Islam dan Bagaimana Cara Berkomunikasi

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi cara berkomunikasi islam. (foto/Ilustrasi/Flickr)
- Advertisement - jd

Penulis: Iin Prasetyo

Komunikasi dalam Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Maka komunikasi Islam menekan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika).

Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan tersebut disebut dengan dakwah. Dakwah adalah pekerjaan atau ucapan untuk mempengaruhi manusia mengikuti Islam (Ahmad Ghulusy, 1987:9).

Allah Subhanahu wataala dalam firmannya Q.S. Ar Rahman: 1-4, “(Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarkannya pandai berbicara.”

Manusia adalah makhluk pembicara sebagaimana Allah Subhanahu wataala menyengaja menciptakan menusia yang telah Ia terangkan dalam Q.S. Ar Rahman: 1-4 tersebut. Kemudian dengan akal pikiran dan hatinya manusia berpikir menimbang untung-rugi dan baik-buruk terhadap apa pun yang dikerjakan.

Baca juga: Jaga Lisan, Sebelum Ia Membinasakanmu

Namun, terkadang manusia bisa saja melampaui batas apa yang telah ditentukan-Nya, dan justru itulah yang tidak disukai-Nya. Komunikasi, salah satunya dapat berangkat dari ayat ini. Al Syaukani dalam Tafsir Fath Al Qodir mengartikan al-bayan dalam ayat tersebut sebagai kemampuan berkomunikasi.

Kemudian Al Syaukani juga menjelaskan untuk bagaimana mengetahui orang-orang seharusnya berkomunikasi secara benar (qaulan sadidan) selain al-bayan dalam Al-Qur’an disebut juga al-qaul yang kemudian menuntun sebanyak enam prinsip komunikasi berdasarkan bagaimana Islam mengaturnya.

Enam prinsip tersebut adalah:

1) Qaulan sadidan (perkataan benar, lurus, jujur)

Al-Qur’an yang menjelaskan hal ini salah satunya adalah Q.S. Al Ahzab: 70, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Maka, Allah Subhanahu wataala mewajibkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya. Kemudian ketakwaan itu juga diwujudnyatakan dengan perkataan yang qaulan sadidan.

2) Qaulan balighan (perkataan yang membekas pada jiwa, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti)

Q.S. An Nisa: 63 menjelaskan, “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka, karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan baligha—perkataan yang berbekas kepada jiwa mereka.

Melihat bagaimana hasil dari proses komunikasi harus tersampaikan dengan jelas maknanya maka qaulan baligha dalam ayat ini menunjukkan bagaimana seharusnya nilai ketersampaian itu didapatkan dari interaksi yang dilakukan, dalam kebahasaan, kalimat efektif menunjukkan perannya juga dalam komunikasi efektif.

Baca juga: Sedih Boleh, Berlarut Jangan!

4) Qaulan masyura (perkataan yang pantas)

Firman Allah Subhanahu wataala dalam konteks ini ditunjukkan dalam Q.S. Al Isra’:28, “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah ucapan yang pantas.”

Qaulan masyura dalam ayat tersebut menunjukkan bagaimana prinsip komunikasi dalam konteks ini mengharuskan proses komunikasi berjalan sepantasnya, menyenangkan bagi si pendengar.

5) Qaulan Layyina (lemah lembut)

Dalam Q.S. Thaahaa: 44, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai teladan bagaimana cara berbicara yang lemah lembut, lemah lembut bukan berarti tidak menunjukkan ketegasannya, dari sikap seperti itulah karisma tampak secara alamiah pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Menghargai lawan bicara bisa ditunjukkan dengan cara qaulan layyina, berbahasa yang menyejukkan hati sehingga komunikasi dapat diterima atau disambut dengan baik dan secara tidak langsung dinilai sebagai seseorang yang memiliki citra yang baik.

Baca juga: Berniat Hijrah, Ayo Itu Perintah

6) Qaulan karimah (mulia)

Q.S. Al Isra’: 23 menerangkan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Kemuliaan seseorang bisa dilihat bagaimana ia berkomunikasi dengan orang tuanya. Berangkat dari ayat tersebut dengan konteks bagaimana kemuliaan berbahasa itu ditunjukkan maka qaulan karimah adalah perkataan yang mulia, kemuliaan itu ditunjukkan dengan rasa hormat, enak didengar, dan bertata krama.

7) Qaulan ma’rufa (perkataan yang baik)

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti manusia yang lain, jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu tunduk dalam berbicara serta berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah “Qaulan ma’rufa” — perkataan yang baik” (Q.S Al Ahzab: 32).

Poin dari ayat tersebut adalah “qaulan ma’rufa”  yakni perkataan yang baik, memiliki manfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat). Islam bersama ayat ini menuntut umatnya untuk selalu berbahasa yang baik, semua yang dikatakan adalah perkataan yang mengandung kebenaran dan memiliki manfaat (nilai nasihat).

Orang yang selalu mencari kesalahan orang lain tanpa memberi solusi sebagai bentuk mebangun kebenaran memberikan nilai pembelajaran berarti tidak mencerminkan apa yang dimaksud dengan qaulan ma’rufa.

Editor: Ade Suryanti

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles