Derajatmu Dilihat Dari Tingkat Takwa dan Iman

- Advertisement - Pfrasa_F
Seorang lelaki di dalam mesjid. (Foto/Ilustrasi/Sutterstcok)
- Advertisement - jd

Penulis: Siska Ramayani Damanik

Sebagai manusia yang menumpang hidup di bumi Allah sepatutnya kita tahu diri. Menanamkan dalam hati bahwa Allah lah sejatinya pemilik diri dengan berbekal takwa kepadanya seperti yang telah Allah terangkan dalam Q.S Al-Baqarah : 197 “Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal”.  Dari ayat ini jelas Allah katakan bahwa kita harus bertakwa padanya sebagai hambanya yang berakal.

Selain itu, pada surah At-Tin ayat 3-4 Allah juga mengatakan hal serupa “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. Ahsani taqwiim pada ayat ketiga maksudnya manusia memiliki bentuk paling baik dibandingkan dengan makhluk lain, sedangkan Asfala saafiliin merupakan manusia yang tidak taat pada Allah dan rasul kelak akan dikembalikan pada tempat yang paling buruk yaitu neraka jahannam.

Baca juga: Rektor UIN SU Resmikan Barbershop Juara

Dari ayat ini kita simpulkan bahwa ketakwaan sangat dinilai oleh Allah. Ketakwaan bisa dikatakan sebagai alat ukur dari tinggi rendahnya derajat seorang hamba di mata Allah. Lantas untuk menjadi manusia Ahsani taqwiim dan jauh dari Asfala saafiliin apa yang harus kita lakukan?. Berikut cara-caranya:

Pertama, kita harus banyak bersyukur. Tak perlu harus memiliki banyak harta baru membuat kita bersyukur, apa yang kita miliki seluruhnya adalah milik Allah maka seluruhnya harus kita syukuri. Sederhananya, mendapatkan karunia Allah SWT yang berupa dua mata, dua telinga, dua tangan, dan dua kaki yang masih sempurna ini kita harus bersyukur dengan syukur yang sebenar-benarnya. sebagaimana dalam Q.S Al-Mulk:23 menjelaskan “Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.” Jangan sampai kita menjadi bagian yang kurang bersyukur itu.

Baca juga: Metode Hafal Al-Qur’an Ala Baraa Masoud

Kedua, kita tidak boleh zalim pada diri. Maksudnya di sini adalah seluruh organ tubuh kita adalah titipan Allah maka kita harus mempergunakan seluruhnya dengan baik sesuai dengan kegunaan masing-masing. Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban kita kelak. Seperti yang Allah terangkan dalam Q.S Al-Isra:36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.”

Semoga kita bisa mengingat dan menerapkan apa yang diperintahkan Allah tersebut sebab dari ayat tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa semua tindakan yang kita lakukan baik melalui tangan, telinga, mata, kaki bahkan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Maka jangan sampai tangan yang seharusnya kita gunakan untuk membantu serta memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, malah kita gunakan untuk menganiaya, menyiksa, bahkan membunuh orang lain hanya karena hal yang sepele. Dan jangan sampai tangan yang kita miliki ini kita biarkan untuk mengurangi timbangan dan mengurangi yang seharusnya menjadi hak orang lain, terlebih lagi jika tangan ini kita gunakan untuk korupsi yang sudah pasti sangat merugikan orang lain. Naudzubillah.

Baca juga: Sekolah Maunya Kuliah, Kuliah Maunya Nikah

Begitu juga dengan mata, jangan sampai kita biarkan mata kita melihat hal-hal yang dilarang oleh agama bahkan hal-hal yang jelas dilaknat oleh Allah SWT. Serta telinga, dan mulut, jangan sampai kita gunakan untuk mendengar dan mengucapkan hal-hal yang tidak sewajarnya, tetapi marilah kita gunakan dengan memperbanyak membaca al-qur’an, berzikir kepada Allah SWT serta menuturkan kalimat-kalimat Thoyyibah. Karena semua organ tubuh kita ini nantinya akan menjadi saksi di akhirat.

Ketiga, kita harus bisa menggunakan waktu kita sebaik-baiknya. Maksudnya adalah selama hidup ini kita harus memastikan bahwa hidup kita bermanfaat, bukan sekadar mendapat manfaat di dunia tapi juga bisa menjadi manfaat di hari akhir. Dengan pahala tentunya. Perlu kita ingat, bahwa Nabi Muhammad SAW, yang dijanjikan surga oleh Allah saja wafatnya masih menghadapi sakratul maut, lantas bagaimana dengan kita? Apa yang bisa kita banggakan hingga kita mau menyia-nyiakan hidup untuk tidak melakukan amal kebaikan?

Baca juga: Hangatnya Sebuah Keluarga

Keempat, mulailah dengan memperbaiki hati. Hati adalah organ tubuh yang cenderung mempengaruhi pola fikir dan perbuatan manusia. Jika hati kita baik maka apa yang kita fikirkan dan apa yang kita lakuakn akan mengarah pada kebaikan, sebaliknya jika hati kita kurang baik maka apa yang kita fikir dan apa yang kita lakukan cenderung kurang baik pula. Sebagaimana  telah dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang artinya  “Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah, manakala ia baik maka baiklah seluruhnya tapi manakala ia buruk maka buruklah seluruhnya, ia adalah hati.” (HR. Muslim).

Kelima, jadikanlah agama islam sebagai tujuan utama hidup kita sehingga apa yang kita lakukan adalah apa yang tertuang dalam ajaran agama kita. Sebab islam adalah agama yang diridai Allah SWT seperti yang tertuang dalam Q.S Ali-Imran: 19 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah SWT hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah SWT maka sesungguhnya Allah SWT sangat cepat hisab-Nya.”

Baca juga: Juarakan Kampus, Rektor Resmikan Hotel Syariah

Terakhir, mari kita menjadi hamba yang komitmen di jalan Allah. Jadikanlah jasmani dan rohani kita selalu bersih karena dibingkai dengan nilai-nilai agama Allah. Hidup karena Allah maka mati juga diatas agama Allah. Karena takwa dan iman adalah penentu derajat kita di mata Allah.

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles