Cegah Penyebaran Covid-19, Menag Berikan Panduan Ibadah

- Advertisement - Pfrasa_F
- Advertisement - jd

Medan, Dinamika Online – Terkait Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nomor 069-08/2020 tentang Protokol Penanganan Covid-19 Pada Area Publik di Lingkungan Kementerian Agama dan aturan perundangan serta petunjuk/imbauan lain dan Fatwa MUI yang terkait, maka Menteri Agama menerbitkan surat edaran panduan untuk melaksanakan rangkaian ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah di rumah. Guna mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari resiko Covid-19, Kamis (9/4).

Drs. Achmad Ramadhan, M.A, salah satu dosen Al-Qur’an UIN SU menanggapi surat edaran ini tidak wajib untuk mengikutinya, karena kondisi setiap daerah tidak sama dan pelaksanaan Nuzulul Qur’an serta Iktikaf bisa disesuaikan dengan arahan Kemenkes. “Surat edaran ini dibuat sebagai panduan untuk melaksanakan ibadah di kondisi khusus seperti sekarang ini yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak, tetapi ini tidak wajib untuk mengikutinya karena kondisi penyebaran wabah Covid-19 di setiap daerah tidak sama,” tanggapnya.

“Berkaitan dengan peringatan Nuzulul Qur’an dan Iktikaf, bisa disesuaikan dengan arahan Kemenkes, yaitu memakai masker dan physical distancing. Jumlah jemaah di setiap masjid berbeda, apalagi dikaitkan dengan kebiasaan selama ini di bulan Ramadan bahwa masjid dipenuhi jemaah hanya di awal Minggu, ketika pertengahan Ramadan sudah menciut jumlahnya.” lanjutnya.

“Tidak adanya pertemuan keluarga pada momen Idul Fitri tidak akan berakibat putus atau kurangnya ukhuwah. Kita bisa mengambil pelajaran dari proses belajar mengajar yang dilakukan saat ini, menggunakan teknologi yang kita mampu dan kuasai untuk tetap bersilaturahim.” tambahnya.

Prof. Dr. Ahmad Qorib, M.A, salah satu dosen Ushul Fikih UIN SU juga menanggapi bahwa panduan ibadah ini dikembalikan kepada masing-masing menyikapinya. “Kalau seseorang berhalangan salat Jumat di masjid karena alasan tertentu yang diakui oleh syarak, maka diganti dengan salat zuhur. Salat tarawih itu sunah, Rasulullah hanya tarawih di masjid tiga kali. Mau tarawih atau tidak terserah masing-masing, demikian juga salat Idul Fitri,” tanggapnya.

Salah satu mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester empat, merespon surat bahwa keberkahan Ramadhan tetap bisa didapat dengan melaksanakan ibadah di rumah. “Dalam kaidah fikih menghilangkan kemudaratan itu lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemashlahatan. MUI juga sudah memberikan fatwa bahwasanya salat tarawih bisa dilaksanakan di rumah saja. Jadi keberkahan Ramadan, insyaallah tetap kita dapatkan dengan melaksanakan ibadah, seperti salat, tadarus di rumah masing-masing,” kata Affan Akbar Tanjung.

Reporter : Muhammad Tri Rahmat Diansa dan Nur Azizah Hanifah

Editor      : Rindiani

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles