Karena Kertas Aku Bertahan

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrasi kertas. (foto/ilustrasi/pexels/pixabay)
- Advertisement - jd

Penulis: Juwita Sima

“Aku hanya berpesan padamu, jaga dirimu baik-baik. Bertahanlah semampumu. Jika kau mencintai tempat itu maka aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk keluar dari lingkaran tersebut, pelajari hal-hal yang baik di dalamnya. Siapkan hatimu untuk setiap perkataan orang yang mungkin akan menyinggungmu. Jadikan motivasi dari setiap hal yang terlalu terang-terangan melukaimu. Jika ada satu hal yang membuatmu ingin menghilang maka jadikan banyak hal menjadi alasanmu untuk tetap tinggal. Jika ada banyak hal yang terus memaksamu untuk pergi, maka jadikan satu hal yang menuntunmu untuk kembali.”

Begitulah isi sepenggal surat yang kudapat di dalam buku yang biasa kubawa. Aku tak tau pasti siapa yang mengirimkannya. Bahkan tidak ada juga yang menerangkan bahwa surat itu tertuju untukku. Tapi, dari tempat dimana surat itu ditemukan, aku paham ini jelas ditujukan padaku.

Namaku Sima. Aku adalah seorang mahasiswi semester 3, jurusan Pendidikan Agama Islam. Beberapa orang yang telah mengenalku, pasti tahu bahwa aku adalah orang yang membingungkan. Aku ingin berkuliah, tetapi aku tidak pernah tahu apa tujuanku berkuliah, jurusan apa yang akan kuambil, hal apa yang aku senangi pun aku juga tak tahu. Yang lebih parahnya aku tak pernah punya cita-cita. Kujalani hidupku sesuai skenario saja.

Baca juga: Mengikhlaskan Keinginan, Meyakini Ketetapan

Orang lain selalu mengataiku sebagai orang yang bodoh. Tetapi inilah aku. Berulang kali memaksakan diri memahami apa kelebihan yang ada pada diriku yang harus dikembangkan, nyatanya sampai saat ini aku sama sekali belum menemukannya. Siapa saja yang mendengarnya pasti akan merasa sedih, ya begitulah. Tapi tidak semua orang tahu betapa menyedihkan menjadi orang yang tidak punya tujuan. Orang tuaku tak pernah tahu masalah ini, sebab jika saja mereka tahu sudah pasti aku akan dikeluarkan dari perkuliahan, dan jelas aku tidak mau hal itu terjadi.

Karena sibuk mencari keahlian, namun tak kunjung kudapatkan, aku memasuki dunia kejurnalistikan di kampusku, sungguh bertolak belakang dengan jurusan yang kuambil. Awalnya hanya iseng-iseng ikut tes kemampuan. Beberapa hari setelah tes, aku dinyatakan lulus di organisasi yang sama sekali tidak kuminati, namun rasanya tidak ada masalah jika aku masuk ke dalam lingkaran tersebut dan mulai menjalani magang selama tiga bulan sebagai kegiatan awalku. Dulunya, aku tidak suka dengan seorang wartawan, aku benci dengan reporter yang menurutku berlebihan, aku juga tidak suka menonton berita, apapun hal yang berbau dunia kejurnalistikan sama sekali tidak kusukai.

Baca juga: Sudahkah Berinvestasi Akhirat?

Disinilah sekarang aku berada, di dunia jurnalistik di bidang marketing atau pemasaran yang sebenarnya tidak aku mengerti. Rasanya semuanya hanya membuatku semakin bingung. Bertemu dengan orang-orang baru dan menjalin kerjasama bukan sebuah keinginanku. Sebagai seseorang yang tidak tau arah dan tujuan, aku hanya bisa mengikuti alurnya saja. Belajar public speaking, mengejar narasumber, menulis berita, membaca, mengikuti pelatihan, mengatur jadwal, mengejar tugas deadline. Sangat membosankan bukan? Ya, memang sangat membosankan.

Mengenai cerita deadline, aku adalah orang yang paling disiplin. Aku sangat tidak suka ditandai dengan orang yang suka hutang tulisan. Selain itu, aku adalah orang yang sangat penakut, aku takut jika tulisanku tidak bagus, aku takut jika ada kalimat yang salah yang mampu merusak segala tulisan yang sudah kutata rapi, aku takut jika dalam tulisanku ada kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain. Saking takutnya, aku terlalu memperhatikan tulisan tanpa sadar sudah lewat deadline. Hehe…..

Ada seorang teman yang pernah bertanya padaku, “orangtua mu tidak marah atau takut kalau organisasimu ini akan mengganggu perkuliahanmu?”

Baca juga: Jangan Takut Gelap /3/

Dari sekolah menengah pertama, aku sudah mulai mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler dan di sekolah menengah atas pun juga begitu, dan orangtuaku tidak pernah mempermasalahkan nya. Jadi di bangku kuliah ini aku memasuki apa yang menurutku menarik tanpa harus memberitahu orangtua terlebih dulu. Meski sebenarnya aku sering berbohong agar orangtuaku tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Satu tahun sudah aku berada di dalam organisasi ini, dan sampai saat ini belum ada permasalahan sama sekali. Aku sangat berharap hal ini bisa membawa perubahan di keseharianku dan juga di kehidupanku, aku sangat berharap, aku bisa mengetahui siapa aku dan apa tujuan hidupku. Setiap kali aku merasa jenuh, capek dan merasa terbuang, kembali kubuka surat yang entah siapa pengirimnya itu, kupahami isi surat itu kata demi kata. Siapa yang tahu, hanya dengan secarik kertas buram, dengan goresan tinta yang sudah tidak lagi terlihat jelas mampu membuatku kembali bersemangat dan menjalani ceritaku seperti sediakala.

Baca juga: Aku Rindu Pulang Bareng Ayah

Aku sangat ingin si pengirim surat itu membaca tulisanku ini. Aku ingin berterima kasih sebanyak-banyaknya, karena mampu membuatku bertahan sampai saat ini, menjadikanku untuk selalu bersemangat, membuatku merasa diperdulikan, dan membuatku menjadi percaya bahwa aku adalah aku yang mampu melakukan apa yang tidak bisa orang lain lakukan. Terimakasih.

Editor : Yaumi Sa’idah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles