Budayakan Ucap Maaf, Tolong, dan Terima Kasih

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. (Foto/Ilustrasi/Freepick)
- Advertisement - jd

Penulis : Sri Julia Ningsih

Sebagian dari kita menganggap sepele kata “maaf, tolong, dan terima kasih” dalam muara kehidupan sehari-hari. Pasalnya, banyak dari kita yang dengan atau tanpa sadar menghilangkan ucapan-ucapan baik itu. Hal ini tentu menjadi tugas kita sebagai sesama manusia, menyoal bagaimana seharusnya maaf, terima kasih dan tolong terbiasa diucapkan oleh lisan sesama kita.

Seiring berjalannya waktu ada banyak hal yang telah berubah. Banyak kosa kata baru yang timbul dengan sendirinya dan beredar di kalangan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita melupakan kosa kata lama yang meskinya selalu kita gunakan. Ada kosa kata yang lebih baik yang bisa kita ucapkan dibanding “ah, baper lo!” yakni kosa kata ‘maaf, tolong, dan terima kasih’.

Semenjak  kosa kata itu tren dan biasa terdengar di telinga, maka sesering itu juga ada beberapa hati yang tersakiti. Pasalnya, setiap kali buat salah, seseorang langsung bergumam “ah, gitu aja baper, sikit-sikit baper, kurang jauh ah, main mu.” Seolah-olah, hati yang teriris hanya perasaan belaka, yang tak layak untuk diperhatikan. Semeskinya kata ‘maaf’ yang dilontarkan, akan tetapi jadi  hilang ditelan pemakai kosa kata baru.

Orang-orang menganggap maaf, sebagai bentuk kita mengerdilkan ego kita. Kita berusaha sebesar-besarnya untuk tidak merasa lebih besar, lebih baik, atau lebih tinggi dari orang lain. Kita meninggalkan baju “kekuasaan kita” untuk bisa setara dengan siapapun yang kita ajak bicara saat ini. Kita menanggalkan ego kekayaan agar setara saat bicara atau kita dalam konsep sama-sama besar dengan orang yang kita ajak bicara berusaha lebih “kecil” darinya.

‘Maaf’ dalam perspektif yang luas bisa sebagai bentuk penghargaan dan pengharapan yang besar karena ego kita telah tiada. Kita berharap dan memang itu tujuannya untuk si teman ini tadi bisa sama-sama menanggalkan ego juga. Sehingga, tujuan awal kita untuk bisa sama rasa sama rata bisa terlaksana dengan sempurna.

Lalu, orang-orang menganggap kata tolong, sebagai sebuah bentuk penghargaan setinggi-tingginya kepada siapapun yang kita mintai tolong. Memang tidak mengherankan, kata tolong dianggap sebagai  bentuk penghargaan karena  mampu memberi dampak yang besar. Kita menganggap orang yang memberi kita pertolongan memiliki power yang besar, sehingga apresiasi kita terhadapnya juga begitu besarnya walau hanya sampai pada sebuah kata.

Dalam kehidupan sehari-hari bahkan kita seolah berkewajiban untuk mengucapkan tolong hanya untuk meminta bantuan hal yang remeh-temeh. Semisal saja meminta tolong adik kita mengambilkan kunci motor di atas meja ketika kita lupa. Memang ini termasuk hal yang remeh, tapi andilnya begitu besar untuk kita, akhirnya tidak perlu masuk ke dalam rumah lagi ketika sudah berada di luar rumah, misalnya.

Dan yang ketiga adalah ungkapan terima kasih. Sebagai bentuk ungkapan kegembiraan atau bisa juga apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada lawan bicara atau yang telah memberikan kita bantuan. Kadang ungkapan terima kasih kita juga tidak jauh berbeda sebagai bentuk ungkapan mengkerdilkan diri kita di hadapan lawan bicara sebagai bentuk keseriusan kita untuk mengapresiasi kinerja orang tersebut.

Namun belakangan, kombinasi ketiga ungkapan ini mulai hilang di tengah masyarakat. Sebagai gantinya, kadang kita lebih sering merasa tidak butuh lagi mengucapkan terima kasih, karena kita sudah memberi duit kepada kasir. Memang sepele sekali. Padahal ungkapan penghargaan dengan ucapan terima kasih ini saya rasa masih tetap perlu. Karena kita tidak tahu efek dari penghargaan kita mungkin akan mengurangi beban kerja keras yang telah dilakukannya sepanjang hari ini.

Pada akhirnya, kita mulai melupakan budaya kita yang telah turun-temurun ini dan terganti dengan hal-hal lain yang lebih milenial. Mungkin pula ada terselip hal-hal tersirat dari ketiga kombinasi ungkapan maaf, tolong, dan terima kasih ini sudah tidak terlalu penting bagi kita. Bagi kita saat ini, asal apa yang ingin kita omongkan tersampaikan, lantas basa-basi sudah tidak kita perlukan.

Padahal kita sedang tidak menyadari betapa besar efek dari ungkapan maaf, tolong, dan terima kasih yang kita sisipkan di dalamnya. Untuk itu, budayakan lisan mengucapkan maaf, tolong dan terima kasih terlepas dari siapapun kita.

Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles