Ekstrovert

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi Ekstrovert. (foto/ilustrasi/brightside)
- Advertisement - jd

Penulis: Juwita Sima

Sinar matahari menyeruak memasuki kamarku dari sela-sela jendela sehingga membangunkanku di Minggu pagi ini. Kuambil gawaiku dari nakas dan membuka chat dari teman-temanku. Aku mulai bergegas membersihkan tempat tidur dan segera melakukan aktivitasku hari ini sesuai rencanaku kemarin.

Untuk seorang ekstrovert sepertiku daripada berdiam diri di kamar, lebih baik menghabiskan waktu di luar rumah dengan berbagai aktivitas. Seperti mengikuti kajian, ngerjain tugas bareng teman kuliah, nonton, berkunjung ke alam, atau mungkin sekadar nongkrong di kafe terdekat bersama teman-teman sebayaku. Meski kegiatan yang ku ikuti juga tidak begitu menjanjikan dan menggambarkan bagaimana masa depanku. Setidaknya, menurutku itu sedikit bermanfaat daripada rebahan sepanjang hari seperti kebanyakan anak muda sekarang. Namun, tidak dapat dipungkiri hal ini malah tidak begitu menyenangkan bagi kebanyakan anak introvert.

Aku membaca buku Fiersa Besari yang beberapa waktu lalu diberikan sahabatku. Ia berkata dalam bukunya “Kau takkan ada di tempat kerjamu beberapa belas tahun lagi. kau takkan ada di muka bumi beberapa puluh tahun lagi. Akan selalu ada orang yang lebih baik untuk menggantikanmu. Namun, alam raya akan tetap menyajikan keindahannya sampai kapanpun, menunggu untuk kau nikmati. Yakin kau masih betah berdiam diri di kamarmu? Yakin kau tak mau melakukan petualangan? Yakin kau tak merasa bahwa dirimu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar? Atau begini saja mudahnya, apapun yang kau lakukan pastikan hidupmu berarti.” Paragraf ini digaris bawahi dengan tinta merah, yang menurutku kalimat itu sangat penting bagi empunya buku, dan aku pun sangat menyukai paragraf ini.

Baca juga: Karena Kertas Aku Bertahan

Jika ada yang bertanya kenapa aku begitu menyukai kalimat tersebut, itu karena aku merasa hal ini penting untuk dipelajari, menjadi tanda tanya kepada diri sendiri, sejauh ini apakah aku sudah bisa memastikan hidupku benar-benar berarti? Meski aku sudah merasa bahwa aku bukan salah satu orang yang terjerat di dalam kamar dan sering menyendiri. Namun aku juga tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori orang yang luar biasa dan sudah memiliki kehidupan yang berarti, tetapi aku sedikit senang karena aku termasuk orang yang begitu menikmati hidup, menikmati semua keindahan yang Tuhan berikan dengan senantiasa mencintai apa-apa yang sudah diberikan-Nya.

Perihal sahabat yang memberikan ku buku itu, namanya Rania. Dia sangat berbeda jauh dariku, dia salah satu orang introvert, kalian pasti tau kan bagaimana introvert pada umumnya, lebih suka diam, dan sangat pemalu. Namun ada banyak pelajaran yang dapat dicontoh dari jenis manusia seperti mereka. Seperti Rania, ia selalu tenang meskipun masalah ada didepan matanya, ia lebih mengutamakan mencari jalan keluar di waktu yang sama, sedang aku sibuk dengan ocehan dan kepanikanku yang tidak ada hasilnya. Menurutku mereka lebih banyak berfikir positif dari pada negatif, dan lebih untungnya, mereka tidak akan kehabisan suara karena bicaranya terlalu irit, sedang aku butuh pemulihan tenggorokan berhari-hari hanya karena tertawa secara berlebihan beberapa waktu lalu.

Hari ini aku berencana mengajak Rania keluar dan mengenalkannya dengan teman-temanku yang lain. Tapi kurasa Rania akan menolak ajakanku kali ini, karena cuaca di luar terlihat mendung, aku tahu kesehatannya akan terganggu hanya karena terkena tempias hujan. Aku mulai mengetik pesan untuk Rania dan mengirimnya. Sembari menunggu balasan darinya, aku sibuk menyeruput kopi hangat yang baru kuseduh. Seperti dugaanku sebelumnya, Rania menolak ajakanku.

Baca juga: Jerih Payah Seorang Ibu Tanpa Imam

“Maaf ya Gen, cuaca di luar lagi buruk, mending kita pergi dilain waktu aja”, balasnya.

“Yahh. Gak bisa ya? Yaudah nanti-nanti saja lagi,” balasku, aku memang sedikit kecewa karena rencana awalku untuk membuat Rania jadi orang yang sedikit terbuka gagal hari ini.

“Maaf ya” balasnya

“Ah tak apa, aku ngerti kok. Jangan lupa minum obat ya nanti” balasku segera.

Aku dan Rania sudah seperti kakak dan adik. Dia lebih tua setahun dariku, tapi tetap saja aku tak ingin memanggilnya kakak karena postur tubuhnya yang menurutku tidak pantas untuk dipanggil kakak. Mungkin karena kami juga berteman dari kecil, jadi agak sedikit canggung jika harus memanggilnya kakak.

Beberapa orang kadang berfikir kalau kami pacaran, kami hanya tertawa menanggapinya. Menurutku dan Rania tidak ada salahnya laki-laki dan perempuan bersahabat, buktinya kami bisa menjaga persahabatan kami sampai saat ini, lagi pula tidak mungkin aku merusak persahabatan hanya karena menaruh perasaan pada Rania. Sungguh tidak bisa kubayangkan.

Sebagai seorang sahabat, aku paham betul bagaimana sifat Rania, dari kecil hingga kami sama-sama dewasa sekarang ia begitu teliti dan sangat menginspirasi meski tidak banyak orang yang dapat melihat kepandaiannya. Dia sering menasehatiku ini dan itu, melarang yang memang tidak baik untukku nantinya, dan selalu membiarkan ku bergerak bebas tanpa mengekang meski terkadang memperhatikanku dari kejauhan jika temanku bergaul bukan teman yang baik menurutnya.

Baca juga: Dilema

Pernah Rania berkata begini, “Kita tidak akan pernah bisa sama selamanya Gen, karena sahabat memang tidak harus selalu ada di setiap masa buruk maupun baikmu. Sahabat itu juga manusia biasa, jangan terus memaksa dia tetap berada di fase keterpurukanmu, jangan menuntut hal ini dan itu, sebab selama kau tidak mengatakan bagaimana keadaanmu, ia juga tak akan pernah tau. Mungkin saja ia salah satu manusia yang tidak mudah untuk peka. Sebab memahami semua masalahmu bukanlah kewajibannya, dia bukan Tuhan. Namun, jika aku mampu, aku akan senantiasa membersamai gen.”

Dan aku menyetujui perkataannya itu. Kami sering sependapat, hal itu membuat kami jarang bertengkar dan adu mulut. Kadang aku merasa malu jika dia bersikap lebih dewasa dariku. Tapi kenyataannya memang begitu, dengan sikap dinginnya ia jauh lebih dewasa dan sangat memahamiku.

Seringkali aku berfikir dan ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi introvert, sepertinya sangat menyenangkan jika melihat mereka. Berbodo amat dengan segala hal, mengatur waktu dengan sebaik mungkin, tidak peduli bagaimana pendapat orang lain, mereka tak akan membuang-buang waktu dengan banyak bicara agar orang lain percaya pada mereka. Mereka tidak butuh pujian dan mungkin tidak akan menuntut banyak, aku merasa mereka lebih banyak bersyukur. Meski sebenarnya orang sepertiku yang kata mereka banyak berbicara ini akan terlihat sangat pandai, sering bertanya dan menanggapi dikelas, bergaul dengan teman-teman disekelilingku dengan ramah, ikut organisasi intra atau ekstra dan mampu mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku dengan baik. Namun, semakin banyak bicara rasanya semakin memberi dampak negatif bagiku dan orang sekelilingku, sebab tanpa kusadari kadang beberapa kata yang keluar dari mulutku mampu membuat orang lain tersinggung.

Baca juga: Suka Menunda, Ku Ditinggal Mereka dan Dia

Dibalik itu semua, pada nyatanya aku memang kurang mensyukuri hidup. Merasa kurang dengan apa yang kupunya. Mungkin saja seorang introvert seperti Rania ingin menjadi extrovert sepertiku, begitupun sebaliknya. Setelah aku berfikir betapa kurang bersyukurnya aku, aku mulai menerima keadaanku, aku akan tetap menjadi kepribadianku yang sesungguhnya, menjadi seorang extrovert yang akan mencoba merubah sikap burukku dengan menjaga ucapan dengan baik, memahami bahwa pasti ada orang lain yang juga ingin menjadi diriku yang tidak menutupi diri, kemudian mensyukuri segala kekurangan dan kelebihanku. Mungkin itu lebih baik, dari pada harus merubah dan memaksakan diri menjadi kepribadian orang lain.

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles