Gerakan Moral Spontanitas #SAVEBABI

- Advertisement - Pfrasa_F
Desain oleh: Jihan Fadhilah Taher
- Advertisement - jd

Penulis: Jihan Fadhilah Taher

Ribuan massa bergerak menuju kantor DPRD Sumut dalam gerakan bertajuk #SAVEBABI pukul 10.00 WIB, Senin (10/2). Dasar gerakan ini dipicu oleh isu yang beredar tentang pemusnahan seluruh babi di Sumut pasca merebaknya virus Hog Cholera dan virus African Swine Fever (ASF) yang telah membuat ribuan babi mati. Mereka menolak tegas pemusnahan babi ini karena memang babi adalah salah satu sumber mata pencaharian mereka.

Dalam gerakan ini sejumlah pernyataan pun dilemparkan ke Pemerintah, beberapa diantaranya:

  1. Mendesak Presiden RI untuk segera melakukan tindakan menuntaskan permasalahan virus babi;
  2. Kementerian Pertanian RI segera melakukan perbaikan kerugian peternak babi atas status bencana virus babi yang dikeluarkan oleh Kementrian Pertanian RI;
  3. Mendesak Pemerintah RI (Presiden RI dan Kementerian Pertanian RI) melakukan pemulihan peternak babi kecil menengah di seluruh Indonesia tanpa aturan yang memberatkan;
  4. Menolak tegas rencana ataupun tindakan pemusnahan ternak babi di Provinsi Sumatera Utara oleh pihak manapun;
  5. Menolak tegas isu penetapan restocking area peternakan dan pembibitan babi di Pulau Nias;
  6. Menolak tegas diskriminatif pemberlakuan perizinan (Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota) hanya terhadap ternak babi kecil menengah dan pemberlakuan sertifikasi ternak babi yang memberatkan peternak babi kecil menengah.

Setelah melakukan gerakan #SAVEBABI, Kamis (13/2), massa yang diwakilkan oleh Komunitas Konsumen Daging Babi Indonesia (KKDBI) mengadakan audiensi ke DPRD Sumut untuk mengecek kebenaran semua isu yang beredar tentang pemusnahan ternak babi, isolasi ternak babi dan restocking ternak/daging babi di Sumut. Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi membantah isu tersebut dan bertanya dari mana asal muasal isu tersebut.

Baca juga: Gempa Bumi Terdahsyat di Dunia

Gubernur mengatakan bahwa kita tidak boleh memusnahkan ciptaan Tuhan. Sebab, memang babi-babi yang akan dimusnahkan itu hanyalah babi-babi yang sudah terinfeksi virus. Untuk itu, hingga saat ini Pemerintah terus mencari langkah yang tepat agar wabah tidak tersebar luas sesuai dengan aturan yang berlaku.

Virus yang tadinya dianggap sebagai dalang kematian babi-babi di Sumut ada dua yaitu, virus Hog Cholera dan virus ASF. Namun, kematian babi-babi yang ada di Sumut hanya disebabkan oleh virus ASF dan bukan dikarenakan virus Hog Cholera. Dilansir dari tirto.id, ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebarannya, serta dapat menyebar melalui serangga seperti kutu. Namun, virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku, sehingga produk daging menjadi perhatian khusus untuk penularan lintas batas.

Baca juga: Ani Idrus, Sang Wartawati Nasional

Terdapat beberapa peraturan yang dapat kita jadikan acuan untuk masalah ini seperti, dalam  Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 95 Tahun 2012, stamping out boleh dilakukan bila hewan ternak terjangkit penyakit zoonosis atau menular ke manusia, kemudian Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang kesejahteraan hewan.

Tidak hanya Gubernur Sumut yang menanggapi hal ini, Kapolda Sumatera Utara, Martuani Sormin menyatakan bahwa keresahan ini berasal dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang ingin merusak keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Sumatera Utara. Selanjutnya seluruh Pemerintah Sumatera Utara baik dari Gubernur hingga Kejati Sumatera Utara mengajak semua pihak untuk berkepala dingin, selalu bersabar dan bersama-sama bergandeng tangan mencari solusi demi kebaikan bersama.

Editor: Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles