Cinta Butuh Kesederhanaan, Bukan Kekayaan

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Tumbularani
- Advertisement - jd

Penulis: Tiwi Sartika

Udara pagi tak sebersih yang orang bayangkan, suara klakson bersautan membentuk alunan acak yang membuat telinga terasa gatal. Hari-hari di mana aku berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor pribadiku, hanya alunan klakson dan nyanyian pengendara yang kudengar, saat itu.

Di perjalanan yang panjang, pikiranku selalu berkecamuk, masih saja memikirkan masalah. “Kenapa dia tidak menyayangiku?” Apa karena aku juga tak perhatian kepadanya? Ini bukan soal cinta biasa, ini termasuk permasalahan yang rumit sepanjang aku hidup.

Setiba di sekolah, banyak pemandangan romantis yang kulihat, beberapa sepeda motor mengantarkan buah hatinya ke sekolah. Ada yang hanya berjabat tangan, ada pula yang meninggalkan bekas kecupan di kening. Kadang aku berpikir. “Masih pantaskah aku diperlakukan seperti itu? Apa aku termasuk anak yang kurang disayang? Hay, kamu terlalu bocah untuk diperlakukan seperti itu Nak.”

Baca juga: Aku Ingin Selalu Didekatmu, Laika

Sejak kecil aku termasuk anak yang di manja orang tua. Entah mengapa sifat manja itu dilepas sejak masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga sekarang Sekolah Menengah Atas (SMA). Banyak yang bilang, biasanya anak perempuan kerap dekat dengan Ayahnya. Sering terjadi percakapan antara aku dan teman-teman ku. “Biasanyakan, anak cewek itu lebih dekat ke Ayah ketimbang Ibu.” Lalu, aku mengiyakannya, padahal kata hatiku itu semua dusta, mengapa aku lebih dekat ke Ibu? Tetapi, demi kenyamanan aku tetap membenarkan statement-nya.

Banyak cerita dari tetangga yang kudengar. “Kamu dulu lebih dekat ke Ayah, kemana-mana selalu digendong, selalu ikut.” Lalu, aku inisiatif untuk membuka album jadul yang ada di lemari. Wah ternyata benar, rata-rata yang ada di gambar adalah Ayah dan aku, lantas mengapa aku masih merasakan kurangnya cinta Ayah kepada putrinya?

Hubungan kami renggang sejak aku SMP, masa di mana pubertas mulai memuncak. Saat itu pekerjaan Ayah sebagai wiraswasta, aku merasa cukup malu menerima kenyataan itu, melihat Ayah teman-temanku pekerjaannya di atas rata-rata dari Ayahku. Saat itu juga, aku pernah membuat Ibu menangis, karena tak dibelikan sepatu baru yang bermerek dan mahal. Mungkin Ayah sempat membenciku, dari kejadian itu hubungan kami terasa bukan seorang Ayah dan anak.

Baca juga: Anak Ajaib /2/

Selang kejadian itu, aku semakin bejat. Aku mulai berpacaran dengan teman sekelasku, saat itu keadannya Ayah belum tahu, setelah beberapa minggu ternyata aku diperhatikan Ayah, karena seringkali menatap layar ponselku. Akhirnya aku ketahuan, saat itu keadannya mati lampu, Ayah meminjam ponselku dengan alasan ingin menghidupkan genset. Ternyata diam-diam Ayah memeriksa pesan masuk di ponselku, dan akhirnya aku ketahuan. Pacaran adalah hal yang dibencinya, Ayah tak mau bicara denganku selama seminggu, hubungan kami semakin renggang, aku hampir diberhentikan dari sekolah karena pacaran.

Masa pubertas telah usai, aku mulai menyesali masa lalu buruk yang telah ku perbuat, komunikasi dengan Ayah mulai terjalin, walaupun kerap segan untuk membuka pembicaraan. Masuk ke sekolah menengah atas aku mulai tumbuh dewasa, sifat egoisku mulai terbuang. Hanya saja masih jarang untuk bertemu dengan Ayah, karena jadwal sekolah yang terlalu padat, mulai dari pagi hingga petang. Masa SMA tak terlalu menarik untuk disampaikan, hari-hariku juga sangat membosankan.

Pendaftaran kuliah dimulai, semua ujian kuikuti, ini adalah masa di mana aku dan Ayah akrab kembali, sangat sering bertukar pikiran, berdebat, walaupun pada akhirnya aku yang kalah. Ini merupakan masa yang sangat berkesan antara aku dan Ayah. Semua yang kumau selalu didukungnya.

Baca juga: Seberapa Menakutkan Virus Corona di Sumut?

Banyak ujian yang kuikuti, tapi satupun tidak ada yang lulus, biasanya Ayah akan memarahi, apabila hasil yang keluar tak sesuai dengan keinginannya, tapi itu semua di luar kendaliku, Ayah malah memberi dukungan yang baik. Di masa ini, Ayah sering bercanda, begitu pula sebaliknya, rasanya tak mau lepas dengan masa ini. Tetapi harus dipaksa untuk tidak kembali menjadi anak yang manja.

Akhirnya, aku kuliah di Yogyakarta, walau jarak yang tak terlalu jauh dengan kota kelahiranku, tetapi rasa rindu masih sering menyelimutiku. Di masa kuliah Ayah terlalu baik, terlebih ketika bertanya apakah uang kiriman bulan lalu sudah habis atau belum. Sekarang aku mengerti, kasih sayang orang tua tiada duanya, tak perlu memandang pekerjaan orang tua mu, cukup Ikhlas dan doakan untuk kebaikannya, karena sesungguhnya orang tua pun telah memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Sayangi orangtuamu.

Editor : Rindiani

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles