Iblis yang Terbangun

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Mustika Khairunnisa
- Advertisement - jd

Penulis: Sofi Adwar Pratama

Pukul 15.00 WIB. Hujan menerpa deras seisi kota, langit memuntahkan seluruh isinya, para penduduk berjalan di bawah naungan payung, para pedagang sigap mengatapi lapaknya, dan di tengah derasnya hujan, Ilham di perempatan jalan yang sunyi meringkuk kesakitan dengan mulut penuh darah. Dua bocah pelajar Kumal berseragam mengerubungi tubuh tak berdaya ilham bergiliran untuk melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuhnya, tak peduli derasnya hujan membasahi tubuh mereka, satu tendangan kembali dilayangkan ke arah dada Ilham, Ilham yang menerima tendangannya meringis sejadi-jadinya hingga terkapar.

“Lihatlah, anak ini sangat kuat. Tidak terhitung sudah berapa pukulan yang kita berikan tapi anak ini masih belum mati.” Celoteh bocah itu diikuti dengan tawa kesombongannya.

“Kalaupun dia mati juga bukan salah kita, kita hanya memberikan dia pelajaran akibat melaporkan kita memeras anak kelas sebelah ke guru BP.” Sambung temannya kesal.

Perlakuan seperti ini sudah biasa bahkan menjadi rutinitas Ilham sepulang sekolah. Walaupun Ilham tidak melaporkan mereka, Ilham tetap menjadi bulan-bulanan mereka karena lemahnya dia. Ilham mau tak mau harus rela tubuh ringkihnya menjadi samsak, karena jika dia melapor maka makin menjadi jadi pula siksaan yang diberikan kepadanya.

Baca juga: Mendikbud Ingin Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Pengantar di Asia Tenggara

“Kau beruntung masih hidup sekarang di pertemuan kita, berikutnya mungkin tubuh kecil lemahmu ini sudah mencapai batasnya hingga nyawamu pun tidak betah untuk bernaung di dalamnya, aku tak berani jamin. Camkan itu.” Ucap bocah Kumal tersebut sembari menjambak kasar rambut Ilham.

Setelah terasa puas menyiksa Ilham, bocah tersebut menghempaskan jambakan nya dan berlalu bersama temannya meninggalkan Ilham yang masih terkapar sakit merasakan getirnya siksaan yang diberikan kepadanya.

Dengan tertatih-tatih Ilham mencoba bangkit dari keterpurukannya, walaupun hujan dengan intensitas tinggi menerpa dan tubuhnya dipenuhi luka, Ilham tetap mencoba untuk berjalan pulang. Tapi tubuh kecilnya sudah tak kuasa membawanya pulang, Ilham tergeletak pasrah dengan seragam basah terkena hujan tergeletak di perempatan jalan yang sunyi hingga ia tak sadarkan diri, alam benar-benar memusuhinya, tanpa belas kasihan Ilham menerima segala bentuk siksaan dan tindasan, berulang kali dalam benaknya bertanya. Apakah segitu tidak pantasnya Ilham menjadi seperti orang-orang pada umumnya? Yang mampu hidup normal tanpa penindasan dan siksaan? Yang leluasa mengitari pola kehidupan tanpa perasaan was-was? Makin Ilham meratapinya makin benci pula dia pada dunia.

“Dek bangun dek, kamu tidak apa?” Seorang pria tua mengguncang tubuh Ilham yang tergeletak di perempatan, Ilham terperanjat merespon guncangan dari pria tua tersebut. “Tidak apa tenangkan dirimu, aku yakin harimu benar-benar berat. Ayo bangun dan makan dulu.” Pria tua itu menyuguhkan Ilham mi instan cup dan sebotol air, Ilham dengan segan menerima pemberian pria tua tersebut dan memakan dengan perlahan, yang membuat Ilham tambah bingung saat melihat kedua kaki dan tangannya sudah di lengkapi perban dan wajahnya yang terluka sudah di plester. “Ini bapak yang buat?” tanya Ilham memastikan kepada pria tua itu. “Iya itu aku yang buat, kasihan sekali dirimu dengan tubuh sekecil itu kau banyak menerima pukulan.” Pria tua itu menatap prihatin kondisi Ilham. “Kenapa anda mau membantu saya? Bukankah saya hanya menyulitkan anda jika begini?” Ilham kembali bertanya pada pria tua itu. Itulah Ilham, karena sudah terbiasa dengan penindasan ia hampir saja tidak mengenal kebaikan.

“Nanti kau pasti paham,tak selamanya tubuh kecilmu itu layak menerima siksaan. Ada saatnya kau yang membuat siksaanmu sendiri dan tubuh kecil itu kemudian akan menghadirkan sebuah kerusakan besar.” Kata pria tua itu seraya memberikan Ilham sebuah kotak kecil dan beranjak pergi begitu saja berlalu meninggalkan Ilham yang termangu heran.

***

Pukul 16.00 WIB. Kekhawatiran membungkus seisi rumah yang berada di sebuah pemukiman. Ibu Ilham berulang kali menelpon ke ponsel anaknya dan ayahnya sibuk menyisir setiap wilayah di luar pemukiman, sudah satu minggu Ilham menghilang, tanpa tanda dan pesan apapun “Kemana kamu nak? Ibu stress kalo kamu seperti gini.” Rengek ibu Ilham.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Data Pribadi

Saat kekhawatiran sudah mencapai puncaknya, ibunya Ilham mendatangi sekolahnya dan keadaan bukan semakin mudah malah semakin sulit. Hanya tersisa satu-dua murid yang ada di sekolah, para guru pun sudah mengosongkan kantornya. Tapi rasa cemas bercampur naluri keibuannya memacu ia untuk menyisir setiap ruangan yang ada di sekolah berlantai empat tersebut. Selama setengah jam lebih ia berlari panik mengintip dari jendela setiap ruangan. Ia berlari mencari dan berharap salah satu ruangan memperlihatkan wajah anak yang paling disayangnya itu, rasa lelah dan bersalah meliputi dirinya yang sudah mencapai lantai ke tiga. “Harusnya aku dengarkan Ilham waktu dia bilang dia disiksa temannya bukan acuh dengan masalahku, dia anakku harusnya aku memperlakukan dia lebih baik dibandingkan aku memperlakukan apapun di rumahku. Persetan dengan hutang keluarga kami, persetan dengan lintah darat yang akan datang kerumahku tanpa kenal waktu dan memukuli suamiku, aku harus temukan Ilham sekarang.” Kata batinnya yang secara tidak langsung membuat raut muka masam di wajah wanita itu.

Setelah lama batinnya meronta ia berhenti di sebuah ruangan gelap yang berjarak dua ruangan dari tangga, ia pun mencoba melihat isi ruangan tersebut dari jendela, ruang tersebut gelap tapi ia melihat seperti ada seseorang berdiri dengan tatapan kosong ke arah pintu, dan sontak matanya terbelalak karena yang dilihatnya itu adalah buah hati yang sudah lama ia cari, hanya terlihat wajahnya yang di terpa cahaya dari jendela, wanita itu menelan ludah dan berusaha masuk ke dalam.

“Ilham, kamu kemana aja? Kamu tidak sayang sama ibu? Maaf kalau ibu mengacuhkan Ilham yang ada masalah.”

“Ilham kira ibu nggak perduli lagi, ternyata ekspektasi ku salah”

“Bicara apa kamu? Kamu anak ibu tidak mungkin ibu tidak peduli, ibu cuma lagi tertekan karena masalah keluarga kita.”

“Sekarang ibu jago bersilat lidah sekarang”

“Ilham cukup! ayo pulang.” Bentak wanita itu, saat ia menekan saklar lampu ruangan itu, ia menjerit keras dan terduduk tak percaya. Ruangan itu diisi oleh dua mayat bersimbah darah yang tak lain adalah dua bocah Kumal yang sering menyiksa Ilham, rona penyiksaan benar-benar terpancar dari ruangan itu. Tubuh Ilham yang dibasahi oleh darah sambil memegang pisau menambah mencekamnya aura yang keluar dari ruangan itu.

Baca juga: Mimpi dan Keegoan Ayah

“Pak tua itu benar, aku bisa membalas semua yang mereka lakukan. Pisau pemberiannya ternyata berguna untukku, anggapannya bahwa aku bisa membuat kerusakan besar itu terbukti. Aku bukan orang lemah seperti sebelumnya bu, aku adalah sebuah mimpi buruk bagi orang yang terlalu sombong dan menyukai penindasan. Akulah orang yang akan menjadi iblis untuk orang yang berpikir bahwa mereka adalah makhluk paling hebat di muka bumi ini.” Ilham tertawa keras Ia merasa seperti burung yang dilepaskan dari sangkarnya dan mencium aroma kebebasan, ibunya yang masih tidak percaya apa yang dilakukan anaknya tetap termangu dan tanpa sadar air matanya mengalir deras, air mata yang berisi perasaan takut dan miris.

“Lintah darat itu masih mengejar bapak? Sebagai anak yang baik aku bisa membereskannya saat aku keluar dari ruangan ini, dan aku jamin keluarga kita tidak akan menghadapi masalah seperti apapun. Titip salamku pada ayah, bilang sama dia kurangi makan manis, kalorinya meningkat akhir-akhir ini. Selamat tinggal bu, Ilham sayang ibu.” Ilham berlalu meninggalkan ibunya yang masih terduduk takut dengan apa yang baru saja dialaminya.

“Sudah jadi apa anakku ini?”

Editor: Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles