Jadilah Kreator Karya, Bukan Penonton!

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet teknologi.bisnis.com)

Penulis : Tri Pujiati Panggabean

- Advertisement - jd

Pemuda identik sebagai orang yang kuat, revolusioner, punya potensi besar yang bisa membawa perubahan. Pemuda memiliki potensi besar untuk mengubah dunia. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan bangsa. Kalau kita lihat sejarah bahwa dari tangan-tangan pemudalah perubahan itu terjadi.

Seperti Ali bin abi Thalib pada usia 8 tahun memiliki kecerdasan dalam strategi perang serta menjadi khalifah pada usia muda, Abdullah bin Mas’ud umur 14 tahun menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka, Zubair bin Awwam 15 tahun sudah menghunuskan pedang di jalan Allah, dan Muhammad Al Fatih di umur 21 tahun telah menaklukan konstantinopel.

Dari mereka, kita belajar bahwa pemudalah yang menjadi perubah peradaban ini. Akan tetapi apakah kita bisa menjadi seperti mereka? Saat ini pemuda telah dihadapkan pada tantangan globalisasi yang membuat lahirnya generasi apatis, pragmatis. Khususnya pemuda Islam kini telah mengalami problematika yang kompleks. Globalisasi telah menghipnotis para generasi terbaik, yakni generasi muslim. Mulai dari pemikiran, cara pandang, gaya hidup yang tidak mencerminkan generasi muslim, seperti melakukan kekerasan seksual, narkoba, berjudi, berzina.

Telah seharusnya pemuda menjadi agen perubahan bukan menjadi biang perpecahan apalagi sumber kerusakan. Pemuda diberikan semangat yang lebih, kekuatan yang perkasa, asa yang membara dari golongan usia lain supaya pemuda menjadi tonggak perubahan. Pemuda adalah kesatria peradaban, sudah saatnya pemuda mampu berbuat banyak bahkan sebagai kreator karya dari sebuah perubahan. Merasa merugilah jika masa mudamu dipenuhi dengan tidak bermanfaat apalagi dapat merugikan masa depanmu. 

Di belahan dunia manapun, pemuda tetap disebut sebagai ujung tombak suatu pergerakan dan perubahan. Bergeraklah wahai pemuda, ambil bagian apa saja yang rasanya mampu membuat kamu sebagai aktornya. Tak mengapa walau itu hanya membersihkan setitik debu karena itu lebih mulia daripada tidak sama sekali. 

Apa lagi yang harus dirisaukan, berhentilah menjadi penonton atau pengagum karya, jadilah pemuda yang berkarya. Tak usah lihat siapa dirimu, dari mana latar belakangmu, konsepsi hari ini apa yang akan kamu kerjakan, bukan siapa yang mengerjakan. Jangan pernah menunggu waktu yang tepat, setiap waktu pasti tepat tergantung apakah kamu ingin mengisi atau membiarkan waktu berputar sendirian. 

Sebagai pemuda muslim, tentunya harus mengambil peran, karena rasanya sudah semestinya menjadi penyejuk masyarakat. Menjadi pembeda, pembela, pencela kezaliman. Selagi muda, kini waktu yang tepat begitu untuk bisa menyuarakan kebenaran hingga larut malam, berjuang secara  frontal tanpa intervensi, hanya pada pemuda pikiranmu tidak bisa dihalangi siapapun karena pemuda adalah manusia yang merdeka lahir dan batin.

Pada paragraf pertama, sudah disampaikan bahwa Islam banyak mencetak pemuda yang hebat pada usia yang sangat belia. Telah banyak juga catatan sejarah, perjuangan yang menyakitkan, gelombang badai yang menyakitkan yang telah ditaklukkan para pendahulu.

Ini harus menjadi motivasi bagi kita sebagai pemuda yang berada pada era globalisasi yang tentunya sangat banyak godaan yang membuat kita sebagai orang yang apatis. Memang setiap zaman pasti berbeda, kita tidak bisa memaksa harus bisa seperti mereka. Tapi perlu kita sadari para pemuda muslim sebelumnya memiliki tugas yang besar yang mana konsekuensinya adalah hidup dalam kekafiran atau mati di jalan Allah. 

Tetapi untuk kita saat ini bukan itu lagi pilihannya, tetapi bagaimana kamu bisa menjadi pemuda yang memiliki peran besar yang dapat mempertahankan eksistensimu sebagai pemuda muslim yang sesuai dengan syariatnya. Beranilah berbeda di tengah-tengah orang mayoritas jika itu membawamu sesuai dengan fitrahmu sebagai pemuda Islam.

Editor: Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles