
Medan, Dinamika Online – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Nadiem Makarim menegaskan tahun ajaran dan tahun akademik baru masih menggunakan sistem belajar dari rumah. Hal ini dibuat berdasarkan keputusan bersama secara virtual yang diumumkan melalui siaran langsung di laman YouTube KEMENDIKBUD RI pada Senin (15/6) pukul 16.30 WIB, Selasa (16/4).
Nadiem mengatakan tidak ada pendidikan perguruan tinggi yang akan melangsungkan perkuliahan tatap muka. “Mengenai pendidikan tinggi, tahun akademik tetap dimulai Agustus 2020. Tetapi, pembelajaran di semua zona masih daring, belum belajar tatap muka. Alasannya karena universitas punya potensi mengadopsi belajar jarak jauh lebih mudah daripada pendidikan menengah dan dasar,” kata Nadiem dalam video siaran langsung secara virtual itu.
Lebih lanjut, Nadiem mengatakan ada beberapa aktivitas yang menjadi prioritas bagi kelulusan mahasiswa yang tidak mudah dilakukan secara daring. “Terdapat beberapa aktivitas prioritas bagi kelulusan mahasiswa misal, penelitian di laboratorium, praktikum, studio, bengkel, dan lain-lain yang membutuhkan mesin dan peralatan. Maka dari itu masing-masing pemimpin perguruan tinggi bisa mengizinkan aktivitas mahasiswa ke kampus hanya untuk ini,” lanjutnya.
“Alasannya, karena kita tidak ingin mengorbankan potensi daripada mahasiswa yang ingin lulus saat ini, karena itu akan menciptakan berbagai macam masalah lainnya. Tetapi, pembelajaran masih tetap dilakukan secara daring. Tidak diperkenankan mahasiswa melakukan kuliah tatap muka. Tidak diperkenankan juga mahasiswa berbondong-bondong masuk dalam kampus. Jadi, hanya mereka yang punya proyek individu yang diperbolehkan,” tambahnya.
Kebijakan yang telah ditetapkan tersebut mendapat berbagai respon dari para mahasiswa. Syasya Auni mahasiswi UIN Suska Riau mengatakan ini pengalaman pertamanya merasakan kuliah daring. “Kuliah daring itu pengalaman pertama bagi saya, kuliah daring itu menurut saya seru-seru menantang gitu karena kita bisa melakukan apa saja sekalian kuliah. Namun kuliah daring itu terkadang buat kesal juga, terkadang dosen memberi tugas itu tidak segan-segan,” katanya.
Berseberangan dengan Syasya, Hafidah Oktaviani berharap ketetapan kuliah daring dibatalkan. “Saya tidak setuju, menurut saya Kemendikbud memutuskan tentang kuliah daring itu terlalu cepat begitu saja. Padahal kita masuk itu bulan Agustus, jadi masih ada dua bulan lagi untuk melihat kondisi pandemi ini bagaimana ke depannya. Dan selain itu, alasan yang buat saya tidak setuju kenapa mal, kafe, dan lain-lain dibuka tapi kampus ditutup. Kan sama saja penyebarannya,” ujar mahasiswi USU ini.
Reporter : Asep Muhammad Sobirin dan Rizky Chairunnisyah
Editor : Khairatun Hisan

