
Medan, Dinamika Online – Dilansir dari situs resmi satgas Covid–19, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek BRIN) bersama Satgas Covid–19 sedang mengembangkan Paspor Kesehatan atau Health Passport yang akan membantu pelacakan pasien Covid-19 di Indonesia secara lebih efektif. Hal itu disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof.Wiku Adisasmito, dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Sabtu (26/9).
Jumlah pemeriksaan per orang di Indonesia terus meningkat mencapai 62% dan menuju 267.000 orang per minggunya. Sesuai target WHO, testing minimal 1:1000 penduduk per minggu. “Tes bukan upaya yang mudah terima untuk Indonesia sebagai negara besar. Kami masih terkendala dengan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan dan jumlah masyarakat yang cukup banyak untuk dilakukan tes,” ungkap Wiku.
Pemerintah saat ini masih berupaya menentukan harga terendah test PCR agar bisa terjangkau masyarakat. “Pemerintah pusat dan daerah sudah berupaya mengadakan reagen dan mengefektifkan jumlah laboratorium yang ada sebagai pemeriksa dan pada saat ini sudah mencapai lebih dari 300 laboratorium,” tambahnya.
Lizana saragih berpendapat, upaya Satgas Covid-19 dan Kemenristek BRIN dalam mengembangkan Paspor Kesehatan dapat membantu masyarakat. “Kemenristek BRIN dan Satgas Covid-19 pasti akan melakukan yang terbaik untuk masyarakat Indonesia termasuk dengan mengembangkan Paspor Kesehatan tersebut. Dari tujuannya saja akan lebih memudahkan untuk menindaklanjuti perawatan Covid-19,” ujar Lizana.
Mahasiswi Manajemen Pendidikan Islam itu juga berharap pasien Covid-19 di Indonesia akan berkurang seiring dengan kebijakan yang dilakukan. “Semoga pasien Covid-19 di Indonesia semakin berkurang bahkan hilang dengan kebijakan yang dilakukan ini,” harapnya.
Reporter : Adwar Pratama dan Anita Sari
Editor : Nurul Liza Nasution

