“Bucin dan Ambyar”

- Advertisement - Pfrasa_F
- Advertisement - jd

 

Ilustrasi: Ditanty Chicha Novri

Penulis: Iin Prasetyo

Begitu ajaibnya cinta. Ia bisa membawa pengaruh besar. Ketika hati telah memilih ke mana ia melabuhkan pencariannya maka ia akan menetapinya karena di dalamnya ada kenyamanan. Betapa asyiknya hidup ini dengan cinta — hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, begitu dinyanyikan dalam sebuah lagu Rhoma Irama.

Namun nyatanya, seseorang bisa saja mempertuhankan cinta, sehingga ia bisa menjadi budaknya, bucin (budak cinta) namanya. Ketika si bucin tidak mendapatkan apa yang ia cari: seribu kota sudah kulewati. Seribu hati sudah kutanyai. Tapi tak seorang pun mengerti, ke mana kau pergi. Bertahun-tahun aku mencari belum kutemukan kau juga sampai hari ini. Semua jadi ambyar, demikian dilagukan Didi Kempot yang akhir-akhir ini viral.

Entah mengapa kini, bucin dan ambyar bisa populer dalam bahasa komunikasi sehari-hari di berbagai kalangan masyarakat. Kedua istilah ini sudah jelas dengan sendirinya. Barangkali mengapa istilah-istilah tersebut bisa populer karena banyak mewakili hati dan perasaan orang. Artinya, ada makna yang terdalam jika memang keduanya hanya menyangkut romantisme — apalagi banyak kesedihan patah hati yang bersahabat dengan keterkenalan bucin dan ambyar; ditambah lagi dengan lagu yang sehari-hari bisa menyamankan hati, mewakili gejolak jiwa.

Bucin dan ambyar tidak cukup dibalikkan oleh dari mana istilah ini berasal lagi. Kedua istilah ini begitu mewakili gejala yang saat ini terjadi dan histori-histori yang juga telah kita alami. Lagi, bucin dan ambyar tidak menyia-nyiakan ketenarannya untuk menyentil situasi negara-bangsa utamanya perpolitikan termasuk secara personal politiknya sendiri yang tengah terjadi. Ketika makna politik menjelaskan tidak ada kawan maupun lawan yang abadi maka kepentingan yang situasionallah menentukan ke mana hatinya berlabuh: ke mana kepentingannya lebih mendapatkan kesempatan dan posisi yang diasakan.

Kesetiaan dan politik

Dan, mempercakapkan kesetiaan pada hubungan personal pun tidak terlepas dari ambyar. Kesetiaan seperti yang dibahasakan lagu-lagu sendu Didi Kempot seakan-akan mendefinisikan keadaan tengah krisis dan meluas ke mana-mana. Stephanie Schramm (die Zeit, 7/4/2011), sebuah studi dari Hamburg dan Leipzig, Jerman pada artikel Sindhunata, dijelaskan bahwa 90 persen responden menyatakan ingin tetap setia kepada pasangan namun, 50 persennya setidaknya sekali pernah melanggar kesetiaan itu.

Setia dianggap bukan hanya pada seseorang pasangan seumur hidup. Orang juga bisa merasa setia terhadap “orang lain” yang sedang jadi pasangannya pada suatu saat. Kesetiaan itu bisa menjadi serial, kesetiaan pada pasangan yang berganti-ganti.

Melihat perkembangan kini, rata-rata orang tidak bisa terlepas dari mobile. Mobilitasnya yang teramat cepat sehingga menyebabkan interaksi dengan “orang baru” pun seseorang sulit mengelaknya. Privasi seseorang juga bisa terkesampingkan akibat progres internet. Dari progres tersebut orang juga dengan mudah menemukan banyak hal baru dan terus tumbuh dan berkembang.

Berangkat dari apa yang terjadi ini kesetiaan pun juga bisa terkesampingkan — jika dulu barangkali setia itu didukung oleh keterbatasan alat komunikasi sehingga interaksi tidak langsung dengan seseorang pun juga terbatas maka kini ketidaksetiaan juga didukung oleh revolusi teknologi dunia maya. Maka, bucin yang awalnya bisa bersetia akibat tumbuh dan berkembang dunia maya, kesetiaan pun bisa ambyar.

Dalam politik kesetiaan juga merupakan sesuatu yang bernilai seperti dalam cinta — bahkan kesetiaan merupakan keutamaan dalam ilmu politik. Terciptanya politik yang baik bermuasal dari politikusnya yang bersetia baik pada konstituennya maupun mitra koalisinya dalam mencapai target dan tujuan bersama.

Politik yang seharusnya dibangun dalam pengorbanan dan ketulusan yang diharapkan terlahirnya komitmen justru bisa dengan mudahnya terbentuknya secara sengaja perselingkuhan politik. Bisa jadi karena mobilitas kekuasaan memiliki kekuatan yang tidak seberapa dan tidak berkembang sehingga tujuan pun tidak tercapai.

Politik juga bisa disebut salah satu interpretasi dari cinta. Kesetiaan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang komitmen — mau berkorban membangun kekuatan. Jika hal itu tidak tergapai justru sebaliknya hal yang tidak diinginkan maka kesetiaan dalam politik bisa jadi terjangkit virus ambyar. Dan jika bucin rela melakukan apa pun untuk mempertahankan cintanya maka, kesetiaan dalam politik adalah tatkala tujuan tertentu (keleluasaan; kekuasaan) bisa tercapai di mana dan dengan siapa ia memiliki peluang untuk berkawan.

Bentuk kesetiaan dalam politik

Situasi politik negara-bangsa saat ini menunjukkan kesetiaan dalam bentuk yang unik jika dibandingkan dengan kesetiaan dalam cinta. Lihat saja momentum bergabungnya Prabowo Subianto dengan pemerintah.

Di satu sisi menyatunya pimpinan Partai Gerindra tersebut dalam Kabinet Indonesia Maju merupakan kelegaan pada situasi politik yang demikian panas, lawan bisa menjadi kawan. Akan tetapi tanggapan publik melihat situasi sosial-politik yang seperti ini tidak bisa dibungkam. Tetap saja ada pertanyaan: sebegitu gampangkah berpaling dari pengorbanan pendukungnya?

Dalam ruang yang begitu luas dan waktu begitu panjang persaingan politik antara Prabowo dan Jokowi begitu panasnya di segala lini kehidupan namun, pertunjukan politik dikejutkan dengan berpadunya kedua kubu ini.

Entah apa yang merasukimu, begitulah barangkali lirik lagu dalam bentuk pertanyaan yang ditujukan kepada Prabowo dan Jokowi. Ini merupakan pertanyaan besar bagi publik yang terjelaskan dengan sendirinya dengan 1.001 pembenaran, misal: lebih penting bersatu karena ingin sama-sama membangun negara-bangsa; kita punya satu visi-misi dan tujuan yang kuat dan searah untuk membangun negara-bangsa. Pembenaran seperti ini siapa yang bisa membantah?

Bagaimana dengan kawan lama Gerindra yang sakarang terasa sebatang kara menjadi oposisi? Apakah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) nelangsa? Ternyata tidak juga. Adegan berpelukan Prsiden PKS Sohibul Iman dengan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh sepertinya sedikit menjawab bahwa ada cinta dalam bentuk politik yang hendak dibangun.

Dan PKS pun kini sepertinya tidak merasa sendiri membangun negara-bangsa di luar pemerintah. Melihat ini, Presiden Jokowi pun mengungkapkan kecemburuannya bahwa ia tidak pernah dipeluk seerat demikian oleh Surya Paloh sebagai kawan yang sama-sama berjuang saat pilpres.

Kesetiaan Surya Paloh yang telah dibangun dengan yang hendak dibangun pun keduanya masih ambigu. Hal ini terlihat bahwa Nasdem belum meninggalkan pemerintah secara kafah dan itu tampak dari jatah menteri yang dihadiahkan Jokowi. Lantas apa kurangnya Jokowi dan apa lebih menawannya Sohibul Iman?

Begitulah perilaku para bucin politik — kepentingan adalah majikannya. Sudah menjadi gambaran bahwa demokrasi bagi politikus kini seolah-olah menjadi material untuk mendapatkan kekuasaan. Apakah ini situasi politik yang ambyar? Namun, seperti yang dirisalahkan seorang filsuf Richard David Precht, politik itu tidak lahir dengan sendirinya. Politik itu lahir dari kepercayaan dan kejujuran rakyat. Rakyat lalu mengharap, agar berdasarkan kepercayaan itu politik bertindak bijak, setia, dan tahu diri.

Editor: Maya Riski

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles