Kado Terindah dari Kakakku

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Putri Ayu Dahniar
- Advertisement - jd

Penulis : Juwita Sima

Perkenalkan namaku Karna Ardinata, aku duduk dikelas XI SMK Putra Nasional, Bandung. Siang ini terik matahari terasa menembus kulitku yang berbalut seragam putih abu-abu sepulang sekolah. Kakiku melangkah menuju rumah yang akhir-akhir ini sangat membosankan bagiku. Suasana rumah ini sangat sepi, tidak ada perubahan setelah aku pergi ke sekolah tadi pagi.

“Karna, kamu udah pulang?” suara tersebut mengagetkanku.

“Na, Ayah sama Bunda ada urusan mendadak keluar kota, makanya gak sempat kabari kamu. Kamu ganti baju dulu, abis itu kita makan. Tadi Bunda udah nyiapin sebelum pergi,” ucapnya kembali.

“Males. Makan aja sendiri,” ucapku ketus kepada sosok lelaki yang memegang tongkat tersebut, kemudian berlalu menuju kamarku.

Aku hampir lupa padanya, lelaki tersebut namanya Elfatih. Dia kakakku, Kakak yang sangat kubenci karena dia buta, Kakak yang membuat sikapku berubah menjadi pemurung, kakak yang menghancurkan kebahagiaanku dengan mengambil perhatian kedua orangtuaku.

Baca juga: Memantik Gelora Sejarah Islam (Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujadid)

Kak Fatih buta karena kecelakaan setahun lalu yang dia alami bersama kak Serin yang saat itu berstatus sebagai kekasihnya. Karena kecelakaan tersebut kak Serin meninggal dan kak Fatih bisa diselamatkan tetapi mengalami kebutaan. Semenjak saat itu ayah dan bunda memberikan perhatian lebih padanya. Karena hal tersebut membuatku  sangat membencinya.

Pagi ini aku tak melihatnya. Hanya ada sepotong roti dan segelas susu diatas meja makan yang terlihat sangat berantakan. Sudah bisa ditebak siapa yang menghidangkan sarapan itu. Aku berlalu pergi tanpa berniat mencicipinya sedikitpun.

Proses belajar mengajar berlangsung seperti biasanya. Setelah bel berbunyi aku memilih langsung pulang kerumah dan pastinya disambut oleh kak Fatih yang sekarang terlihat sangat berantakan karena tidak ada yang merawatnya setelah ayah dan bunda pergi. Wajar saja jika dirinya begitu, karena Bunda tidak suka ada pembantu dirumah ini. Melihat keadaannya yang tak seperti biasanya, aku sama sekali tidak peduli dan sangat malas jika harus mengurusinya. Aku hanya berlalu kekamarku, meninggalkannya yang terus-terusan menanyaiku.

Baca juga: Maha Vihara Maitreya, Bukti Antusiasme Dan Toleransi Beragama

Tiba dikamar, ku dapati suatu bingkisan terletak diatas meja belajarku. Perlahan kubuka bingkisan tersebut. Isinya sebuah jam weker berbentuk doraemon, Didalamnya terdapat kertas yang bertuliskan “Happy birthday adik kecil. By: orang yang menyayangimu.” Berbagai pertanyaan berputar dibenakku. Tiba-tiba saja kepalaku pusing, perutku mual dan sangat sakit sekali. Aku mulai tidak bisa menyeimbangi tubuhku dan seketika semuanya gelap.

***

Aku terbangun dan mendapati kedua orangtuaku yang terlihat cemas. Aku sangat senang melihat mereka yang tiba-tiba peduli padaku. Rasanya aku ingin tetap begini saja agar bisa tetap mendapat perhatian mereka. Ayah mulai bercerita tentang penyakitku yang baru saja diperiksa dokter. Kedua ginjalku positif sudah tidak berfungsi lagi. Jujur pada awalnya aku sangat takut, namun dokter memberitahukan bahwa aku bisa disembuhkan, sebab ada orang yang baru saja mendaftarkan dirinya menjadi pendonor untukku.

Pikiranku kembali pada bingkisan yang kubuka kemarin. Aku berprasangka kalau kado tersebut dari kak Randa, Kakak sepupuku. Aku jadi semakin menyayangi kakakku yang satu itu, karena Cuma dia orang yang mengingat hari kelahiranku, ketika semua orang lupa akan hari itu.

Hari ini aku akan menjalani operasi. Sebelum masuk ke ruang operasi, ayah dan bunda menghampiri dan mengecup pipiku bergantian. Terlihat dari raut wajah mereka sangat mencemaskanku.

***

Ruangan ini terlihat asing, dengan cat berwarna putih serta bau obat-obatan yang menusuk hidung. Perlahan kubuka mataku. Ada banyak orang yang berada disekelilingku. Namun pandanganku belum terlihat jelas. Semua orang tersenyum kearahku, kedua orangtuaku mengecup keningku dan memelukku dengan erat. Aku baru sadar ternyata aku sudah satu minggu tertidur setelah operasi pencangkokan ginjal tersebut berhasil. Semua orang-orang terdekatku berada di ruangan ini, namun aku tidak mendapati sosok yang sering mengganggu ketenanganku, kak Fatih. Tapi hal itu justru membuatku senang, lagi pula dia hanya akan merebut perhatian semua orang jika berada disini.

Baca juga: Langsungkan Mukel, LPM Dinamika Lahirkan Pemimpin Baru

“Selamat ulang tahun sayang.” ucap ayah dan bunda secara bersamaan. Aku sangat bahagia, tanpa kusadari air mataku jatuh karena terharu dan memeluk mereka.

“Ayah, aku ingin tahu siapa yang mendonorkan ginjalnya untukku. Aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih padanya dan keluarganya.” ucapku dengan semangat.

Tiba-tiba saja perkataanku membuat semua orang diruangan ini terlihat sedih, bahkan bunda menangis sekarang. Kurasa tidak ada yang salah dari perkataanku.

“Kenapa Ayah?” hanya itu yang bisa ku ucapkan.

“Dia hanya menitipkan bingkisan ini untukmu.” ucap ayah sambil memberikan sebuah bingkisan yang sama persis seperti yang kudapat sebelum aku tak sadarkan diri.

Isinya juga tidak ada yang berubah, hanya saja sekarang ada surat yang terselip disana. Perlahan kubuka surat tersebut.

To : Adik kecil

Apa kabar adik kecilku?.  Pastinya kamu sekarang udah sehat ya kan? Kakak minta maaf kalau akhir-akhir ini sering membuat kamu marah dan kesal. Maaf kalau kakak sering menyusahkan kamu, maaf kalau sikap kakak membuat kamu membenci kakak. Kakak tau kamu adik yang baik, kamu gak pernah benci sama kakak, kamu hanya gak suka karena kakak terlalu diperhatikan kan?. Sekarang kamu gak perlu takut lagi, karena kamu adalah orang yang paling berharga di keluarga Ardinata. Kamu pasti tau, setelah membaca surat ini kakak udah gak ada lagi disamping kamu, udah gak bisa lagi mengganggu kamu. Kakak udah pergi jauh. Kakak tau setelah ini kamu pasti merindukan kakak. selamat ulang tahun ya adik kecil. Kakak gak bisa hadir hari ini, kakak tahu kamu gak suka pemberian kakak yang kemarin, jadi kakak ganti dengan yang lebih bermanfaat. jaga pemberian kakak dengan baik ya. Jangan lupa minum air putih yang banyak biar ginjalnya gak sakit lagi. Karena kalau sakit, siapa lagi yang mau mendonorkan ginjal untuk kamu. Dan satu lagi, kamu gak boleh nangis waktu baca surat kakak. Kakak gak suka adik yang cengeng. Love you.

By: Elfatih

Aku tidak bisa menahan tangisku. Air mataku keluar tanpa henti meski penulis surat tersebut tidak mengizinkanku untuk menangis. Dadaku terasa sesak, bibirku bergetar, lidahku terasa keluh untuk mengeluarkan kata-kata. Kulihat satu persatu orang yang berada diruangan ini seolah memberikan beribu pertanyaan pada mereka. Namun semua orang menunduk sambil mengusap air mata mereka yang ikut berjatuhan.

Ayah mulai menceritakan, bahwa  kak Fatih mendonorkan satu ginjalnya untukku. Awalnya ayah sama bunda tidak mengizinkannya. Namun dia tetap memaksakan kehendaknya. Dengan terpaksa mereka mengizinkan sebab keinginannya yang kuat tersebut. Dia bahkan berkata jika tidak memberikan pertolongannya padaku, dia akan menyesal seumur hidup. Sebelumnya ia menitipkan bingkisan tersebut pada ayah dan meminta ayah menuliskan surat yang ingin dia sampaikan padaku seolah tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Rencana tuhan tidak ada yang tahu. Operasi tersebut berhasil bagiku, namun gagal untuk kak Fatih. kak Fatih kehilangan banyak darah sehingga tidak bisa diselamatkan.

Baca juga: Wakil Rektor III Resmi Nonaktifkan Dema-U dan Sema-U

Mendengar penjelasan ayah yang panjang lebar, aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Hatiku terasa sakit. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan orang yang sangat menyayangiku. Betapa jahatnya aku telah membenci orang yang begitu peduli padaku. Aku tahu penyesalan diakhir tiada berguna. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan setelah kepergiannya selain menyesali perbuatanku diwaktu lalu. Beribu kata maaf yang sudah kuucapkan pun sudah tidak berarti lagi.

Sekarang aku melewati hari-hariku dengan semestinya, mengingatnya sebagai sosok manusia yang membuatku menjalani hidup dengan baik, dan menyimpannya sebagai kenangan dan sejarah tersimpan didalam  Kehidupanku. Surat yang dia tulis untukku masih tersimpan dengan baik, dan akan tetap tersimpan sebagai bukti bahwa dia adalah orang yang berarti. Jika ada yang bertanya tentangnya, maka aku akan menjawab, “Elfatih, Dia adalah kakakku. Kakak yang merelakan seluruh hidupnya untukku, kakak hebat yang tidak peduli akan nyawanya demi aku. Dan kakak yang tetap menyayangiku meski beribu kali aku mengatakan benci padanya.”

Editor : Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles