Introvert

- Advertisement - Pfrasa_F
- Advertisement - jd

Oleh : Lelya Hilda Amira Ritonga

Fiersa Besari pernah berkata di dalam bukunya  “Kau takkan ada di tempat kerjamu beberapa belas tahun lagi. Kau takkan ada di muka bumi beberapa puluh tahun lagi. Akan selalu ada orang yang lebih baik untuk menggantikanmu. Namun, alam raya akan tetap menyajikan keindahannya sampai kapan pun, menunggu untuk kau nikmati. Yakin kau masih betah berdiam diri di kamarmu? Yakin kau tak mau melakukan pertualangan? Yakin kau tak merasa bahwa dirimu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar? Atau begini saja mudahnya, apapun yang kau lakukan, pastikan hidupmu berarti.”

Apapun yang kau lakukan, pastikan hidupmu berarti” Berulang kali ku baca, dua kali, sepuluh bahkan ratusan kali pun ku baca, kalimat itu sungguh membuatku tertohok. Apakah hidupku sudah berarti? Sudahkah ku berhasil melawan rasa takutku pada dunia luar? Sudahkah?

Untuk seorang introvert sepertiku daripada beraktifitas di luar, aku lebih suka berdiam diri di rumah. Berduaan dengan kasur dengan secangkir cokelat hangat ditemani drama korea yang sangat memanjakan mata, atau hanya berbaring mengkhayalkan hal-hal indah di masa depan walau tindakan yang dilakukan pada masa sekarang sama sekali tidak akan membantu. Hal-hal membosankan yang mungkin dibenci oleh kebanyakan anak extrovert.

Namun kata-kata Bung Fiersa di bukunya lagi-lagi membentakku. Tak disangka sekarang aku lebih sering keluar rumah. Jalan jalan sebentar di sekitaran rumah, pergi ke taman, bahkan pantai. Dan mungkin nanti akan pergi mendaki walau tak tahu kapan.

Aku juga punya satu sahabat. Berbeda denganku, dia itu sangat extrovert, suka dengan keramaian, pandai berbicara di depan banyak orang, dan yang pasti ia adalah orang yang menyenangkan, tipe yang disukai semua orang. Itulah dia, Genta Suseno.

Langit sudah berubah menjadi abu gelap tatkala aku hendak keluar rumah. Tak lama, hujan turun dengan derasnya. Seharusnya hari ini aku dan Genta pergi ke taman. Genta berjanji akan mengenalkanku pada teman-temannya. Bukannya bersedih aku malah tersenyum. Kali ini ada alasan bagiku untuk membatalkan acara perkenalan itu. Segera aku ambil ponsel di saku celana kanan dan mengetik pesan ke Genta bahwasanya hari ini aku tak bisa pergi karena hujan.

Pesan balasan masuk ke ponselku “Yahh. gak bisa ya? Yaudah nanti-nanti saja lagi,” walau tak nampak, aku tahu Genta kecewa. Akupun merasa tak enak. Tapi kalau pergi malah akan berdampak buruk pada kesehatanku dan aku yakin Genta tahu itu.

“Maaf ya” balasku

“Ah tak apa, aku ngerti kok. Jangan lupa minum obat ya nanti” balasnya segera.

Aku dan Genta sudah seperti kakak dan adik. Aku lebih tua setahun. Tapi tetap saja dia tak ingin memanggilku kakak dan selalu bertingkah seperti orang dewasa. Mungkin karena kami sudah berteman dari kecil jadi akan canggung kalau tiba-tiba dia memanggil kakak.

Bicara tentang  persahabatan. Katanya, perempuan dan laki-laki takkan bisa bersahabat. Namun  kurasa itu salah. Aku dan Genta bisa bersahabat, itu buktinya. Takkan mungkin aku merusak persahabatan kami hanya karena menaruh rasa pada Genta. Ahh membayangkannya saja rasanya geli.

Persahabatan kata sebagian orang adalah mereka yang selalu ada pada masa buruk maupun baikmu. Namun kurasa harus ada yang dikoreksi, sahabat tak harus ada di setiap fase kehidupanmu, dia juga manusia,  jangan menuntut ini itu. Jangan memaksa ia memahami apa yang kau rasakan. Jangan memaksa ia selalu ada disaat kau terpuruk. Jangan memaksa ia menjadi malaikat yang selalu baik hati. Ia juga manusia sepertimu. Memahami semua masalahmu bukanlah kewajibannya, ia bukan Tuhan. Setidaknya itulah pemikiranku, terima atau tidak itu bukan urusanku.

Aku terkadang iri melihat teman sebayaku mampu berbicara didepan banyak orang, mampu menyapa orang lain dengan senyum indahnya, mampu mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Aku iri.

Sering sekali aku berpikir, akupun tak ingin berdiam diri terus menerus di kamar, akupun ingin seperti orang lain, akupun ingin ikut berbincang tentang apapun bersama teman kelasku, menyapa orang lain dengan senyum yang indah bukan hanya menundukkan kepala, bertanya saat diskusi tentang hal yang tak ku mengerti, ikut organisasi intra maupun extra sekolah, akupun ingin. Namun ada sesuatu didalam diriku yang membuatku takut melakukan itu semua. Sesuatu di dalam hatiku yang sangat menyebalkan. Orang bilang sifatku introvert. Kalau sedari awal kita boleh memilih sifat diri, pasti aku akan meminta Tuhan membuatku mempunyai sifat extrovert.

Namun, dibalik itu semua aku juga bersyukur. Masih ada teman teman yang mau menyemangatiku. Masih ada Ayah dan Ibu yang sangat menyayangiku. Aku sangat bersyukur disaat mentalku turun, mereka ada disebelahku. Alhamdulillah.

Perlahan namun pasti aku akan belajar untuk menerima diriku dan terus memperbaiki diri, menjadi orang yang lebih beguna. Aku yakin, ketakutan yang aku miliki takkan membuatku jatuh. Ketakutan yang ada di dalam diriku adalah hal yang tak seharusnya aku sesali. Aku akan belajar untuk lebih membuka diri, menerima diriku sendiri dengan segala kekurangan dan perlahan mencoba mengubahnya menjadi lebih baik.

Editor : Rindiani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles