Jangan Takut Gelap /3/

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Siska Ramayani Damanik

Dia bersenandung lagi. Kulirik dia. Sama. Masih khusyuk menyisiri rambut panjangnya. Dia tidak bicara apapun. Hanya asik dengan sisir di tangan nya dan melipat satu kakinya di kaki yang lain sambil bersenandung.

Setelah aku selesai mengenakan bajuku aku meliriknya lagi. Dia menatapku. Tatapannya terlihat aneh. Tidak bersahabat. Dia berdiri dari kursi riasku. Berjalan seperti menghampiriku. Tetap sambil bersenandung dan menyisiri rambut panjangnya. Dia semakin mendekat. Aku mundur dari tempatku. Rasanya darahku semakin cepat mengalir.

“Kenapa menatapku begitu?”

Dia diam. Masih terus melangkah ke arahku.

Bokongku kini mencapai dinding. Aku tidak bisa mundur lagi. Imah masih terus melangkah ke arahku. Aku benar-benar takut. Dia terus menatapku. Keringatku mulai terasa bercucuran hingga dia tepat di depanku sekarang.

Baca juga: Jangan Takut Gelap /1/

Aku tidak berani bicara apapun. Begitu juga Imah, dia masih saja menyisiri rambutnya sambil bersenandung. Kutatap sorot matanya. Sungguh tidak bersahabat. Apa Imah memang bukan manusia? Seperti apa jalan hidupku setelah ini? Begitulah isi otakku.

“Kamu mau apa?” ku beranikan bertanya.

Imah tetap tidak menjawab.

“Hmm…hmm..hmm..”

Lagi-lagi, Imah kembali bersenandung. Kini dia melakukannya tepat di telingaku. Aku sungguh merinding. Aku hanya berdiri terdiam. Kudengar semua senandungan bahasa Jawa yang tentu saja tidak aku mengerti semakin jelas. Sesekali dia menatap mataku. Aku memejamkan mataku karena tak berani menatap sorot matanya.

Baca juga: Jangan Takut Gelap /2/

Hingga kurasakan sesuatu menyentuh pipiku. Ternyata Imah yang melakukannya. Dia mengitari bagian pipiku dengan sisir di tangannya, membentuk pola abstrak yang aku juga tidak paham maksudnya. Aku ingin menangis. Aku benar-benar takut.

“Sepertinya darahmu segar. Pasti manis. Boleh ku cicipi?” bisikan menakutkan yang ku dengar tepat di telingaku. Aku mulai meneteskan air mata yang sejak tadi ku tahan. Sekujur tubuhku sudah bergetar. Aku belum siap mati.

“Boleh kan Mia sayang?” tanyanya lagi.

Tiba-tiba, aku melihat semua keadaan jadi gelap. Lilin yang tadi menyala telah padam. Aku semakin ketakutan. Ku dengar suara Imah tertawa. Aku benci mendengar tawanya. Tak bisa menahan rasa takutku. Aku terjatuh. Sepertinya aku juga ikut padam.

***

Aku terbangun. Kulihat aku berada di tempat tidur. Kuperiksa seluruh tubuhku, semua baik-baik saja. Tapi aku tak melihat Imah. Kemana perginya dia? Pintu kamarku pun terbuka. Sosok Imah datang sambil membawa nampan berisi sarapan pagi. Dia tersenyum ramah. Aku masih tak bergeming.

Baca juga: Aku Rindu Pulang Bareng Ayah

“Sarapan dulu. Setelah itu akan ku jelaskan semuanya. Jangan takut.”

Dengan ragu, aku meneguk segelas susu dan memakan roti yang dibawakannya hingga tak bersisa.

”Maafkan ulahku tadi malam. Aku sedang latihan seni teater karena sebentar lagi aku UAS. Apa yang kulakukan tadi malam adalah tak lebih dari latihan melakoni peranku di UAS nanti.”

Ada perasaan lega dalam hatiku. Ternyata Imah masih tetanggaku yang berwujud manusia. Aku jadi merasa bodoh. Saking takutnya, aku sampai kehilangan akal dan tak bisa membedakan manusia dan hantu.

“Aku tidak menyangka kalau kamu berakhir pingsan. Maafkan aku. Aku menyesal melakukannya Mia.” Sesalnya.

Baca juga: 5 Februari, Pihak UPZ Umumkan Kelulusan Penerima Beasiswa

“Tidak apa-apa. Aku juga yang terlampau bodoh. Aku benar-benar takut pada gelap. Itu sebabnya pikiranku juga tidak bisa berjalan dengan baik hingga menganggapmu sebagai sosok hantu tadi malam.” Jawabku jujur.

Setelah itu Imah tertawa. Tanpa kusadari ternyata listrik sudah menyala. Langsung ku charger ponsel dan laptopku. Imah pamit pulang. Aku mengantarnya sampai ke depan. Rumah Imah tepat di depan rumahku. Imah adalah anak pak RW yang merupakan salah satu mahasiswi seni teater di luar kota. Pantas aku tak mengenalnya tadi malam karena aku jarang bertemu dengannya.

“Aku pulang ya Mia. Lain kali aku mampir lagi.” Pamitnya.

“Aku tidak terima tamu hantu.” Jawabku.

“Tidak. Aku akan bertamu sebagai sahabatmu.”

“Mia. Jangan takut gelap. Gelap tidak semenyeramkan apa yang dibayangkan oleh mu.” Pesannya sebelum meninggalkan rumahku.

Tamat

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles