Berbeda Budaya dan Agama, Disatukan Bhineka Tunggal Ika

- Advertisement - Pfrasa_F
Ket: Cover film berjudul “Ajari Aku Islam”. (Sumber:brilio.net)
  • Judul Film : Ajari Aku Islam
  • Genre : Drama
  • Produser : Jaymes Rianto
  • Sutradara Film : Deni Pusung
  • Tanggal Rilis : 17 Oktober 2019
  • Durasi : 1 Jam 33 Detik
- Advertisement - jd

Peresensi: Hafiz Hasan Noor Lubis

Indonesia sebagai negara yang kaya akan keragaman Ras dan Budaya serta keberagaman Agama sehingga tolernasi beragama pun harus dijunjung antar masyarakat Indonesia, berdasarkan data dari REPUBLIKA.CO.ID Indonesia tergolong dalam 10 negara di dunia dengan populasi muslim terbesar keberagaman inilah yang harus dijunjung tinggi dengan selogan Bhineka Tunggal Ika, Film Ajari Aku Islam ini mengilustrasikan keberagaman budaya yang ada di Indonesia sehingga muncullah cinta yang berbeda agama.

Film yang disutradari oleh Deni Pusung dan Cut Ratu Mersika seorang gadis muslimah serta Roger Daunarta pemuda tionghoa yang menjadi pemeran utama ini menggambarkan kehidupan dua insan yang berbeda agama dan hidup ditengan kesibukan kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia yang sama-sama menyandang status remaja dan bertolak belakang soal kepercayaan (agama) yang dianut mereka masing-masing sehingga timbullah perasaan jatuh cinta antara keduanya.

Baca juga: Mendikbud Luncurkan Kebijakan Baru, Apa Komentar Mahasiswa UIN SU?

Cut Ratu Mersika yang dijuluki sebagai dalam film ini (Fidya) yang wataknya sebagai wanita cantik nan soleha dibaluti pakaian muslimahnya dan sifatnya menggambarkan seorang muslimah pada hakikatnya  membuat Roger Daunarta yang berperan sebagai (Kenny) menjadikan sebagai cinta pada pandangan pertamanya yang tak luntur karna niat baiknya adalah ingin mempelajari agama islam lalu menikahinya.

Berawal dari pertemuan di sebuah lampu merah membuat Kenny yang sedang menjadi relawan dalam penggalangan dana untuk korban bencana alam membuatnya bermimpi-mimpi dan berkhayal untuk memilikinya dengan kerja keras dan upayanya untuk memiliki Fidya mulai dari mengulik seputar kehidupannya sehari-hari sehingga muncullah pernyataan Fidya salah satu cara mendekatinya harus mendalami agama islam.

Baca juga: Pramoedya Ananta Toer

“Abang taukan aku islam? Kalau gitu kenapa kau tidak coba untuk buat aku jatuh cinta pada islam sama seperti kau telah membuat aku jatuh cinta padamu” percakapan meraka di depan Masjid Raya Al Mahsun, tamparan hangat dan rintangan terbesar bagi Fidya sebagai seorang muslim untuk hal ini, berwal dari kata-kata ini akhirnya dengan keikhlasan hati akhirnya Fidya rela mengarjarkan islam kepada pemuda Tionghoa itu.

Seiring dengan berjalannya waktu mereka pun saling menyukai, tetapi mereka terbentur oleh perbedaan budaya dan agama yang menyebabkan kedua orang tua kedua belah pihak tidak menyetujui hubungan ini. Diwaktu yang bersamaan pula orang tua Kenny menghendaki anaknya untuk menihkah dengan tunangannya yang sudah terpisah beberapa tahun lalu dan memiliki kesamaan budaya dan agama. Dan diwaktu yang bersamaan juga cinta lama Fidya yaitu Fahri pun telah kembali dari perkuliahannya di perguruan tinggi di turki.

Baca juga: Imlek, Masyarakat Tionghoa Lakukan Tradisi Pelepasan Burung

Alur cerita dalam film ini menunjukkan alur maju dan berkelanjutan akan hubungan mereka dan masalah yang terbesar adalah perbedaan budaya dana agama, namun alur ceritanya juga memiliki kekurangan karena kurangnya inovasi alur sehingga sedikit lebih condong monoton, alurnya perjalanan hidup dari pagi hingga malam dan begitu seterusnya hingga selesai dan juga action Roger Daunarta sedikit kaku dalam memerankan dirinya sama dengan halnya Cut Meriska wanita tulen yang berdarahkan aceh ini dituntut mampu berdialogkan bahasa Medan tampaknya ia belum terlalu menguasai itu. Salah satu keunggulan dalam film ini mereka mampu mendeskripsikan penuh bagaimana hakikat cinta yang didasari perbedaan budaya dan agama serta controversial ada anak dengan orang tuanya.

Film ini mengandung pesan yang mendalam dan dapat dijadikan perubahan dalam kehidupan, diantaranya adalah tolong menolong dalam kebaikan sejatinya sebagai muslim indah nya berbagi itu tak lagi teruraikan dalam hal apapun dan tantangan terbesar bagi kita seorang muslim menolong meraka yang ingin mempelajari islam dan menjadikannya sebagai keyakinannya, dan yang paling pentingnya juga jangan sesekali kita sebagai ummat muslim merelakan dan meninggalkan agama yang sudah kita sandang sejak dirahim ibu kita hanya karna cinta yang berbeda agama.

Editor   : Amelia Pratiwi

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles