CRU Sampoiniet Aceh Jaya Rumah Tinggal Para Gajah

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Muhammad Maulana Akbar

- Advertisement - jd

Berlokasi di kaki gunung Ulu Masen dan berdampingan dengan aliran sungai Krueng Ligan yang jernih yang berhiaskan pasir coklat lembut mampu membiaskan mata dan memuaskan rasa ingin tahu tentang kehidupan gajah. Iya, Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet Aceh Jaya yang berdiri sejak 2009. Konservasi ini memiliki bentang alam raya yang begitu membuat nyaman dengan vegetasi yang masih sangat rapat dan polusi yang nihil adanya.

Dengan demikian, menjadikan tempat ini rumah yang sempurna untuk gajah dan tempat edukasi yang nyaman untuk manusia. Untuk melihat CRU menempuh waktu kurang lebih 3 jam perjalanan darat dari Banda Aceh menuju Aceh Jaya. Walaupun jarak yang terbentang terbilang cukup jauh, akan tetapi sepanjang jalan, kedua pasang mata akan disuguhkan dengan pemandangan indah di setiap sisi jalan.

Di sebelah kanan terbentang luas bibir pantai yang menghadap langsung kepada biru dan ganasnya laut, serta di sebelah kiri akan tersaji megahnya para pasak bumi yang saling menunjukkan kebesarannya dan bersambung megah dengan deretan bukit barisan. Hembusan sendu angin pantai berpadu sempurna dengan dinginnya udara gunung, membuat perjalananmu terasa begitu cepat, dan benar saja.

Sampailah kita di jalan masuk menuju CRU, setelah jalan raya dengan kemulusan nan kemolekan tikungan yang indah. Kini kita telah memasuki jalan yang di mana para gajah sumatera berada. Ini adalah tempat yang begitu didamba-damabakan oleh jiwa-jiwa yang butuh ketenangan dan ingin memberi lebih kepada bumi, tempat ia terlahir, dan wadahnya terkubur.

Alam dan manusia agaknya hidup berdampingan dan saling memberi rasa aman dan menjaga keberlangsungan. Seperti contohnya, CRU ini yang sudah kurang lebih 13 tahun berdiri di antara congkaknya manusia dan dangkalnya satwa, bersebelahan dengan gemercik sungai dan rimbanya hutan Aceh Jaya.

Gagasan awal didirikannya CRU ini ialah untuk mempercepat bergeraknya tim reaksi jika ada konflik antar satwa dan manusia. CRU sampoiniet ini juga menyediakan pelatihan dan bimbingan untuk setiap orang yang datang, entah sekadar ingin tahu tentang apa yang ada di dalamnya atau memang benar-benar ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.

Selain menjadi tempat pembelajaran bagi jiwa raga yang tergugah dengan kegelisahan yang ada, tak jarang tempat ini juga menjadi taman rekreasi bagi wisatawan dari dalam negeri atau luar negeri. Untuk tempat tinggal selama di sini akan ada kamar khusus dan dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi di belakang tiga bangunan semi permanen seperti pondok di tengah hutan, akan tetap cukup nyaman karena berpondasikan peduli yang kuat bukan pungli yang masih melekat.

Ketika waktu azan tiba, ada musala yang telah tersedia untuk memanjatkan puja dan puji kepada Sang Pencipta. Di dalam CRU ada tiga gajah, Isabela, Aziz dan Juana yang menunggu untuk berinteraksi denganmu.

Mereka adalah gajah jinak yang ada di sini dan mereka sangat terbuka untuk manusia baik sepertimu. Setiap tiga bulan sekali, ada dokter hewan khusus yang rutin mengecek keadaan kesehatan mereka, dan setiap gajah mampu makan dari 10% berat tubuhnya.

Gajah-gajah di sini memiliki masing-masing satu pawang atau orang lokal menyebutnya mahoet. Mereka merupakan manusia-manusia tangguh yang mampu menaklukkan gajah yang begitu besar dan diajak berinteraksi dengan manusia yang sebegitu kecilnya. Latar belakang mereka juga berbeda-beda, ada yang dari penebang hutan lalu menjadi peduli hutan, dan lain adanya.

Lalu, apa yang masih meragu di hatimu? Alam ini butuh kepedulianmu, bukan keinginanmu.

Editor: Adelini Siagian

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles