Dilema Antara Rupiah dan Keselamatan

- Advertisement - Pfrasa_F
Editor. (Foto/Dok. Pribadi)
- Advertisement - jd

Penulis: Rindiani

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) saat ini tengah mewabah hampir di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia terhitung sejak awal Januari. Untuk mencegah penularan penyakit satu ini, pemerintah pun meminta masyarakat agar melakukan social distancing (pembatasan sosial) dan work from home (kerja dari rumah).

Kata mirip Corona ternyata juga tertulis dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 33. Ada potongan ayat yang kalimatnya mirip yaitu Qorona yang artinya tinggal di rumah. Ayat tersebut dicocok-cocokkan dengan kejadian Covid-19 saat ini dan menjadi viral. Hal ini bisa jadi pertanda atau hanya dianggap biasa saja, yang jelas kita harus terus menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan insan.

Pemerintah telah melakukan banyak hal dalam penanggulangan pandemi ini. Gerakan #dirumahaja menjadi langkah tepat untuk mempercepat putusnya Covid-19. Langkah ini pun juga didukung penuh oleh ulama-ulama ahlussunnah wal jama’ah.

Menyikapi hal tersebut, ketika menyinggung dilema antara rupiah dan keselamatan, apa pilihanmu? Pada saat kita dihadapkan dengan keduanya mungkin jawabannya tidak secepat kilat ketika diberi pilihan mau tahu atau tempe. Satu sisi, kebutuhan konsumsi harus terus dipenuhi bagi kehidupan seseorang. Namun, di sisi lain keselamatan menjadi hal yang sangat perlu menjadi perhatian besar di tengah pandemi yang tidak terlihat namun sudah menelan banyak sekali korban jiwa ini.

Bagi seorang pekerja tetap dengan penghasilan yang pasti tiap bulannya ini menjadi hal yang aman-aman saja. Namun, bagi pekerja harian lepas ini sangat menakutkan. Mereka akan kekurangan ketika patuh untuk diam di rumah dengan mengeluh tanpa ada solusi.

Padahal, sebagai muslim sejati, seharusnya ikhtiarlah yang menjadi kekuatan dalam hidup sebagai benteng perjuangan diri, khusunya dalam hal ekonomi. Keseimbangan perlu dibangun dalam musibah ini, taawwun (tolong-menolong) menjadi penting, muamalah terus dijaga. Covid-19 bukan akhir dari segalanya, justru ini harus bisa sebagai introspeksi dan mawas diri dalam menjalani hidup.

Lalu, ikhtiar apa yang perlu kita lakukan jika bekerja pun tidak diperbolehkan apalagi pada kalangan bawah untuk makan sehari mereka harus bekerja keras? Bagaimana caranya memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup? Ada kemungkinan yang menyebabkan kematian bukan Covid-19, tapi kelaparan yang diakibatkan dari kebijakan yang diambil pemerintah.

Lakukanlah keduanya secara seimbang, mempertahankan hidup dengan mencari rupiah untuk memenuhi kebutuhan, dan tetap menjaga keselamatan. Selain itu, pemerintah pun perlu untuk lebih memberi solusi akan ekonomi kita yang bekerja tidak tetap atau tidak berpenghasilan bulanan seperti pegawai.

Alternatif lainnya, apabila masih bimbang memilih rupiah atau keselamatan, dapat memilih opsi terakhir yaitu produktif #dirumahaja. Apa pun itu pekerjaan yang dilakukan di rumah selama bisa menghasilkan rupiah, tidak ada salahnya dilakukan.

Berbicara dalam sisi ekonominya, takdir Covid-19 ini untuk menyadarkan kita akan berhemat, investasi dan matang dalam mengelola ekonomi, baik ekonomi keluarga maupun sampai tatanan ekonomi pemerintahan. Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari kejadian yang dirasakan sekarang ini. Ekonomi filantropi mari dijunjung, jadilah dermawan walaupun di tengah kesulitan, karena sesungguhnya di samping kesulitan itu ada kemudahan.

Maka, dalam hal ini, perlu seruan dan bahkan paksaan kepada orang-orang yang selama ini enggan membayar zakat. Pemerintah harus turun mengambil peran seperti Abu Bakar Siddiq r.a. sehingga untuk sementara waktu, kebutuhan konsumsi rakyat yang lemah dapat terbantu, terlebih Indonesia ini adalah mayoritas muslim penduduknya, karena takdir ini Covid-19 berharap timbul wata’awwanu ‘alalbirri wa taqwa (tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa).

Pandemi Covid-19 adalah takdir dari Allah yang dirasakan saat ini, mengimani takdir Allah adalah wajib bagi seorang muslim. Ingat tujuan ibadah adalah menjadi taqwa. Terpenting dari segalanya adalah sabar, dan menanti takdir baru dari takdir yang ditetapkan Allah. Muamalah terus jalan, yang susah terus dibantu, lembaga zakat lebih bergerilya. Guna membantu penyaluran kebutuhan kepada orang yang kurang mampu dan akhirnya berbagai kegiatan seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial budaya bisa kembali membaik.

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles