Bentrok Reakreditasi Isu Penundaan Wisuda Gempar

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Rizky Maryam
- Advertisement - jd

Isu penundaaan wisuda tahun 2020 belakangan ini tersebar di kalangan mahasiswa UIN SU. Kabar ini terdengar oleh beberapa akademisi di sejumlah fakultas yang disebut sebagai dampak reakreditasi yang akan dilaksanakan di tahun tersebut, sehingga menimbulkan berbagai reaksi pro-kontra di tengah-tengah mahasiswa.

Salah satu reaksi datang dari mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), yang tidak ingin disebutkan namanya itu mengaku sempat mendengar isu penundaan wisuda. Namun, ia menyebut isu tersebut lebih mengarah pada jurusan yang akreditasnya bermasalah. Sedangkan Liya, salah satu mahasiswa di fakultas yang sama menyebut isu itu tidak benar, sebab jurusannya akan melaksanakan prosesi wisuda pada April 2020. “Dari jurusan kami, di bulan April sudah bisa wisuda. Jadi, kemungkinan besar penundaan wisuda hoaks,” sanggah mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam itu.

Bukan hanya Liya, isu penundaan wisuda juga sampai ke telinga Arjuna Yahdil yang juga ikut menanggapi kabar tersebut. Mahasiswa Pendidikan Matematika ini memungkinkan isu itu disebar untuk menakut-nakuti mahasiswa semester akhir yang harusnya wisuda tahun ini.

Sedangkan Muhammad Bukhori menilai isu penundaan tidak sesuai dengan kalender wisuda yang sudah ditetapkan sebelumnya. Menurut argumen mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam itu, sesuai jadwal akademik, pada April 2020 adalah gelombang pertama pelaksanaan wisuda, sedangkan Agustus dan November akan dilaksanakan gelombang kedua dan ketiga. Namun, Bukhori menjadi bertanya-tanya setelah mendengar kabar bahwa gelombang pertama ditiadakan akibat menunggu akreditasi.

Isu penundaan wisuda rupanya tersebar tidak sampai di situ, tersiarnya kabar ini ternyata didapat dari satu informasi ke informasi lain yang saling berkesinambungan. Seperti pengakuan mahasiswa FITK saat dimintai keterangan. Rita mendengar isu itu disampaikan oleh salah satu dosen yang merunut dari informasi di jurusan. Dalam informasi yang tersebar di grup dosen dan perwakilan mahasiswa itu, diketahui kabar bahwa April 2020 dikhawatirkan tidak ada pelaksanaan wisuda namun, peniadaannya akibat reakreditasi jurusan, bukan UIN SU.

Sedangkan Nurhayati Nadeak mengaku kecewa mendengar kabar penundaan wisuda. Menurutnya penundaan wisuda tidak sesuai dengan yang ia harapkan. “Saya sudah mendengar kabar penundaan wisuda dari grup kelas. Pertama merasa kecewa, karena stambuk kami berharap wisudanya tahun 2020,” komentar mahasiswa FITK itu. Sama dengan Nurhayati, Nuayni Br. Ginting dari FEBI pun mengaku kecewa. Isu penundaan itu dinilai tidak sesuai dengan target wisuda yang ia rencanakan.

Begitupun dengan beberapa mahasiswa yang justru setuju dan mendukung isu penundaan wisuda. Isu tersebut dinilai sebagai kabar baik yang berpeluang menghasilkan wisudawan dengan akreditas yang lebih bagus. Seperti Nanda Aulia misalnya, mahasiswa Pendidikan Matematika ini tidak memasalahkan penundaan wisuda jika memang akreditas yang terakhir dapat mempermudah ke jenjang pekerjaan.

Lebih lanjut, Abdul Hamid mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam pun mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya penundaan wisuda akibat reakreditasi bisa saja dilakukan. Ia memaparkan lebih baik lulus dengan akreditas yang baik, walaupun wisuda harus ditunda. “Lebih baik lulus dengan akreditas yang baik, sekalipun harus mengalami penundaan wisuda,” jelas Semaf itu.

Untuk menanggapi isu ini, Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja sama (AAKK) UIN SU, Dr H. Dur Brutu, MA pun angkat bicara, saat ditemui di ruangannya ia memperjelas bahwa isu tersebut tidak menjadi dasar adanya penundaan wisuda tahun depan. Menurutnya, isu-isu penundaan wisuda lebih diarahkan pada beberapa jurusan yang masih berakreditasi C. “Tidak ada alasan untuk penundaan wisuda, tergantung prosesnya jika cepat selesai nanti, tentu akreditasi otomatis naik,” ungkapnya.

“Memang selama ini di Fakultas Sains dan Teknologi, dianjurkan agar jangan dulu mahasiswa mengikuti sidang terakhir atau skripsi karena masih ada beberapa akreditas yang masih C. Dengan akreditas C ketika yang bersangkutan menyelesaikan pendidikannya di sini, ketika melamar pekerjaan masih banyak orang-orang yang mempertanyakan status akreditasi,” jelasnya.

Sedangkan untuk proses reakreditasi, menurut Dur Brutu, jika merasa siap UIN SU akan mengajukan permohonan ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk peninjauan tim asesor. Namun, beliau mempertegas dengan mantap UIN SU siap diakreditasi.

Humas UIN SU Yuni Salma, MM mengatakan belum ada pembahasan soal ditunda atau tidaknya proses pelaksanaan wisuda pada 2020 namun, jadwal reakreditasi di tahun tersebut kemungkinan besar akan dilaksanakan. “Belum ada pembahasan maupun wacana mengenai wisuda 2020. Namun, kaitannya apakah wisuda ditunda atau tidak itu belum pernah muncul dalam pembahasan,” jelas Yuni Salma.

Sedangkan menurut Wakil Rektor III Prof. Dr. Amroeni Drajat, M.Ag, penundaan wisuda tergantung kepada akreditasi jurusan itu sendiri, jika akreditasi jurusan belum terakreditasi maka sebaiknya jangan diwisuda. “Penundaan wisuda tergantung kepada akreditasi jurusannya, kalau akreditasi jurusannya belum terakreditasi, sebaiknya jangan diwisuda karena nanti akan berakibat pada nasib dia setelah lulus,” pungkas Amroeni. Ia juga memperjelas tidak ada kaitan persiapan akreditasi UIN SU dengan penundaan wisuda.

Semakna dengan itu, pada 22 November, edaran syarat-syarat untuk ujian sidang munaqosah pun diluncurkan untuk mahasiswa. Edaran tersebut berisikan pendaftaran terakhir ujian sidang, sidang terakhir dan wisuda pada 2020. Hasil edaran tersebut menuai informasi bahwa 2020 UIN SU wisuda pertama pada April.

Koodinator Liputan: Karmila Sinaga

Reporter                 : Nurhalimah Syafira, Ditanty Chicha Novri, Asri Alviana, dan Wilda Wardani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles