Di Balik Majunya Indonesia Ada Minat Baca yang Rendah

- Advertisement - Pfrasa_F
Pemimpin Desain Grafis. (Foto/Dok. Pribadi)
- Advertisement - jd

Penulis: Alfi Syahrin

Tepat, 10 Februari 2020, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat/UTSR di Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang. Karena, Indonesia dianggap negara maju terkait perdagangan global. Sri Mulyani sendiri selaku Menteri Keuangan RI menilai keputusan AS tersebut tak memberi pengaruh besar bagi perdagangan. Ini masih tersorot dari satu sektor, jika kita lirik sektor lain seperti pendidikan ternyata Indonesia pun masih menjumpai berbagai permasalahan sebut saja tingkat literasi. Pendidikan salah satu faktor utama majunya sebuah negara akan tetapi literasi (minat baca) yang merupakan bagian dari pendidikan masih menjadi catatan merah di balik status majunya Indonesia.

Minat membaca masyarakat Indonesia sangat rendah. Hal ini terbukti sebagaimana data dari UNESCO pada 2016, minat baca orang Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Dengan artian dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca dan meningkatkan literasinya. Bahkan Indonesia menduduki peringkat 60 dunia dalam minat baca, sungguh miris.

Namun, bukan berarti kita hanya berpangku tangan dengan kondisi seperti itu, demi menyongsong keadaan negara yang jauh lebih baik, kita harus pintar membaca peluang. Dewasa kini, kita sama-sama bisa merasakan perkembangan dunia yang semakin mobile, sebagai kaum milenial kita dituntut melek teknologi seperti gawai, laptop, dan teknologi pendukung lainnya. Karena, kehadiran teknologi yang sudah sedemikian canggih bisa berimplikasi pada peningkatan literasi kawula muda khususnya, yang terkenal sebagai generasi antiribet.

Sekarang tak sedikit aplikasi-aplikasi bertebaran yang tinggal sekali sentuhan jari kita bisa mengakses informasi di seluruh dunia. Misal IPUNAS, aplikasi yang diluncurkan pemerintah ini, membuat siapa saja bisa menikmati membaca buku secara digital tanpa harus bersusah payah datang ke Perpustakaan Nasional yang ada di Jakarta. Jadi, masyarakat Papua pun bisa merasakan hal yang sama. Praktis, bukan? Ya, dunia yang makin portabel ini memberikan kebermanfaatan yang banyak. Dengan begitu Indonesia bisa membuktikan kemajuannya dalam berbagai sektor, tidak hanya sektor perdagangan (ekonomi), pendidikan dan literasi pun termasuk yang utama.

Pun sekarang informasi yang tersedia tak hanya tersaji dalam susunan redaksi kalimat, masyarakat kita pun agaknya kadang jenuh ketika harus membaca suatu hal yang terlalu banyak narasi, kini unsur visual bernama konten infografik menjadi hal yang digemari seluruh kalangan usia.

Informasi yang dikemas melalui visual lebih memudahkan orang menangkap apa maksud dari informasi tersebut, selain itu juga lebih efisien dan efektif. Tak kalah, dengan seperti ini pula bisa jadi alternatif cara menumbuhkan minat membaca atau literasi masyarakat Indonesia.

Jadi, sudah tidak ada alasan yang layak kita terima kalau masih malas membaca. Semua akses sekarang sudah bisa dinikmati secara mudah, kalau bukan kita, masyarakat Indonesia yang mampu mengubah indeks tingkat literasi, siapa lagi? Tidak mungkin masyarakat dari negara lain yang mengubahnya. Yuk, sama-sama cintai literasi, cara menumbuhkan rasa cinta itu bisa lewat apa saja. Salah satunya dengan mengikuti perkembangan zaman yakni, melalui konten infografik. Mudah dan praktis, namun tetap tidak menghilangkan nuansa redaksi di dalamnya.

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles