Karena Jatuh Cinta

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Tumbularani
- Advertisement - jd

Penulis: Siska Ramayani Damanik

Jangan melukai hati sahabatmu, dengan membuatnya menangis atau merusak kepercayaannya lewat keputusan bodohmu. Nanti kamu akan terima sendiri akibatnya.

Namaku Saskia, saat ini aku menjadi mahasiswa semester 6 di salah satu universitas yang sebelumnya tak pernah ku jadikan impian. Selain orang tua, sahabat adalah alasan besar yang membuat hatiku memilih untuk menyelesaikan sarjana ekonomiku di kampus ini.

“Sas, udah ngerjain Akuntansi? Matematika Ekonomi gimana sih caranya itu? Sas, ngerjain semua tugas barengan yuk, nanti sore aku jemput ya. Kita gak akan berduaan, aku ajakin yang lain juga. Yang penting kamu ikut, biar ada yang jadi guruku,” itu adalah rentetan kalimat sahabatku yang rewel. Setiap ada tugas kuliah yang berbau angka kalimat pasti selalu dilontarkannya padaku. Lantaran kursi kami yang sering bersampingan membuatnya mudah mengajakku ngobrol saat jam kuliah berlangsung. Aldi, itulah namanya. Satu-satunya sahabat lelakiku yang ku percaya.

Aku dan Aldi berteman dekat sejak semester satu, kami adalah teman yang menerapkan simbiosis mutualisme, jika mata kuliah hitung-hitungan dia berguru padaku tapi jika mata kuliah yang berbau agama  dia menjadi pembimbingku, begitulah isi dari persahabatan kami yang bisa membuat kami menjadi dekat.

Bersamanya aku tak kenal rasa takut pada lelaki, karena aku mempercayainya. Pemahamannya soal agama membuatku merasa aman, hingga tidak jarang saat ada kegiatan di luar kelas aku memilih pergi dan pulang bersamanya. Begitupun dia, lelaki yang memiliki berjuta rasa malu pada perempuan ini tidak begitu datar berkomunikasi padaku, kadang aku sampai merasa kalau dia tak menganggapku perempuan. Ternyata tak seburuk itu, dia begitu karena dia menganggapku sahabat, tempat kapan saja ia ingin curhat.

Baca juga: Waktumu, Kau Habiskan Ke mana?

***

“Sas, jangan pernah pacaran ya. Jaga hatimu baik-baik. Lelaki yang mengajakmu pacaran sudah dipastikan hanya ingin main-main denganmu,” kata Aldi lewat telpon

“Iya Akhi,” jawabku sambil terkekeh. Aku memang suka menggodanya bila ia menceramahiku. Pasalnya hampir setiap hari aku mendapat ceramah gratis dari sahabatku ini.

“Jaga izzah dan iffahmu. Perempuan yang mampu menjaga kedua itu adalah perempuan yang dicemburui bidadari surga dan aku mau kamu menjadi perempuan itu”

Na’am ustadz. Ana upayakan”

“Jangan pinter jawab aja. Masih ingetlah apa itu izzah dan iffah?, aku sih kurang yakin. Soalnya kan ingatanmu rendah, lebih rendah dari ukuran badan” jawabnya dan langsung terbahak-bahak.

Begitulah aku dan dia berkomunikasi, semenit bicara serius, semenit kemudian saling mengejek. Tapi aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya, sering mengingatkanku soal kebaikan. Saat dia melihatku menangis dia akan ikut sibuk membuatku berhenti menangis, dia juga banyak mengingatkan ini dan itu tentang perempuan, tentang menjaga suara misalnya. Itu yang membuatku juga peduli dengannya, dia yang pelupa akan kesehatan, tugas, bahkan janjinya sendiri dengan orang lain yang sempat diceritakannya denganku, aku lah yang menjadi alarm untuk mengingatkannya.

Baca juga: Sahabatku Ternyata Bukan Manusia

***

Kedekatan kami ternyata mengundang konflik. Tanpa sadar aku telah menjadi topik isu terhangat teman-teman di kelas, hingga kalimat “Perempuan penggoda” sampai di telingaku. Sahabat-sahabat perempuanku menyampaikan semua isu itu padaku, aku benar-benar sakit hati. Tega betul teman sekelas yang ku anggap keluarga itu menjulukiku sekeji itu.

“Sudah jangan nangis lagi. Supaya semua membaik, cukup kurangi kedekatan kalian. Aku percaya kalian masih wajar dalam berteman, tapi bagaimanapun tetap kurang baik dilihat mata saat perempuan dan lelaki terlampau dekat. Aku harap kamu faham, Sas. Aku sangat gak terima mendengar namamu digosipi,” kata Nia, sahabatku.

Sejak hari itu kulakukan apa yang dikatakan sahabatku. Aku tak lagi berkomunikasi lewat pesan dengan Aldi. Ditambah Aldi yang mulai jarang masuk kelas membuatku bersyukur karena tidak akan melihatnya dan berbicara dengannya. Aku tak marah padanya tetapi hanya kesal karena hanya aku yang disalahkan orang ketika menilai kedekatan kami.

Baca juga: Berniat Hijrah, Ayo Itu Perintah

***

“Sas, banyak yang bilang Aldi pacaran. Kamu udah tahu?” tanya Nia. Jujur saja aku baru dengar soal itu. Dan aku tak mempercayai gosip itu. Sekalipun aku tak pernah lagi berkomunikasi dengan Aldi tapi aku percaya dia lelaki yang anti pacaran. “Yasudah lah biarkan saja.” Hanya itu jawabanku.

Hingga pagi itu, aku melihat grup chat kelas. Pesan dari Aldi terpampang di sana meminta tolong tapi dengan bahasa yang menyindir dan kurang sopan. Aku tak percaya dia bisa mengetik kalimat-kalimat kurang baik seperti itu, ku beranikan diri untuk balas chat pribadi dengannya.

“Kenapa bicara begitu di grup? Ada masalah,?” ku kirim pertanyaan itu.

“Oh bagus ternyata kamu pinter merasa bukan merasa pinter,” balasnya

“Kalau ada yang salah bicarakan, jangan membuat orang lain salah faham,”

“Sangat tidak mungkin kamu tidak faham. Aku yakin kamu tahu maksud bicaraku kemana,”

“Perjelas supaya jelas,”

“Sudahlah kita sudah berbeda prinsip,”

Aku tidak membalasnya lagi. Setetes air mataku jatuh. Aku memang perempuan yang teramat cengeng. Aku kecewa dengannya. Baru ini dia ku nilai kasar. Yang biasanya mengingatkan untuk menahan tangis tapi sekarang dia menjadi penyebab aku menangis.

Tak cukup di situ, beberapa hari setelahnya aku melihat Aldi dengan seorang perempuan yang tidak ku kenal, karena aku menyadari itu adalah Aldi, aku memilih menunduk tak ingin berpapasan dan bertatap mata dengannya. Aku sempat mengenali wanita yang bersamanya itu, hingga aku tahu bahwa perempuan itu adalah pacar Aldi. Sejak itu keadaan kamipun semakin tidak baik. Bila berpapasan seperti tak saling kenal, bila di kelas juga saling tak menganggap keberadaan.

Mungkin memang lebih baik begitu, persahabatan antara lelaki dan perempuan memang selalu mengundang masalah ujungnya. Bila bukan karena ada yang jatuh cinta diantaranya, pasti cinta juga yang membuat semua berubah. Yah, seperti jatuh cintanya Aldi pada perempuan lain. Benar kata Aldi kami sudah berbeda prinsip. Dia yang menjadi pengingat agar aku tak pacaran malah memacari perempuan, dia telah merusak kepercayaanku dan saling mendiamkan cukup menjadi bayarannya.

Editor : Khairatun Hisan

- Advertisement - DOP

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles