Desa Paropo, Surga Kecil dari Sisi Lain Danau Toba Sumatera Utara

Penulis: Farhan Rizky Wahyudi

Siapa yang tak tahu Danau Toba? Danau yang tercipta dari letusan gunung berapi purba ini menjadi cikal bakal danau vulkanik terbesar di dunia sangat kian populer, tak hanya di nusantara bahkan seluruh dunia. Tak ayal banyak wisatawan yang mengunjungi tempat yang eksotis nan indah ini yang merupakan suatu anugerah dari Tuhan di pulau Sumatera ini.

Pengambilan foto ini memiliki cerita berkesan untuk saya dan teman-teman, tanpa rencana matang, tiga sepeda motor bergerak maju dari Pancur Batu sekitar pukul 10 malam ke penatapan daerah Sibolangit. Sekitar satu jam penulis menghabiskan waktu di sana sembari memotret cahaya Kota Medan yang jauh di bawah.

Kemudian, penulis melanjutkan perjalanan melewati Berastagi, Kabanjahe, Simpang Merek sampai ke Sumbul. Saat pukul 4 dini hari, penulis beristirahat sejenak dari perjalanan. Setelah itu, penulis melanjutkan perjalanan hingga akhirnya  tiba di Desa Paropo. Jalannya menurun dari tutur orang sana, sebaiknya tak menuruni gunung saat gelap, bahaya kata mereka. Penulis pun jalan sedikit mencari tempat berteduh sembari menghangatkan badan yang sedari tadi di tusuk oleh angin malam pegunungan dan juga menghilangakan rasa kantuk yang hampir membuat penulis sedikit tidak fokus di jalan yang kiri kanannya adalah jurang.

Di balik hutan rindang saat melewati jalan berkelok tersebut, tampak cahaya putih mengenai mata kami, rasanya seperti akan disambut oleh pantulan cahaya dari air danau indah dan menawan itu. Semakin jelas terlihat, indah sekali dari atas, membuat lupa atas penat lelah yang penulis rasakan sepanjang perjalanan tadi, dibandingkan dengan foto jauh lebih indah saat dilihat langsung, tak sabar saya mengambil ponsel yang tersimpan disaku, mengabadikan ciptaan Tuhan yang tak ada bandingnya.

Kami terus turun, hingga sampai ke pemukiman warga di sana, terlihat jelas gunung dan dataran tinggi yang mengelilingi Danau Toba terlihat dari Desa Paropo ini. Terdapat sebuah dermaga, pondok-pondok sewaan dan juga aktivitas penduduk lokal, nikmat sekali pemandangan pagi itu. Sayangnya, tak lama penulis di sana, setelah puas mengambil foto dan tidur sejenak, sekitar pukul setengah 10 pagi penulis berangkat pulang meninggalkan surga kecil nan indah itu.

Editor: Miftahul Zannah