Jangan Takut Gelap /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Leyla Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Siska Ramayani Damanik

Akhirnya, aku sampai di depan pintu. Kuputar kuncinya kemudian knopnya. Kosong. Tidak ada siapa pun di depan teras rumah. Mungkin anak kecil tetanggaku yang usil mengerjaiku. Kututup kembali pintu rumahku. Saat aku berbalik badan untuk kembali ke dalam kamar, pintu kembali diketuk. Astaga, siapa sebenarnya yang ingin bermain-main denganku. Lalu, aku berbalik dan membuka pintunya kembali, cekrek.., aku melihat sosok itu dengan mata telanjang, posisinya  membelakangiku.  Berpakaian putih dengan rambut tergerai sangat lurus dan panjang.

”Aaaaaa.. tidaaaaaak”

Kuhempaskan pintu secara spontan. Aku merinding. Nafasku naik turun tak beraturan. Sosok itu kemudian tertawa.

“Ha..haa.haa”

“Ha..haa..haa”

“Hei, buka pintunya. Ini aku tetanggamu”

Baca juga: Jangan Takut Gelap /1/

Aku mendengar suaranya dengan jelas. Aku tidak punya tetangga yang berwujud hantu. Dia masih belum berhenti tertawa sehingga membuatku kurang yakin kalau dia benar manusia.

“Kamu hantu?” tanyaku padanya.

“Tidak. Bukalah pintunya. Aku tetanggamu. Aku tahu kamu sendirian di rumah jadi aku ingin menemanimu.” Jelasnya.

“Baiklah.” Jawabku setelah yakin kalau dia manusia.

Kubuka pintu dan kupersilahkan dia masuk. “Ikatlah rambutmu dulu. Itu membuatku takut.” Pintaku kepadanya.

Baca juga: Aku Rindu Pulang Bareng Ayah

“Tak perlu takut, aku akan mengikatnya.”

“Kenapa kamu kesini?” tanyaku.

“Aku ingin memberitahumu Mia, di depan gang komplek kita ada pohon tumbang yang menyebabkan listrik terpaksa dipadamkan. Karena aku sendiri di rumah dan kamu juga sendiri, jadi aku datang ke sini. Aku yakin kamu butuh teman kan?” ucapnya panjang lebar.

Rupanya itu yang membuat listrik padam. Tapi setidaknya ada Imah, tetanggaku yang akan menemaniku. Aku membawa Imah ke kamar ku. Ternyata Imah membawa lilin. Dia memasangnya di kamarku. Syukurlah, ada sedikit cahaya yang bisa mengurangi rasa takutku.

“Aku ingin mandi. Kamu tunggu di sini saja ya.” Kataku pada Imah dan dia mengangguk. Untungnya, kamar mandi berada di dalam kamarku jadi aku tak perlu meraba-raba dinding lagi. Sampai di kamar mandi, aku langsung menghidupkan shower dan mulai membasahi rambutku sambil memijatnya pelan. Hal itu memang biasa kulakukan untuk menghilangkan setiap rasa pegal di kepala.

Baca juga: Jangan Beri Ruang untuk Kecewa

“Hmm…hmm…hmm”

Tiba-tiba kudengar suara orang sedang bersenandung. Apakah Imah yang melakukannya? Tapi kenapa suaranya seperti di balik pintu hingga aku bisa mendengarnya dengan begitu jelas.

“Hmm..hmm..hmm”

Suara itu muncul lagi dan kemudian diikuti suara lain dengan menggunakan bahasa yang tidak begitu jelas. Aku mematikan showerku. Kudengar kembali senandungan aneh itu. Benar saja itu bahasa Jawa. Akhirnya terdengar suara seperti orang yang sedang menyinden. Astaga, aku benar-benar heran. Masih adakah orang yang suka sinden zaman sekarang? Suara itu sangat menyeramkan. Aku sampai merinding di dalam kamar mandi.

Aku tidak menghiraukan suara itu. Kuhidupkan showerku kembali untuk melanjutkan ritual mandiku. Tapi, suara itu semakin jelas kudengar dan berhasil membuatku semakin takut. Aku menyelesaikan mandiku. Kulilitkan handukku dan memberanikan diri keluar dari dalam kamar mandi.

Cekrek.. kubuka pintu kamar mandi. Aku melihat Imah sedang duduk di kursi rias ku sambil menyisiri rambutnya pelan dan begitu khusyuk. Aku tak menghiraukannya dan memilih mendatangi lemari bajuku.

Baca juga: Belajar dari Rasa Kecewa

“Hmm..hmm..hmmm”

Dia bersenandung lagi. Kulirik dia. Sama. Masih khusyuk menyisiri rambut panjangnya. Dia tidak bicara apapun. Hanya asik dengan sisir di tangan nya dan melipat satu kakinya di kaki yang lain sambil bersenandung.

Setelah aku selesai mengenakan bajuku aku meliriknya lagi. Dia menatapku. Tatapannya terlihat aneh. Tidak bersahabat. Dia berdiri dari kursi riasku. Berjalan seperti menghampiriku. Tetap sambil bersenandung dan menyisiri rambut panjangnya. Dia semakin mendekat. Aku mundur dari tempatku. Rasanya darahku semakin cepat mengalir.

“Kenapa menatapku begitu?”

Dia diam. Masih terus melangkah ke arahku.

Bersambung

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles