Gubuk Derita Hasilkan 8 Sarjana

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Audry Uyuni

“Kalau dulu ada bedah rumah, rumah kami lah yang paling layak dibedah karna gak layak huni, lebih bagus kandang kambing orang daripada rumah kami,” lontar Syarifah Ermimy Nasution anak perempuan paling tua dari rahim seorang ibu bernama Kartini Tumanggor yang familiar disapa Nek Tinik, seketika bak disambar petir diri saya yang masih sangat kufur nikmat  mendengar ucapan itu.

Dimulai tahun 1974 adalah masa suram bagi Nek Tinik dan juga Tok Arnas yang dianugerahi 10 anak berentet di tengah kondisi ekonomi yang mencekik keluarga mereka. Barangkali orang-orang zaman dulu memang prinsip ‘banyak anak banyak rezeki’ tapi ekspetasi tak sesuai dengan realita. Berdomisili di Jalan Usman Siddik, Gg. Hikmah, Kecamatan Pecut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Desa Bandar Khalipah di sanalah rumah yang kerap mereka labeli gubuk derita.

Betapa tidak, Nek Tinik di usia senjanya yang menyentuh angka 70 tahun itu ternyata punya ingatan tajam dan membekas akan bagaimana penderitaan masa lalu bersama kesepuluh anak-anaknya. Bicara tempo dulu, kebanyakan rumah masih sunyi, bersemak-semak, pohon pisang dan pohon melinjo yang ada. “Rumah pun dulu bobrok-bobrok,” kata Nek Tinik yang didampingi cucunya saat saya temui di kediaman mereka, (Jumat, 7/3/2020).

Baca juga: Perpusda Provsu & IPPSU Adakan Kelas Edukasi

Hal itu diilhami Syarifah ketika membeberkan tentang kondisi rumah yang sangat memprihatinkan, ia mengaku kalau musim hujan kami gak tidur karna rumah kebocoran, rumah kami dicagak-cagak, masih pakai tanah serta lampu sentir sebagai penerangan. Mirisnya pula tidak pernah ada bala bantuan yang datang ke keluarga kami.

“Kehidupan kami masa lalu cukup sulit dikarenakan orangtua yang kerjanya serabutan, Ayah narik becak kadang mulung barang bekas dan Ibu sebagai buruh di kebun cokelat, mereka banting tulang siang malam untuk mencukupi kebutuhan anaknya yang banyak,” ucap Ardiansyah Nasution selaku anak kelima yang kini sudah memiliki anak tiga tersebut.

Saya menangkap kepahitan yang keluar dari mulut Syarifah saat dirinya bercerita kalau mereka tidak pernah dapat uang jajan. Jangan kan untuk itu, makan nasi saja sepiring kongsi-kongsi, kami makan ubi, makan tiwol, makan ikan asin, kami sering gak makan kadang sehari cuma sekali makan nasi. Begitulah penuturannya.

“Makan aja berantam anak-anak itu, nangis kadang nenek tahan gak makan” timpal Nek Tinik lagi. Bahkan Ardiansyah pun mengungkapkan bahwa ketika ibunya bekerja, Ibunya hanya makan nasi dengan garam tapi itu lahap sekali. Kesusahan sudah menempah mental mereka sedari dulu, jika diumpakan saya harus seperti mereka mungkin jawabannya belum tentu sanggup.

Awalnya Nek Tinik punya anak sepuluh namun meninggal dua tinggal lah delapan hingga sekarang. Kendati tak berkecukupan ekonomi, mereka tetap mengusahakan pendidikan sebagai nomor wahid sebab itulah satu-satunya cara yang dapat ditempuh guna memutuskan rantai kemiskinan kehidupan mereka.

“Mereka semua sekolah negeri dan pintar-pintar. Selalu dapat juara kelas, Ayahnya selalu beri upah-upah penomat rebuskan telur ayam kampung sebagai penghargaan,” ujar Nek Tinik dengan penuh bangga.

Baca juga: Mulai Besok, LP2M Buka Pendaftaran KKN Tematik Ramadan

Mati-matian orangtua memperjuangkan anaknya hingga jadi ‘orang’, begitulah yang dilakukan Nek Tinik bersama suaminya. Benarlah kata Allah SWT dalam QS. Ar-Rad:11 yang menyebutkan ‘Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu yang mengubah nya sendiri’. Hambatan ekonomi itu sama sekali tak mengentarkan usaha mereka bangkit dari keterpurukan.

Gubuk derita itu benar menghasilkan anak manusia yang sukses. “Alhamdulillah kami semua bisa mengenyam pendidikan dengan jerih payah sendiri hingga tamat kuliah,” papar Ardiansyah dengan suara haru yang menderanya.

Di kampung tempat mereka tinggal, jarang sekali yang bersekolah hingga kuliah. Rata-rata paling tinggi hanya sampai di jenjang SMA. Syarifah kembali menceritakan tentang mereka yang acapkali mendapat penghinaan dari tetangga kiri kanan.

“Hei anak orang susah, sok-sokan mau kuliah, makan aja pakai ikan asin, anak banyak,” cetus Syarifah saat menirukan cara bicara orang-orang yang mencibir mereka. Semua itu terelakkan dengan pembuktian. Mereka kerja paruh waktu sampai bisa tamat kuliah. Apa pun dilakoni mulai dari nyari upahan, buat emping, cari kangkung di parit, hingga tanam ubi. “Kita harus buktikan dengan prestasi orang yang mengolok-ngolok, yakin sama kuasa Tuhan, siapa yang rajin belajar dan bekerja pasti berhasil,” ucapnya mantap.

Sampai di mana anak-anak itu tahu berbalas budi. Kepada saya, Nek Tinik meneteskan air mata ketika kesemua anaknya sukses dan tidak mendapat nasib sepertinya lagi. “Kalau melihat keadaan gak mungkin bisa terpijak nenek tanah suci itu, semua karena anak-anak,” kata perempuan dengan tubuh gemuk nya itu.

Ia melanjutkan bahwa ketika anak-anaknya sudah berumah tangga mereka tidak pelit. “Mau mamak umroh,” tanya Alexander Gunawan Nasution anak sulung mereka. “Mau lah mamak” jawab Nek Tinik tanpa keraguan. Alhasil, pada tahun 2014 orangtua dari 10 anak itu berhasil mencium Kabahnya Allah Azza Wa Jalla.

Editor: Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles