Birokrat Tak Cepat Tanggap, Aliansi Semaf Se-UIN SU Ambil Sikap

- Advertisement - Pfrasa_F
- Advertisement - jd

Setelah surat pernyataan dari beberapa fakultas dimulai dari 26 Maret 2020 lalu kejar-kejaran mendesak pihak kampus untuk mengeluarkan kebijakan terkait perkuliahan daring yang kurang efektif, Aliansi Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Se-kawasan UIN SU mengeluarkan surat pernyataan lanjutan guna mempertegas aspirasi mahasiswa. Sikap beraliansi ini diambil karena pihak Civitas Akademik terkesan lamban dalam menanggapi keluhan mahasiswa, Selasa (1/4).

Dalam surat kali ini ada tambahan berupa permohonan kesediaan pemberian subsidi kuota internet dari pihak universitas serta kejelasan urusan surat menyurat seperti surat riset, surat magang, surat aktif kuliah, dan lain-lain yang kita ketahui memang tidak disediakan di portalsia.

Semaf Saintek sendiri sudah mendapat respon dari Wakil Dekan III bahwasanya surat pernyataan yang mereka keluarkan pada Minggu, 26 Maret 2020 lalu akan dibahas dalam Rapat Pimpinan UIN SU yang sendirinya sudah berlangsung Senin, 31 Maret 2020. “Rapat pimpinannya semalam, hasil rapat pimpinan segera turun. Kita doakan saja sesuai dengan apa yang diaspirasikan mahasiswa,” ungkap Fahcrul Azhari Silalahi yang menjabat sebagai Ketua Semaf Saintek.

Havis Apriyuda Pulungan, Ketua Sema FUSI juga ikut mengeluhkan ketidakefektifan belajar melalui daring. “Belajar tatap muka lebih memuaskan daripada via online sehingga sering ada kendala antara dosen dan mahasiswa,” ujarnya dalam wawancara melalui WhatsApp tersebut.

Havis juga mengatakan bahwa surat pernyataan yang dikeluarkan oleh Sema fakultasnya mendapat tanggapan dari Dekan FUSI, Prof. Katimin. Beliau mengatakan bahwa aspirasi mahasiswa sudah didengar dan didiskusikan oleh seluruh pimpinan fakultas bersama Rektor pagi tadi, hal itu beliau sampaikan tepat pada pukul 16.20 WIB.

Abdul Razaq mahasiswa prodi Sistem Informasi (SI) semester VI sangat mendukung penuh maklumat-maklumat yang tercantum dalam surat pernyataan tersebut karena sangat mewakili mahasiswa. “Sistem perkuliahan secara daring adalah jalan satu-satunya dalam menanggapi kondisi yang sekarang. Namun, yang harus digarisbawahi adalah pembelajaran e-Learning UIN SU tidak efektif karena hanya bisa untuk mengirim dan menerima fail, tidak ada pembelajaran dan dialek di sana, bisa dikatakan e-Learning hanya formalitas untuk pembelajaran di UIN SU,” jelasnya.

Saat diwawancarai, Abdul Razaq juga menekankan poin ke delapan pada surat pernyataan tersebut, dimana ia berharap pihak birokrat bersedia mengalokasikan sedikit dana uang kuliah tunggal untuk subsidi kuota internet, “Tidak sedikit dosen yang menggunakan aplikasi zoom untuk psoses belajar mengajar, meski dipandang baik dari segi hasil karena mahasiswa dan dosen bisa dialog interaktif. Namun, jika ditelusuri lebih lagi, aplikasi tersebut begitu menguras pengunaan data,” jelas mahasiswa yang juga merupakan aktivis HMI tersebut.

Surat Pernyataan tersebut ditandatangi oleh enam dari delapan Ketua Senat Mahasiswa UIN SU, diantaranya FST Fahcrul Azhari Silalahi, FDK Fachrul Rozi, FKM Abdillah Saragih, FEBI Abdul Hamid, FIS Patdli Irsan, dan FUSI M. Havis Azpriyuda Pulungan. Dua fakultas yang tidak ikut adalah FITK dan FSH, di mana saat dihubungi pihak FSH mengaku mempunyai alasan terkait ketidakikutsertaannya. Namun, ketika ditanya ia malah mengulur waktu dan tidak memberikan penjelasan.

Reporter : Nur Azana dan Annisari

Editor      : Rindian

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles