Buah Manis Terakhir dari Ibu

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet /www.freepik.com)

Penulis: Riska Dwi Putri

- Advertisement - jd

Setiap minggu, aku selalu bangun larut siang. Lantaran setiap malam minggu aku maraton menonton film drama Korea. Kebiasaan ini baru aku terapkan sebulan belakangan ini, karena ibuku selalu marah ketika aku maraton menonton film Korea di hari sekolah. 

“Mata kamu sudah seperti panda, Ndok, mending panda putih dan berpipi bulat, lah kamu sudahlah tirus, ireng lagi,” ucap Ibu setiap pagi.

“Yah, ora opo-opo toh, Buk. Kan ini sedang masanya aku akan menaikkan timbanganku biar gembul seperti panda,” ucapku sambil memeluk ibu.

Kecintaanku pada opa-opa Korea membuat lupa merawat diriku ini, yang terakhir kali kuiingat adalah sekitar setengah tahun lalu aku memberi olesan masker pada wajahku. Bahkan, untuk berangkat ke sekolah saja aku hanya menggunakan sun screen dan bedak bayi. 

“Kalau seperti ini terus, bagaimana bisa suamiku yang sedang bermain drama dengan pemeran lain bisa menoleh kepadaku kan?” usikku dalam lamunan.

Namaku Ae-Ri Gina Ardani, saat ini aku sedang duduk dibangku sekolah menengah atas kelas 2. Aku adalah anak tunggal dari Ibu Purgina Ningrum dan Bapak Sulistiyo Pradani. Dari nama orang tuaku saja, sudah tahu bahwa aku dari keturunan keluarga ningrat. Awal pertama aku menyukai drama Korea ketika awal masuk SMA, teman sebangku ku sangat menyukai dan mengikuti drama Korea dari awal hingga akhir pelajaran di kelas. Ketika ia mengenal namaku ada kata Ae-Ri yang dia yakini ada unsur koreanya, sejak saat itu ia meracuni pikiranku dengan segala koleksi film yang ia punya. 

Baiklah, balik sarapan pagi bersama ibuku tercinta. Ketika bangun pagi, aku selalu disajikan dahulu dengan air putih dan buah yang ibu beli. Ibu selalu memberikan buah setiap pagi padaku, bahkan ketika ibu sedang sakit, ibu akan memesankannya dari pajak dengan penjualnya dan mengirimnya ke rumah. Kebiasaan itu terus menerus terjadi dikeluarga kami, karena itulah aku dan ayah selalu sehat dan tidak mudah terserang penyakit. 

Suatu hari pada waktu jam pelajaran sedang berlangsung, aku mendapat kabar dari ayah bahwa ibu tertabrak sepeda motor di persimpangan dekat rumah. Saat itu juga ayah menjemputku ke sekolah dan kami bergegas menuju rumah sakit langganan keluarga besar kami. Aku melihat betapa paniknya ayah saat itu, hingga berulang kali kami menabrak jalanan berlubang padahal ayah hapal betul jalanan ini. 

Sesampainya di rumah sakit, aku melihat ibu terbujur lemas dengan selang yang berada dihidung, mulut dan juga tangannya. Dokter menghampiri kami setelah memeriksa keadaan ibu. “Akibat kecelakaan tadi, kepala pasien terbentur lumayan keras ke trotoar. Keterangan dari saksi mata yang membawa pasien kemari, pasien terlihat sempoyongan ketika berjalan hingga akhirnya terserempet oleh sepeda motor yang melaju. Pasien terlihat syok dan terjatuh, namun naasnya pasien terjatuh dengan kepala mengarah ke trotoar,” jelas dokter tersebut. 

Kini dengkul yang menopang tubuhku seketika lemas ketika mendengar kronologis kejadiannya. Ayah pun turut menangis sejadi-jadinya, ketika mendengar ibu harus melakukan ronsen dan cek lebih lanjut untuk mengetahui ada yang parah dari dalam tubuh ibu atau tidak. Ayah pun langsung mengiyakan perkataan dokter tersebut. 

Keesokan harinya, aku tidak berniat untuk ke sekolah dan melakukan hal apapun. Aku hanya menemani ibu di rumah sakit semalaman sambil terus menggenggam tangan ibu. Rasanya aku sangat merindukan buah dan air putih yang ibu sajikan untukku setiap paginya. Kala mengingat itu, hatiku terus menangis dan merindukan sosok ibu yang selalu memarahiku ketika melihat mataku selalu menghitam dan merah akibat begadang. 

Sejenak aku berfikir. “Apakah ibuku tidak akan bertahan? Apakah buah manis yang selalu disajikannya setiap pagi hari menjadi kesempatan terakhirku untuk merasakannya lagi? Huh, rasanya aku belum siap kehilangan sosok yang sangat istimewa bagiku,” ucapku sambil menangis kembali dan memeluk erat tangan ibu. 

Aku berharap, setelah sadar nanti ibu tetap selalu sayang dan memberikan buah manis untukku setiap paginya.

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles