Catatan Hati Anak Pertama

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi dari cerpen “Catatan Anak Pertama”. (Foto/Ilustrasi/Pexels/brother’s photo)
- Advertisement - jd

Penulis: Nila Maida

Namaku Tara Safira. Anak pertama dari dua bersaudara. Akan kuceritakan sedikit pengalamanku sebagai anak pertama. Hari-hariku berjalan dengan indah sebelum aku mempunyai seorang adik perempuan. Tepat diumurku yang ke-4 tahun. Aku masih ingat kala itu aku dititipkan di rumah sepupuku.

“Mbak, tidur disini dulu ya. Bapak mau nungguin mamak di rumah sakit.” Kata Bapakku.

Dengan sangat tidak rela akupun menjawab, “Iya, pak.”

Baca juga: Jangan Takut Gelap /3/

Pada saat itu, aku mulai berpikir akan menjadi kakak seperti apa aku ini, dan apa yang akan aku lakukan saat menjadi seorang kakak? Dalam pikiranku menjadi seorang kakak tidaklah mudah dan tidak menyenangkan. Waktu bermainku mulai berkurang, karena diharuskan untuk menjaga adik ketika ibuku mengurus pekerjaan rumah. Lebih parahnya lagi, pada saat itu usaha catering kue ibuku mulai banyak pesanan. Banyak teman mainku dirumah mulai enggan bermain bersama lagi. Mereka memilih bermain sendiri dan mulai membuat markas permainan yang bisa dikunjungi siapa saja selain aku.

“Oi we, kapan kalian buat tempat ini? Gak ngajak-ngajak aku pula.” Kataku.

“Ngapain kami ngajak kau, orang kau aja sibuk sama adik barumu itu.” Ucap Ari salah satu temanku yang logatnya Batak sekali.

Baca juga: Pondok Itu Mungil

“Parah kalian ya, aku jarang main aja udah dimusuhi sama kalian. Yaudah kalo gak mau main bareng lagi bagus aku pulang aja.” Jawabku dengan kesal.

Tahun demi tahun berganti. Ketika aku memasuki kelas empat sekolah dasar, adikku si bungsu itu juga baru masuk SD. Parahnya, kami berada di sekolah yang sama. Padahal, saat itu aku malas berurusan dengan adikku yang baru masuk. Setahuku, dia orangnya sedikit tomboi. Dengan gayanya yang seperti anak laki-laki dan kebanyakan temannya juga anak laki-laki.

Saat itu, ia menjadi bahan bully oleh teman-teman sekelasnya.  Jadi, hampir setiap harinya dia menangis, dan hampir setiap hari aku pergi ke kelasnya. Akupun tidak pernah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, yang ada hanya ketika jam istirahat tiba aku dipanggil wali kelasnya untuk melihatnya setiap kali dia menangis. Sebagai seorang kakak, ya pasti aku sangat kesal setengah mati. Sampai suatu hari, kesabaranku habis, aku dan beberapa temanku mendatangi mereka yang suka membuat adikku menangis dengan gaya ala-ala kakak kelas yang populer dan ditakuti oleh semua adik-adik kelas. “Woi, kalian apakan adikku hah?!” dengan gaya yang tinggi dan muka sok diseramin.

Baca juga: Aku Rindu Pulang Bareng Ayah

“Gaada kak, g.. g.. gak ada kami apa-apain kak.” Jawab salah satun teman adikku dengan gagap.

“Kalau ga ada kok dia tiap hari nangis? Awas aja ya kalau sampai kalian gangguin dia lagi, bisa keluar kalian dari sekolah ini. Minta maaf sana.” Ucap salah satu temanku yang mukanya juga dibuat sangar saat itu.

Saat itu, mereka langsung bergerak dan meminta maaf. Aku rasa barangkali mereka belum tau siapa kakak yang tiap hari mereka jadikan bahan bullyan di kelas, yang sudah terkenal di kalangan guru dan seisi sekolah. Sejak saat itu mereka tidak pernah lagi mendekati atau bahkan mengganggu adikku.

Menurutku, menjadi kakak diusiaku yang masih muda dulu adalah hal yang sangat rumit. Bahkan sekarang pun juga masih terasa sulit. Kakak yang biasanya merupakan panggilan hormat untuk anak tertua di keluarga seakan-akan sudah tertera tanggung jawab dan beban yang besar dipundaknya. Sampai-sampai jalannya pun harus bungkuk seperti nenek-nenek hehehe…, seperti aku ini.

Aku pernah mengalami kejadian terburuk dan kemudian sangat menyesali karena aku dilahirkan sebagai anak pertama. Saat itu, aku bertengkar hebat dengan adikku. Sampai-sampai aku tidak tahu saat itu adikku berlari keluar rumah dan tersenggol sebuah motor yang melaju kencang hingga ia terjatuh. Dari kejadian itu, aku dimarahi habis-habisan oleh bapak sampai aku jenuh dan tidak mau lagi menjadi seorang kakak. Tak lama kemudian ibu datang, ia mencoba menyemangatiku dan memberitahuku kalau seorang kakak tidak boleh ceroboh dan mau menang sendiri. Ibu bilang aku bisa menjadi kakak yang baik untuk adikku nantinya.

Baca juga: Perjuangan Semut

Dari kejadian itu, aku menjadi tahu bahwa tidak selamanya seorang kakak punya tugas yang berat dalam mengurus adik-adiknya. Menjadi seorang kakak juga punya kelebihan. Selain barang-barang yang dipakai semuanya pasti baru, menjadi kakak juga bisa membuat sikap kita lebih dewasa.  Kita bisa memberi nasihat tentang baik buruknya suatu tindakan yang didapat dari pengalaman sebelumnya. Meskipun terkadang aku juga berharap ingin mempunyai seorang abang yang bisa melindungiku kapan saja. Tetapi menurutku tetap saja, biarpun aku sebagai seorang kakak yang jarang mendapat perlakuan yang istimewa dibanding adikku tetapi seorang kakak adalah orang yang harus selalu dibanggakan. Sebab ketika sudah dewasa, beban seorang kakak makin bertambah sejalan dengan bertambahnya usia. Masih ada orang tua yang akan menjadi tanggung jawab kita nanti saat sudah renta.

Sebagai anak pertama, aku tidak pernah menyesal karena dilahirkan lebih dulu daripada adikku. Aku juga ingin menunjukkan kepada adikku nantinya bahwa anak pertama itu lebih kuat mental daripada anak yang lahir sesudahnya.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles