Dirgahayu Perempuan Indonesia, Kartiniku

- Advertisement - Pfrasa_F
Penulis bernama Audry Uyuni, sebagai Sekretaris Redaksi LPM Dinamika UIN SU periode 2019-2020
- Advertisement - jd

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya” (R.A. Kartini)

Kita tentu tahu April selalu identik dengan peringatan Hari Kartini. Sejarah mencatat, peringatan ini mulai diberlakukan pada tahun 1964 ketika Presiden Soekarno mengeluarkan instruksi berupa Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964 yang berisi penetapan Kartini sebagai Pahlawan Nasional sekaligus menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini.

Menyebut Kartini, kita tentu sudah tak asing lagi dengan karya fenomenalnya berjudul Door Duistemis Tot Lichf atau Habis Gelap Terbitlah Terang, terbitan tahun 1922 yang dibukukan oleh J.H. Abendanon. Lewat goresan pena dalam bukunya itu, ia menggugat patriarki laki-laki atas perempuan. Salah satunya yang bisa kita dapati yaitu “Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Begitupun kehidupan manusia serupa alam”.

Berbicara momentum peringatan hari lahirnya R.A Kartini ini bisa dimanfaatkan untuk kita kembali mengupas makna perjuangan beliau secara utuh dan mendalam. Tak hanya sebatas perayaan simbolik belaka dengan mengenakkan kebaya dan berkonde atau sekadar lomba memasak semata. Perjuangan Kartini jauh lebih cerdas bukan hanya ornamen serta solekan yang melekat pada tubuh perempuan.

Seperti pemikiran beliau yang memosisikan pendidikan sebagai harga mati, kaum hawa (baca: perempuan) butuh pengetahuan dan pendidikan yang luas untuk menjadi manusia pembangunan; baik itu di ranah domestik maupun publik. Sama halnya dengan laki-laki, perempuan harus bisa menjadi pribadi yang merdeka sedari dalam pikiran maupun perasaan. Menjadi manusia yang utuh, dan diberi hak seutuhnya manusia.

Dahulu kaum perempuan hanya dilabeli stigma sumur, kasur, dan dapur oleh elemen masyarakat. Tetapi stigma itu sekarang sudah lenyap. Kini, kesetaraan laki-laki dan perempuan sudah tidak perlu diragukan lagi. Nyaris tak ada lagi ruang pembatas antara laki-laki dan perempuan. Hasil nyata perjuangan Kartini berbuah manis, perempuan tidak lagi sebagai juru masak atau pemuas nafsu para laki-laki saja, bahkan untuk skala pemerintahan, perempuan sudah bisa mengambil peran. Masih ingat dalam memori rasa nasionalisme kita bahwa Presiden Republik Indonesia yang kelima adalah seorang perempuan yaitu Ibu Megawati Soekarnoputri.

Tak henti sampai di situ, Indonesia pun memiliki Kartini era modern yang berhasil mendulang kesuksesan di mata dunia. Sebut saja Menteri Keuangan kita, Ibu Sri Mulyani, menurut Majalah Forbes ia dinobatkan sebagai wanita paling berpengaruh di urutan 38 pada 2014. Disusul Menteri Kelautan, Ibu Susi Pudjiastuti dengan kegigihannya ia berhasil menyandang mimpi tanpa terhalang oleh keterbatasan gelar di ijazah serta banyak lagi kisah kaum perempuan-perempuan lainnya yang layak diapresiasi.

Dapat ditarik konklusi bahwa hal ini menunjukkan perempuan mempunyai potensi yang sama dengan laki-laki. Namun demikian, apa yang penulis tuangkan dalam tulisan ini bukan berarti ingin mengatakan dengan lantang sesungguhnya perempuan bisa segalanya tanpa adanya laki-laki, tidak.

Penulis bermaksud seperti yang termaktub oleh Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno yang mengatakan “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”.

Terang di sini, perjuangan perempuan saat ini erat kaitannya dengan perjuangan Kartini, tempo dulu. Kesetaraan gender menjadi barang urgen dewasa ini demi keberlangsungan kiprah perempuan di masa depan. Karenanya perjuangan kita masih belum usai. Wanita adalah fondasi negara, juga perjuangan ini masih terbilang panjang dan berliku. Untuk itu, marilah kita sebagai wanita generasi bangsa untuk selalu berusaha, belajar, dan berdoa. Semoga, kita adalah sosok Kartini modern yang turut membawa bangsa ini menuju arah yang lebih baik. Dirgahayu Kartiniku!

 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles