Jangan Cuek Soal Presma

- Advertisement - Pfrasa_F
Kurniawan. (Foto/Facebook/Kurniawan Jabat)
- Advertisement - jd

Penulis: Kurniawan Jabat

Keberadaan Presiden Mahasiswa (Presma) sangat penting bagi sebuah kampus. Bukan hanya berfungsi sebagai perwakilan UIN SU untuk acara tertentu saja. Lebih dari itu, Presma punya peran besar untuk membantu pihak kampus dalam mensukseskan kegiatan akademiknya.Kita sama-sama tahu, kampus adalah lingkungan yang khas dengan masyarakat akademis atau biasa kita sebut dengan sivitas akademika. Sehingga manusia yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang kritis, berpikir maju dan terstruktur.

Maka sangat wajar, jika student government atau pemerintahan mahasiswa sangat dibutuhkan di dalam kampus. Layaknya pemerintahan dalam sebuah negara, mulai dari yang paling tinggi hingga jabatan yang paling rendah.Semua jabatan penting, karena masing-masing punya fungsi dan tugas. Meskipun cakupannya berbeda. Namun, seharusnya tidak boleh ada kekosongan jabatan, apalagi sampai bertahun-tahun. Tentu pantas untuk dipertanyakan.

Baca juga: Wakil Rektor III Resmi Nonaktifkan Dema-U dan Sema-U

Kita ketahui juga bahwa kampus bukanlah semata-mata soal belajar di kelas atau diskusi ilmiah. Belajar politik, memimpin dan memerintah tidak kalah pentingnya untuk menyiapkan kader agent of change. Dengan bergabung di dalam organisasi kampus secara tidak langsung mahasiswa akan belajar sistem dan teknis di lapangan. Yang pastinya suatu saat nanti akan diterapkan di tengah masyarakat.

Selanjutnya, jika kita ibaratkan pemerintahan di dalam kampus ini seperti sebuah negara, bagaimana akan berkembang, tertib, dan teratur jika jabatan presiden kosong. Sepertinya mustahil, sebab jabatan presiden di sini sangat vital. Salah satu fungsi Presma adalah mengkoordinasikan masing-masing pengurus fakultas, kemudian fakultas menurunkannya kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan seterusnya hingga sampai kepada mahasiswa.

Koordinasi inilah yang diinginkan dari Presma, sehingga masing-masing ranah dapat dilaksanakan sesuai dengan tupoksinya (Tugas pokok dan fungsi) masing-masing antara Universitas, Fakultas, hingga pada HMJ. Dengan kejelasan tupoksi itu maka dapat tercipta Student Goverment yang dinilai baik dalam pandangan internal maupun eksternal.

Baca juga: Optimis, KKR Menjawab Harapan Rakyat

Namun, bagaimana realita yang terjadi saat ini di kampus UIN SU? Sejak saya masuk kuliah pada tahun 2016, hanya sekali Presma memberi sambutan untuk mahasiswa baru (tahun 2018). Ini pun perlu dipertanyakan. Tidak seperti kampus-kampus lain, orasi Presma adalah yang paling ditunggu, karena umumnya orasi tersebut berisi motivasi yang membakar semangat secara keseluruhan.

Memang, bukan tanpa alasan mengapa permasalahan Presma ini tidak kunjung selesai. Dulu permasalahannya karena kampus tidak mengadakan pemilihan Presma. Namun, saat Presma sudah terpilih pun, kembali menimbulkan polemik. Permasalahan ini cukup panjang jika saya bahas di sini.

Baca juga: Pentingnya Verifikasi di Era Digitalisasi

Intinya, Presma adalah jabatan yang urgent bagi kampus, dan mahasiswa harus terus kritik agar pihak kampus lebih tegas lagi. Jangan hanya berorientasi soal akademik saja, hanya cenderung ke ranah yang berbau studi keilmuan, seperti olimpiade, seminar, kajian ilmiah dan sebagainya. Mahasiswa tidak boleh enggan masuk ke ranah politik atau organisasi. Sebab IPK tinggi belum tentu menjanjikan, bayangkan kalau mahasiswa kaku di tengah masyarakat. Permasalahan cuek ini fakta, terutama di kampus UIN SU yang berlabel juara ini.

Editor: Ade Suryanti

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles