Jangan Mau Dibodohi Ponsel Pintar

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Ilustrasi pengguna ponsel. (Sumber: Pexels/Limon Das)
- Advertisement - jd

Penulis: Muhammad Ibrahim

Di era telepon genggam yang masih berukuran kecil, aktivitas sehari-hari tidak begitu terganggu. Bagaimana mungkin manusia menghentikan aktivitas untuk sekadar bermain game ular atau tembak-tembak bola? Saat itu telepon genggam masih menggunakan papan ketik yang memiliki tiga huruf di tiap tombolnya. Kalau bukan untuk menelepon atau mengirim pesan singkat, keberadaan telpon genggam saat itu hampir tidak ada gunanya. Handphone tulalit orang-orang katakan.

Beberapa tahun setelahnya, telepon genggam kemudian mengalami banyak peningkatan. Tiga huruf di setiap tombol navigasi kini berubah menjadi layar sentuh yang patuh pada perintah jari. Ular-ular di game klasik pun beralih menjadi game-game tiga dimensi yang mengundang sensasi, belum lagi dengan fitur tambahan seperti kamera berefek, ragam musik, dan fitur-fitur lainnya di multimedia.

Baca juga: Pramoedya Ananta Toer

Kecanggihannya pun semakin pesat setelah berbagai aplikasi media sosial meramaikan media massa seluruh dunia. Interaksi baru pun dimulai. Selama perkembangannya, kita bisa melihat aktivitas orang lain, bisa berkirim pesan dengan cepat, bisa teleponan via internet bahkan lewat video. Selain itu, segala informasi dari belahan dunia pun dapat dilihat dalam satu waktu saja. Dunia berada dalam satu genggaman. Dampak baik dari perubahan ini, aktivitas manusia menjadi termudahkan. Telepon genggam berubah menjadi ponsel pintar.

Namun celakanya kepintaran ini malah membodohi naluri manusia. Faktanya kecanggihan media sosial justru lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Media sosial belakangan ini telah memperburuk etika bahkan silaturahmi manusia di masa depan.

Baca juga: Imlek, Masyarakat Tionghoa Lakukan Tradisi Pelepasan Burung

Media sosial telah merambah ke semua kalangan yang berdampak pada mudahnya akses apa saja ke siapa saja. Media sosial tak kenal anak-anak, tak kenal agama, juga tak kenal adat. Segala tampilan di media sosial berlaku untuk semua konsumen di mana saja.

Celakanya lagi, ini dianggap sebagai kenikmatan zaman. Fakta yang tak bisa ditolak saat ini adalah kaum muda lebih suka bermain ponsel pintar dari pada berkeringat. Di rumah bermain ponsel pintar, di luar bermain ponsel pintar, di mall, di rumah sakit, di halte, di mana saja kaum muda dibodohi oleh ponsel pintar. Padahal tidak ada yang dilihat selain hanya bermain game dan media sosial. Dampak lain yang kurang terfilter di dalamnya adalah konten-konten dewasa yang begitu mudah diakses. Ini bahkan terjadi di sekolah.

Bayangkan, telepon yang awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi dua arah, beralih pada fungsi yang makin memanjakan. Sedikit sekali ponsel pintar digunakan untuk aktivitas bermanfaat, seperti melihat kamus, melihat event-event kreatif, atau menghubungi keluarga jauh.

Coba dipersenkan. Dari satu hari ber-media sosial, berapa persenkah durasi untuk hal-hal yang bermanfaat? Mungkin hanya sekian persen dengan angka yang sedikit. Sisanya media sosial digunakan untuk melihat beranda, story, atau mencari kenalan. Dampaknya apa?

Dampak buruknya generasi muda kini lebih banyak bermain dari pada belajar. Lebih banyak bersantai dari pada berkeringat. Ini seperti membunuh kreativitas pelan-pelan. Talenta muda tanah air yang ke depan diharapkan membanggakan negeri justru tidak banyak bermunculan. Sedikit talenta muda yang berjuang untuk masa depan. Hari-harinya kecanduan media sosial terus.

Baca juga: Maha Vihara Maitreya, Bukti Antusiasme Dan Toleransi Beragama

Dulu orang-orang disibukkan dengan aktivitas hingga harus mengatur jadwal agar bisa bermain handphone. Kini orang-orang disibukkan dengan dunia maya, hingga harus mengatur jadwal agar bisa beraktivitas.

Kaum muda harus memahami ini. Perubahan zaman tidak selamanya dimaklumkan. Ini perubahan menuju pembodohan. Perubahan yang membuat talenta dan kreativitas makin merosot. Kecanggihan bahkan memperburuk norma. Untuk mengatasinya, generasi muda harus lebih banyak beraktivitas juga kreativitas.

Buatlah jadwal untuk bermain ponsel pintar, bukan membuat jadwal agar bisa beraktivitas. Keliru kalau kita sibuk media sosial, kemudian membuat jadwal agar bisa beraktivitas.

Harusnya kita sibuk beraktivitas, lalu membuat jadwal agar bisa bermain ponsel pintar. Lakukan metode ini, hingga kamu menyesal bermain ponsel pintar lebih dari dua jam sehari.

Editor : Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles