Ekonomi Vs Corona

- Advertisement - Pfrasa_F
Desain oleh: Jihan Fadilah Taher
- Advertisement - jd

Penulis : Asri Alviana

Selain dunia kesehatan yang dibuat gempar dan harus bertempur melawan virus yang satu ini, ternyata banyak aspek kehidupan lainnya yang turut terganggu hingga melemah karena dampaknya. Perekonomian salah satunya, banyak negara yang harus menelan kerugian karena tertutupnya berbagai akses pendapatan negara. Mulai dari akses perdagangan dunia yang meliputi industri ekspor-impor, investasi saham dan pariwisata hingga berdampak pada arus mobilitas mancanegara yang ditutup.

Cina sebagai tempat dimana lahirnya virus ini mungkin sudah tidak terhitung lagi berapa kerugian yang harus ditanggung. Indonesia pun turut merasakan dampaknya, kerja sama antar negara terganggu karena harus menutup akses keluar masuk pada sejumlah negara yang cukup parah terdampak Corona. Per tanggal 9 April 2020, berdasarkan data dari laman resmi Covid19.go.id sebanyak 212 negara/kawasan dengan 1,356,780 kasus terkonfirmasi positif Corona serta mencapai 79,385 kematian. Di Indonesia sendiri sudah terkonfirmasi ada 3,293 orang yang positif terjangkit virus corona dengan jumlah 252 orang berhasil sembuh dan kematian mencapai 280 jiwa.

Selanjutnya, mari kita telisik lebih lanjut bagaimana dampak virus baru hasil dari mutasi ini terhadap perekonomian dunia. Dari laman finance.detik.com, pengusaha nasional, Sandiaga Uno mengatakan penyebaran virus Corona membuat ekonomi dunia melemah 0,5-0,9%. Pelemahan itu juga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, virus Corona juga membuat daya beli masyarakat Indonesia menurun. Pasalnya, karena Corona banyak industri melakukan efisiensi. Sandiaga menjelaskan rantai pasok bahan baku industri manufaktur Indonesia mulai menipis lantaran produsennya di China tidak beroperasi. Dengan begitu, produksi bahan baku yang diimpor ke banyak negara termasuk ke Indonesia pun terganggu.

Terkait perekonomian Asia, Robert Carnell, kepala ekonom dan kepala penelitian untuk Asia-Pasifik di ING turut mengatakan dampak dari virus Corona terhadap ekonomi di Asia berpotensi sangat besar, karena pariwisata di kawasan ini terpukul. Dari hotel sepi hingga bandara yang kosong, yang dimuat dalam laman cnbcindonesia.com.

Kemudian, mari kita lihat lebih dalam bagaimana dampak virus corona terhadap perekonomian Indonesia. Sejak terserang virus ini ternyata perekonomian Indonesia mengalami penurunan yang drastis di berbagai aspek perekonomian. Hal ini diakui oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani  yang mengungkapkan bahwa penyebaran virus Corona akan semakin memberatkan perekonomian.

Melalui laman cnnindonesia.com, ia memperkirakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 2,3 persen karena virus Corona. Namun, skenario terburuknya ekonomi RI minus hingga 0,4 persen. Ia juga memaparkan Penyebab anjloknya pertumbuhan ekonomi tersebut karena konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah yang turun. Menurutnya, konsumsi rumah tangga menurun menjadi 3,2 persen hingga 1,6 persen. Sementara, konsumsi pemerintah sedang dipertahankan tetapi memperlebar defisit.

Sementara itu, dilansir dari kompas.com, Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 akan tertekan di level 2,1 persen. Hal itu disebabkan oleh terus meluasnya persebaran Covid-19 baik di dalam negeri maupun di lingkup global. Sejalan dengan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) juga turut menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat akibat pandemi virus Corona.

Perekonomian Indonesia tahun ini diproyeksikan hanya mengalami pertumbuhan sebesar 2,5 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang mampu tumbuh 5,02 persen. Direktur ADB, Winfried Wicklein mengakui, Indonesia memiliki landasan makroekonomi yang kuat. Namun, kehadiran wabah virus Corona telah mengubah arah perekonomian RI, dengan memburuknya kondisi lingkungan eksternal dan melemahnya permintaan dalam negeri. Terlebih dengan memburuknya perekonomian sejumlah mitra dagang utama Indonesia.

Mengutip katadata.co.id, nilai tukar rupiah juga melemah 0,5% ke level Rp 16.525 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/4) pagi. Pelemahan rupiah disebabkan masih meningkatnya penyebaran virus Corona di dunia. Namun, pelemahan terhadap dolar AS tak hanya dialami oleh rupiah saja. Nilai tukar seluruh mata uang Asia terhadap dolar AS juga ikut melemah. Yen Jepang misalnya, tercatat melemah 0,33% terhadap dolar AS, kemudian dolar Hongkong juga tercatat melemah tipis 0,01%. Sementara, dolar Singapura juga melemah terhadap dolar AS sebesar 0,09%.

Beralih ke bidang industri, dilansir dari kompas.com, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, ada 19 sektor industri manufaktur yang akan mendapat relaksasi pajak penghasilan (PPh) 22 impor. Hal ini merupakan usulan dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sebagai tindakan untuk mempermudah industri domestik mencari bahan baku ke negara lain akibat adanya virus corona. Ke-19 sektor industri tersebut mulai dari industri bahan dan barang kimia, peralatan listrik, tekstil hingga industri kulit dan alas kaki.

Tak hanya itu, virus Corona benar-benar jadi momok bagi pasar saham domestik. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hampir 30% jika dihitung dari awal tahun hingga perdagangan pertengahan Maret. Kejatuhan pasar saham domestik tersebut membuat nilai kapitalisasi IHSG berkurang Rp2.108,36 triliun yang dimuat dalam laman cnbcindonesia.com.

Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah dalam penanganan penyebaran virus Corona baik dalam bidang kesehatan, sosial hingga perekonomian. Begitu juga dengan Bank Indonesia yang turut melakukan pemangkasan suku bunga acuan, mengutip dari tempo.co, peneliti bidang Ekonomi The Indonesian Institute, Muhamad Rifki Fadilah, menilai positif kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan kembali BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen dari sebelumnya 4,75 persen.

Pemangkasan suku bunga acuan ini dinilai cukup akomodatif, responsif serta mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan adanya risiko terhadap gejolak ekonomi dunia. Pemangkasan suku bunga acuan akan menurunkan suku bunga simpanan, yang kemudian menekan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga ini juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi.

Dampak virus Corona terhadap perekonomian negara-negara di belahan dunia akan semakin memburuk jika masalah virus ini tidak segera ditangani dengan baik dan sigap. Hubungan perdagangan antar negara juga akan terancam bila wabah ini dibiarkan semakin berlarut-larut tanpa ada kerja sama antar negara untuk saling membahu melawan virus ini, mulai dari menyembuhkan para korban yang terjangkit hingga memulihkan kondisi perekonomian yang tengah anjlok.

Jika penyebaran Corona terus meningkat dan belum juga bisa diatasi, maka dampaknya ke ekonomi akan semakin berat. Oleh karena itu, siapapun kita ambillah peran untuk turut andil melawan virus ini, karena hal-hal baik walau berupa langkah kecil akan berdampak besar untuk sebuah perubahan hingga bisa membantu dunia melawan corona.

Editor : Ade Suryanti

- Advertisement - DOP

Share article

Latest articles