Dilema

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi dilema. (foto/ilustrasi/Kathrin Honesta Illustration)
- Advertisement - jd

Penulis: Asep Muhammad Sobirin

Petang ini tiupan angin terasa tenang sembari berhembus diantara dedauan pohon kelapa, desiran ombakpun terdengar tak menggebu lantas bersimfoni di telinga siapa saja yang mendengarnya. Tatkala alam berkolaborasi seperti ini pasti terasa tenang rasanya, bunyinya yang begitu syahdu, seakan mereka berdialog dengan syair paling indah sealam semesta. Di sisi lain, terduduk termangu di atas batu besar seorang remaja sederhana berparas gagah sembari menatap mentari yang kian memerah, lantas habis disantap oleh lahapnya cakrawala.

Entah apa yang ada dibenak remaja itu. Lupa waktu, lama ia termangu sampai tak terasa petangpun telah berlalu. Tampak jelas diwajahnya yang pilu, seakan semua derita menderu batin remaja itu. Bukan tanpa alasan, terlihat di tangan kanannya sepucuk surat milik puan di tanah seberang. Memang isinya bukan kabar duka ataupun suka cita, melainkan beberapa patah kata tentang cerita dua pasang insan yang mencoba menabu kisah. Siapa lagi kalau bukan kisah mereka berdua.

Baca juga: Warga Sumut Lakukan Aksi Damai Tolak Pemusnahan Babi

Aku dan kau tidaklah lebih dari sekadar teman, cerita kita yang indah itu aku rangkai sebagai persahabatan. Maaf jika caraku kau anggap sebagai rasa cinta padahal bukan, tulis puan dalam suratnya.

Sudikah kiranya semesta memutar waktu barang sejenak saja? Agar aku bisa mengurungkan niat kala kuucap kata yang tak pantas terucap itu, batin Dimas. Adakah dia berbohong pada dirinya? Benarkah apa yang ia tulis dalam secarik kertas ini? Mengapa?

***

Usai membaca tulisan puan yang membatin, beberapa hari kemudian Dimas pun mencoba menjemput puan di tanah seberang, berharap mendapat penjelasan dari apa yang telah puan buat. Walau ia tahu jarak yang ditempuh tidaklah dekat, tapi luasnya samudera bukanlah apa-apa dari pada rasa penasaran Dimas.

Setibanya ia di bibir pantai, giat ia mencari sampan kecil milik teman yang telah ia pinjam sementara waktu. Bukan ia tak punya uang untuk naik kapal besar, tapi ia benci melihat kapal-kapal besar lebih lagi kepada tongkang-tongkang pengangkut minyak, sebab beberapa kali tongkang minyak tumpah di daerah ini. Merusak ekosistem laut batinnya.

Baca juga: LPM Dinamika UIN SU Pertahankan Penghargaan ISPRIMA 2020

Tak selang lama, akhirnya ketemu juga sampan kecil itu. Tanpa menunggu lama ia pun menghidupkan mesin dan langsung berangkat ke tanah seberang. Bahagia campur sendu dirinya, bahagia karena akan bertemu puan dan sendu karena bimbang dengan hatinya.

Setelah Berjam-jam di atas sampan kecil itu akhirnya Dimas sampai ketanah seberang. Tanpa berpikir panjang ia pun lari sekuat tenaga menuju rumah puan.

“Adiindaaaaaa!!” Teriak Dimas dengan nafas terengah-engah.

“Dimas?” Heran sang puan yang sedang asik bermain dengan adiknya di teras rumah.

“Dinda, aku disini, didepanmu. Jelaskan Dinda, jelaskan apa yang kau maksud di surat ini,”

“Sudah jelas Dimas, sudah jelas tertulis disitu apa maksudku jadi untuk apa kau ke sini,”

“Tidak Dinda, aku tidak mengerti,”

Baca juga: Belajar Menjadi Wartawan Investigasi

“Berusahalah untuk mengerti. Kita tidak bisa bersama,”

“Tapi kenapa? Aku mencintaimu,”

“Justru karena kamu mencintaiku,” jawab Dinda dengan amarah dan air mata, tak kuasa ia menahan semua emosi yang ada didalam dirinya.

Dimas pun bungkam, tak lama berkata ia “Maksudnya apa?” Dengan lirih.

“Sudah pergi saja, Dimas,” pinta Dinda sembari mengusap air matanya yang mengucur deras.

“Dulu, semua permintaanmu adalah perintah bagiku. Tak ada satu pinta darimu yang mampu kutolak, walau terkadang aneh dan tak masuk akal. Tapi baru kali ini berat rasanya mengabulkan permintaanmu. Bari kali ini permintaanmu membuatku bungkam seribu bahasa. Dinda sampai kapanpun hati ini tetap sama, sampai kapanpun aku akan tetap ada.  “Berat rasanya, Aku pamit,” berat hati Dimas meninggalkan sang puan, jangankan melangkah, berbalik arah saja sangat berat ia rasakan. Tapi sekali lagi permintaan puan adalah perintah baginya.

Baca juga: Hadiri HPN, Jokowi Sebut Wartawan Adalah Karibnya Setiap Hari

Dinda yang berdiri menatap punggung Dimas sembari mengusap derai air mata yang membasahi pipinya. Ia pun berat melihat lelaki itu kembali dengan rasa kecewa.

Dimas, andai saja semesta mampu berkata aku ingin mereka berbisik padamu bahwa akupun mencintaimu. Aku ingin mereka mewakili kata hatiku, aku ingin kau mengerti. Dimas, aku benci dengan dilema ini, maaf aku membuat hatimu kacau, maaf jika kau pulang dengan membawa rasa kecewa, batin Dinda.

Andai kau tahu, ibuku divonis dokter tinggal beberapa hari lagi. Waktu itu, dalam dekapannya beliau memintaku untuk menikahi pria yang ia kenal. Aku tak bisa menolak pinta terakhirnya. Dimas, mengertilah dan aku minta maaf.

Editor: Ade Suryanti

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles