah pencerahan saat tidak tahu arah.

Belajarlah menjadi berkesan!

Penulis : Syafrita

Editor   : Rizki Audina

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles