Gedung Enam Lantai Tersendat, Siapa Lambat?

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi: Mustika Khairunnisa
- Advertisement - jd

Proses pembangunan gedung enam lantai yang akan menjadi ikon baru UIN SU ini dimulai pada bulan Juni 2018 lalu. Pembangunan gedung tersebut bertujuan untuk mendongkrak akreditasi UIN SU menjadi A di tahun 2020 nanti. Sebab, salah satu syarat bagi universitas untuk mencapai nilai akreditasi maksimum ialah ketersediaan sarana dan prasarananya. “Akreditasi memiliki tujuh kriteria yang di antaranya adalah visi dan misi: kepemimpinan dan keselenggaraan penjaminan mutu; mahasiswa dan lulusan; sumber daya  manusia; kurikulum pembelajaran dan suasana akademik; sarana dan prasarana; pembiayaan dan sistem informasi; serta standar penelitian dan pengabdian,” jelas Dr. Isnaini Harahap M.A. selaku Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu.

Untuk mencapai itu, UIN SU memaksimalkan rancangannya dalam memenuhi fasilitas gedung 6 lantai. Selain fasilitas basement dan empat buah lift ditambah 10 unit ATM, lantai 1 akan dijadikan sebagai tempat khusus pelatihan dan pembinaan IT (Informasi dan Teknologi) serta PUSTIPADA (Pusat Teknologi dan Pangkalan Data). Kemudian, lantai 2, 3 dan 4 akan digunakan sebagai ruang kuliah bersama, dengan 30 ruangan berkapasitas maksimal 40 orang. Selanjutnya di lantai 5 akan ada  ruang kuliah berkapasitas yang lebih besar dengan konsep seperti small auditorium. Sedangkan rooftop dibangun di lantai 6.

Semua pembangunan itu ditargetkan rampung pada Desember 2018, namun molor akibat tingginya curah hujan yang menghambat proses pengerjaan. Kemudian pihak birokrat dan pemborong menyepakati target baru sesuai dengan aturan yang berlaku, yakni tambahan masa pengerjaan selama tiga bulan. Jika dihitung, maka target pembangunan selanjutnya selesai di bulan Maret 2019. Namun, hingga kini pengerjaannya belum juga selesai. Berangkat dari itu, tim reportase Dinamika mulai mencari tahu penyebab belum selesainya gedung tersebut. Dan kapankah gedung enam lantai akan selesai?

Pembangunan Molor, Siapa yang Salah?

Molornya pembangunan gedung tersebut diduga akibat adanya permasalahan pada pihak pemborong. Tetapi, tidak ada yang tahu pasti apa permasalahannya, bahkan pihak birokrat sekalipun. “Lambat!,” ucap Wakil Rektor III UIN SU ketika ditanyai oleh tim reportase menyoal proses pembangunannya.

Prof. Dr. Amroeni Drajat, M.A., angkat bicara dan mengkritik perihal molornya pembangungan gedung enam lantai yang ternyata pernah mangkrak selama beberapa bulan. “Iya, memang pemborongnya yang bermasalah. Bahkan kita pihak rektorat sama seperti kalian, bertanya-tanya pada pemborongnya, kenapa bisa molor seperti ini? Tetapi sampai sekarang kita belum tahu jawabannya,” jelas Amroeni.

“Bukan berarti pihak rektorat yang salah. Pemborong berjanji akan selesai 3 bulan misalnya, begitu 3 bulan belum selesai juga, berarti target pemborong yang tidak sesuai. Kalau untuk menggunakannya kita ya tidak sabar, tapi kitakan hanya disuruh untuk menggunakan gedung itu saja,” tambah Amroeni yang kembali menyayangkan target pemborong yang tidak sesuai.

Molornya target dari pihak pekerja berakibat pada putusnya kontrak dan terhentinya pembagunan. “Pembangunan tersebut berhenti karena pemborong tidak sanggup dalam proses pembangunan dan sudah melewati jadwal yang telah ditentukan dikontrak. Sehingga menyebabkan terjadinya putus kontrak,” ungkapnya.

Hal ini senada dengan apa yang dipaparkan oleh Mora, konsekuensi dari molornya proyek ini pihak pelaksana yaitu PT. Multi Karya Bisnis Perkasa harus dikenai denda merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.25/PMK.05/2016 tentang tata cara pelaksanaan pembayaran kegiatan yang dibiayai melalui penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). “Isi peraturan itu pekerjaan yang dibiayai dari SBSN apabila tidak selesai di waktu tahun anggaran yang direncanakan, bisa dilanjutkan ke tahun berikutnya. Dengan tambahan waktu maksimal 90 hari kalender (3 bulan) setelah berakhirnya kontrak namun dibebani dengan denda perhari. Besar dendanya itu diambil dari jumlah dana proyek dibagi dengan per mil bangunan. Denda ini akan dikembalikan ke negara,” tegasnya.

Drs. H. Syahruddin Siregar, M.A. selaku Kepala Bagian Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) mengatakan target lanjutan dari pembangunan ini adalah Maret 2018. “Mereka (pemborong) meminta perpanjangan waktu. Dengan ketentuan yang ada, diberilah tambahan 90 hari. Jadi, tanggal 26 maret 2019 seharusnya sudah selesai. Tapi itu juga belum selesai. Dengan alasan-alasan yang muncul, secara otomatis kontraknya putus. Karena ia gagal menjalankan tugasnya,” ungkapnya.

“Anggaran gedung tersebut sebesar Rp44 Miliar, tapi tidak terpakai semua karena pekerjaannya tidak selesai. Sekarang pengawas sedang memeriksa berapa persen pekerjaan yang sudah dilakukan,” ujarnya ketika di ruangannya pada Senin, (13/5).

Pemborong Enggan Beri Klarifikasi

Selama seminggu tim reportase menelusuri lokasi gedung enam lantai. Selasa (7/5), sudah tidak terlihat banyak aktivitas yang dikerjakan oleh para pekerja. Di lokasi, barang-barang masih berserakan dan terlihat adanya beberapa pengerjaan yang belum selesai. Salah satu pekerja sedang melakukan aktivitas kecil yang tidak diketahui.

Pekerja itu enggan diwawancarai dan mengatakan yang berhak adalah mandornya. Mandor tersebut bernama Ahmad Rifai yang namanya kami dapatkan dari si pekerja. Rabu (8/5), tim reportase kembali menelusuri lokasi pembangunan, terlihat adanya proses pemasukan barang berupa keramik dan bahan bagunan yang lain. Selanjutnya tim menemui seseorang yang tidak diketahui identitasnya dan dicurigai sebagai mandornya. Namun, beliau juga enggan untuk diwawancarai. “Ketika ingin wawancara harus ada suratnya,” katanya.

Setelahnya tim menemui beberapa orang di lokasi, salah satunya adalah pekerja yang bertugas sebagai pengawas barang-barang yang masuk. Ketika ditanyai tentang gedung enam lantai, dia menjawab tidak tahu. Kamis (9/5), ketika melewati gedung enam lantai terlihat beberapa pekerja sedang mengerjakan sebuah bagian bangunan yang berada di pintu masuk.

Jumat (10/5), surat yang diajukan kepada rektor dan mandor diantar ke bagian umum, namun ditolak karena tidak ada hubungannya dengan mereka. Selanjutnya, tim diarahkan untuk memasukkan surat ke bagian lain, namun hasil yang didapat tetap sama. Senin (13/5), tim kembali mencoba menjumpai mandor. Salah satu pekerja yang ada mengatakan mandor tidak ada di tempat. Di hari terakhir penulusuran, tim berjumpa dengan satpam yang keluar dari dalam gedung dan dia mengatakan sudah tidak ada lagi pekerja gedung enam lantai. “Pekerjanya sudah tidak ada lagi,” katanya.

Target Baru Gedung Enam Lantai

Rektor UIN SU pada saat Coffee Morning di Aula Lt. II menargetkan Desember 2019 ini gedung enam lantai akan siap digunakan sebagai gedung perkuliahan. “Ya rencana itu boleh saja, kalau proses pembangunan kali ini berjalan mulus, yah namanya orang kerja besar,” terang Amroeni, memantapkan target rektor tersebut.

Dekan FITK, Dr. Amiruddin Siahaan M.Ag. mengatakan tidak bisa berkomentar tentang gedung tersebut. Meskipun begitu beliau berharap pembangunan gedung enam lantai segera selesai. “Kalau mengenai gedung saya tidak bisa berkomentar, karena itu bukan wewenang saya. Tetapi saya berharap, semoga proses pembangunan gedung tersebut cepat selesai agar bisa segera digunakan,” katanya.

Koordinator liputan: Rizki Audina

Reporter: M. Rio Fany, Asep Muhammad Shobirin, Ahmad Afandy, Rafifa Luqyana Kesuma, Tumbularani

 

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles