Benarkah TKI Hanya Pekerja Kasar Saja?

- Advertisement - Pfrasa_F
Hari Pekerja Indonesia. (foto/Instagram/riridamayanti42)
- Advertisement - jd

Penulis: Mhd Fitrah Hiadayat

Banyak warga Indonesia yang sangat tertarik untuk bekerja di luar negeri degan alasan memperoleh gaji yang besar dibandingkan dengan bekerja di Indonesia. Faktor ekonomi merupakan faktor yang paling utama mendorong sebagian warga Indonesia menjadi  Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara lain. Dengan alasan ekonomi tersebut, menyebabkan warga negara Indonesia dengan pendidikan rendah berlomba-lomba untuk bekerja di luar negeri meskipun pekerjaan yang mereka lakukan merupakan pekerjaan kasar.

Salah satu faktor yang mempengaruhi warga menjadi TKI adalah terbatasnya lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia. Terbukti dari besarnya angka pengangguran yang ada di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia  per Agustus 2019 mencapai 7,05 juta orang, jumlah ini meningkat sebesar 50.000 orang dari Agustus 2018 yang jumlahnya sebanyak 7 juta orang.

Baca juga: UIN SU Targetkan 6500 Calon Mahasiswa Baru

Faktor-faktor di atas berhasil mengundang sebagian warga Indonesia untuk bekerja di luar negeri. Menurut survei World Bank, pada tahun 2017 terdapat 9 juta TKI. Negara Malaysia menjadi negara yang paling banyak dituju TKI yaitu sebanyak 55 persen, 13 persen berada di Arab Saudi, 10 persen berada di Cina atau Taipei, dan sisanya berada di negara-negara lain seperti Amerika, Inggris, Jerman, dan lain-lain.

Banyaknya jumlah TKI yang bekerja di luar negeri tentu membantu keuangan Negara. Seperti kutipan di salah satu artikel detikfinance tahun 2012 deputi perlindungan BNP2TKI Lisna Y Poelongan mengungkapkan jasa pengiriman uang alias remitansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menyumbang 10 persen ke APBN. Jumlah ini menjadikannya nomor 2 terbesar penyumbang APBN setelah pendapatan dari sektor migas di tahun 2012.

Data dari BNP2TKI menunjukkan perolehan devisa negara dari remitansi TKI yang bekerja di berbagai negara di berbagai kawasan baik itu di Asia, Eropa, Amerika, Timur tengah, Afrika, dan Australia pada awal 2012 sampai dengan Juli 2012 mencapai US$ 3,9 miliar. Tentu ini angka yang sangat besar, dengan begitu TKI adalah salah satu devisa Negara.

Baca juga: Sensus Penduduk 2020, Mahasiswa Harus Jadi Agen Sosialisasi

Tapi nyatanya di mata sebagian masyarakat Indonesia, TKI hanya dianggap sebagai Asisten Rumaha Tangga (ART)  atau pekerja kasar saja. mindset ini sudah tertanam di pikiran sebagian warga indonesia bahwa TKI hanya dikaitkan dengan pekerjaaan di sektor informal seperti pembantu rumah tangga atau pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak memerlukan keahlian khusus. Situasi ini diperburuk oleh media-media yang memberitakan nasib buruk  TKI yang bekerja di luar negeri

Tetapi nyatanya, mindset dari beberapa masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa TKI identiknya degan pekerja kasar yang bekerja di luar negeri itu tidak sepenuhnya salah. Berdasarkan salah satu kutipan yang terdapat di artikel Tempo.co mengungkapkan bahwa sebanyak 165.522 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) atau sekitar 60,19 persen dari total sebanyak 275.000 TKI yang berada di luar negeri bekerja sebagai pekerja kasar, dan hanya sebagian kecil yang menjadi pimpinan di perusahaan luar negeri.

Baca juga: Gerakan Moral Spontanitas #SAVEBABI

Menanggapi kenyataan itu, Sri Handiman yang merupakan pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia (UI) menilai tingginya persentase TKI yang menjadi pekerja kasar di luar negeri menunjukkan kurangnya tindakan pemerintah dalam peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah harus lebih berupaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan warga Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri. Mereka harus siap mental, fisik, keterampilan, dan mengetahui kebudayaan di negeri tujuan. Tentu itu sangat menbantu calon TKI untuk bersaing memperebutkan posisi yang lebih tinggi, dan hal tersebut juga dapat menekan angka TKI yang bekerja di luar negeri sebagai pekerja kasar.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles