Jerih Payah Seorang Ibu Tanpa Imam

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi. (foto/ilustrasi/shutterstock)
- Advertisement - jd

Penulis: M. Haris

Terkadang nasib buruk menimpa seseorang tidak mengenal siapa dan bagaimana keadaan orang tersebut. Lastri, wanita paruh baya yang rela bekerja banting tulang dari subuh hingga magrib demi menafkahi tiga orang anak yang ditinggal suaminya dengan wanita lain. Ia adalah seorang buruh di sebuah pabrik produksi makanan ringan.

Kehidupannya sangat indah mulai dari pernikahan 20 tahun silam hingga anak pertamanya berumur dua tahun lebih. Semua berjalan baik-baik saja layaknya kehidupan ibu muda pada umumnya. Semua berubah kertika ia mengandung anak keduanya, dan pada saat itulah suaminya pergi meninggalkan Lastri untuk menikah dengan wanita lain.

Baca juga: Sudahkah Berinvestasi Akhirat?

Waktu terus berjalan, semua kesedihan Lastri kini hanya kenangan, tapi tidak dengan anak kedua Lastri yang sangat merindukan sosok ayah yang belum pernah ia lihat. Lastri mencari suaminya yang bernama Bambang itu. Bambang memutuskan untuk kembali bersatu dengan istri pertamanya, namun tidak juga menceraikan wanita keduanya. Lastri hanya pasrah dan mengalahkan egonya demi memikirkan anaknya. Kehidupan mereka pun berlangsung cukup lama hingga Lastri mempunyai seorang putra yang sangat ia idamkan.

Beberapa bulan setelah anak ketiganya lahir, suami Lastri tak lagi memberi nafkah bulanan, disebabkan karena gaya hidup istri keduanya yang sangat berfoya-foya. Kehidupan yang susah pun melanda Lastri hingga menuntut ia untuk bekerja sendiri demi memenuhi kebutuhan anak anaknya. ”Aku harus rela mencari nafkah tambahan untuk anak-anakku,” ucap lastri dalam hati kecilnya.

Baca juga: Jangan Takut Gelap /3/

Sebelum ia bekerja menjadi buruh pabrik, ia sempat bekerja menjadi seorang buruh cuci rumah tangga di sekitaran tempat ia tinggal. Semua tak berjalan begitu lancar, terkadang ia mendapat majikan yang kasar dan kejam dalam berbicara, hingga ia tak tahan dan memilih berhenti untuk bekerja sebagai buruh cuci dan mencari pekerjaan lain.

Setelah berhenti dari pekerjaan buruh cuci, Lastri melamar pekerjaan menjadi buruh pabrik dan hanya mengandalkan ijazah pendidikan SD. Namun, Allah mulai membuka jalan keluar atas masalah Lastri, ia berhasil diterima bekerja di pabrik tersebut dengan gaji 40 ribu per hari. Hal ini berjalan cukup lama. Dengan gaji yang cukup, ia dapat menyekolahkan anak pertama dan keduanya hingga tamat jenjang SMA dan si bungsu masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

Baca juga: Mengikhlaskan Keinginan, Meyakini Ketetapan

Selama ia bekerja menjadi buruh pabrik, tidak semuanya selalu berjalan mulus, masalah kian berganti bahkan musibah terkadang menimpanya, mulai dari kecelakaan saat ingin pergi bekerja hingga kejadian hampir dipecat akibat melakukan kesalahan bahkan banyak juga mandor pabrik suka semena-mena membentak dan memahari Lastri hanya karena kesalahan yang kecil.

Ia mulai menata kehidupan barunya semenjak ia bekerja menjadi buruh pabrik tanpa sosok seorang imam yang seharusnya mengisi tempatnya. Dengan kehidupan yang sederhana dan cukup, ia sedikit demi sedikit menabung uang hasil kerjanya untuk membangun sebuah rumah yang lebih layak untuk ditempati Lastri dan anak-anaknya.

Tak terasa sudah hampir 12 tahun Lastri bekerja sebagai buruh pabrik dan rencananya untuk membangun rumah sudah terwujud. Lastri juga mendapat bantuan dari pemerintah setempat, begitu juga dengan anaknya ketiganya yang berhasil mendapat banyak besiswa di sekolahnya, dengan begitu bebannya untuk menyekolahkan anaknya kian berkurang.

Baca juga: LPM Dinamika UIN SU Pertahankan Penghargaan ISPRIMA 2020

Begitulah kehidupan, semua orang mempunyai jalan kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang dari kecil sudah hidup senang dan ada yang dari kecil selalu berada dalam titik kesulitan, tetapi jika kita selalu berusaha dan berdoa kepada Allah, Allah juga pasti membantu dan menolong orang yang bersungguh sungguh atas usaha yang dilakukannya.

Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah menguji seorang hamba melewati batas kemampuannya, sebab itu berpikirlah yang positif terhadap-Nya. Ketika diberi suatu cobaan, maka cobalah untuk berpikir bahwa Allah akan memberikan jalan keluar yang tak diduga bagi hamba-Nya.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles