Jangan Takut Gelap /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Leyla Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Siska Ramayani Damanik

Teep…suasana menjadi gelap, ternyata listrik tiba-tiba padam. Laptop yang sedari tadi menjadi temanku larut dalam deadline pun ikut padam karena hidupnya yang bergantung pada listrik. “Uuhh, sialan” umpatku kesal. Aku hanya bisa berdiam diri menunggu tanda-tanda listrik akan menyala. Semenit, dua menit, tiga menit, hingga sepuluh menit, tidak kunjung ada perubahan.

Rasa sabarku mulai hilang. Pasalnya, tugasku masih menumpuk dan harus segera diselesaikan. Aku mulai meraba sekitar kamarku untuk mencari ponsel dan berencana untuk menelepon pihak PLN. Ingin rasanya ku maki mereka. Aku mulai meraba tempat tidur, tapi tidak kunjung menemukannya. Kesialanku bertambah, karena aku lupa dimana meletakkan benda tipis kesayanganku itu. Aku pun bergerak dari tempat tidur, berjalan di kegelapan kamar menuju meja riasku, dengan harapan aku akan menemukannya di situ.

Baca juga: Aku Rindu Pulang Bareng Ayah

Braak” bokongku kini telah mencium lantai. Rasanya sakit sekali. Kenapa malam ini nasibku begitu miris. Entah siapa yang meletakkan kulit pisang di dalam kamarku ini. Seingatku sejak tadi siang, aku sendirian di dalam rumah dan aku tidak memakan pisang selama mengerjakan tugas. Aku mencoba berdiri dan kembali berjalan menuju meja rias. Akhirnya, aku memegang kursi meja riasku. Aku meraba mejanya dan aku menemukan yang sedari tadi kucari.

Aku langsung menghidupkan ponsel ku dan menelusuri kontak dengan nama “PLN”. Panggilanku masuk. “Halo selamat malam” aku mendengar suara itu dan tingkat emosiku naik seketika. “Bisa tidak jangan mematikan listrik, saya sedang…..” “teep” tidak ada suara lagi. Benar saja, dia sudah mematikan panggilan menyusul kematian listrik. Aku benar-benar kesal. Tak ada pilihan lagi untukku selain menghabiskan malam ini bersama kegelapan.

Baca Juga: Belajar dari Rasa Kecewa

Tok..tok.tok..” ada yang mengetuk pintu rumahku. Entah siapa yang kurang kerjaan bertamu ke rumah orang saat sedang gelap seperti ini. Aku tidak menghiraukan suara pintu itu, tapi suaranya semakin terasa di telingaku. Sepertinya orang yang sudah menggangguku ini perlu dimaki juga. Apa dia tidak memahami kondisi emosiku saat ini.

Aku berjalan keluar kamar sambil meraba dinding rumah. Tidak ada pilihan, aku tidak punya simpanan lilin atau senter yang bisa dijadikan sebagai penerang. Suara ketukan rumah kembali terdengar, langsung ku jawab dengan sekali teriakan “iya sebentar”. Pintu itu tak bersuara lagi. Sepertinya tamuku ini mulai faham cara bertamu yang baik.

Baca juga: Jangan Beri Ruang untuk Kecewa

Aku hampir sampai ke depan pintu, aku melewati kamar ayah dan ibu. Pintunya terbuka, jendelanya juga masih terbuka. Ternyata, aku lupa menutupnya tadi sore karena terlalu asik dengan laptopku. Aku memilih masuk ke kamar ayah dan ibu, ku tutup jendela kamar mereka beserta pintu kamarnya. Aku kembali meraba dinding agar sampai ke depan pintu rumah.

Akhirnya, aku sampai di depan pintu. Ku putar kuncinya kemudian knopnya. Kosong. Tidak ada siapapun di depan teras rumah. Mungkin anak kecil tetanggaku yang usil mengerjaiku. Ku tutup kembali pintu rumahku. Saat aku berbalik badan untuk kembali ke dalam kamar, pintu kembali diketuk. Astaga, siapa sebenarnya yang ingin bermain-main denganku. Lalu, aku berbalik dan membuka pintunya, cekrek…. aku melihat sosok itu dengan mata telanjang, posisinya  membelakangiku.  Berpakaian putih dengan rambut tergerai sangat lurus dan panjang.

”Aaaaaa.. Tidaaaaaak”

Bersambung

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles